Pada hari minggu yang lalu, saya bertemu seorang teman, orang Indonesia yang sekarang berdomisili di Jerman, yaitu Jo.
Sambil mengadakan acara quick breakfast dan ngobrol ngalor ngidul tentang pengalaman dan suka dukanya beliau hidup di negri nun jauh di mata, beliau juga membawakan titipan saya, yaitu sebuah espressomaker untuk 3 cups dari brand Duerkop.
Setelah quick breakfast, Jo dan saya lalu mampir ke toko Fuji Film di Mal Ciputra untuk melihat hasil cetakan foto-foto beliau sebelum mendarat di Indonesia. Waktu selesai mengambil foto, Jo tiba-tiba nanya: "Apaan nih? Kopi Luwak?" sambil menunjuk kafe ngopi di sebelah toko Fuji Film. Akhirnya kami mampir sebentar untuk ngicipin kopi di kafe ini.
Kafe Kopi Luwak
Mall Ciputra
Lt.1 Unit I
Seingat saya, saya pernah kok mampir di kafe yang sama di Mal Kelapa Gading beberapa waktu yang lalu, sehingga saya pun sudah tau kalo kopi Luwak ini produksi dari pabrik kopi di Semarang.
Siang itu, kami masing-masing mencoba Kalosi Toraja dan Espresso.
Kata pelayannya, minuman kopi Kalosi Toraja ini memakai kopi jenis mild roast dari brand Kopi Luwak, sedangkan Espressonya memakai kopi jenis dark roast dari brand Kopi Luwak.
Yang mengherankan, Jo dan saya berpendapat bahwa rasa dan aroma dari Kalosi Torajanya ini kok hampir sama dengan bumbu kacang untuk rujak. Ini terutama bila Kalosi Toraja nya sudah dingin. Wah...jadi pengen ngerujak nih.
Kalo Espressonya sendiri, saya agak kecewa lah. Cream nya kok gak tebal dan pecah gitu. Tapi, ya dihabisin juga tuh sama Jo.
Harga secangkir kopi di kafe ini cukup masuk akal kok, karena total pengeluaran kami untuk 3 cangkir kopi ini kurang dari Rp. 30.000 lah.
Oh ya, kafe ini juga menjual produk mereka, yaitu bubuk kopi Luwak, Rp 15.000 se pak nya. Tapi semuanya udah di giling. Hmm....sayang banget ya gak ada yg masih dalam bentuk biji.
Akhirnya, pertemuan saya dengan Jo harus berakhir pada siang hari, karena beliau harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum bertemu dengan sang ibu tercinta.
Pengalaman Memakai Duerkop Espresso Maker
Pengalaman saya memakai espressomaker ini cukup memuaskan, karena mampu mempersingkat waktu saya untuk bikin kopi (kopi tubruk) yang biasanya memakan waktu hampir setengah jam (nunggu air mateng, dll) menjadi kurang dari 15 menit.
Kalo mau liat seperti apa bentuk dari espressomakernya, bisa di lihat di website mereka, yaitu:
www.duerkop.com
(Site ini berbahasa jerman, tapi bisa kok dicari versi inggrisnya, lalu klik bagian coffee and tea nya di kanan atas. Setelah masuk ke halaman baru, klik bagian coffee di kiri atas. Setelah muncul alat-alat untuk bikin kopi, langsung aja cari halaman 8 dan liat bagian espressomaker 3 tassen alias espressomaker untuk 3 cangkir…itu dia yang dibawain sama Jo).
Kalo boleh di review secara singkat (ini bagi yg belum pernah tau alat ini), espressomaker ini terbagi dari 3 bagian. Bagian bawah untuk tempat air, bagian tengah berbentuk saringan untuk tempat bubuk kopinya, dan bagian atas untuk tempat menampung air kopinya.
Sebelum dipakai, saya cuci dulu espressomaker ini lalu dipanaskan seperti halnya kita membuat kopi dengan alat ini, tapi tanpa kopinya – hanya dengan air, sebanyak 3 kali untuk mensterilkan alat ini. Ini adalah hal yang disarankan oleh Jo.
OK….sekarang waktunya praktek bikin kopi dengan alat ini.
Setelah saya memasukkan air ke bagian bawah alat ini (takarannya 3/4 dari tempatnya), saya tutup bagian bawah ini dengan bagian tengahnya yaitu saringan berbentuk seperti corong untuk memasukkan air ke botol (apaan ya namanya???). Lalu saya isi saringan ini dengan bubuk kopi (1/2 takaran dari tempatnya) dan menutup agak rapat kedua bagian ini dengan bagian atas, sehingga letak bubuk kopi ada di bagian tengah dalam dari bagian bawah dan bagian atas. Lalu saya panaskan espressomaker ini dengan kompor listrik.
(Sebetulnya Jo menyarankan untuk memanaskan espressomaker ini diatas kompor dengan api kecil agar hasilnya perfecto, tapi karena gak ada kompor biasa di tempat saya tinggal sekarang, ya terpaksalah pake pemanas listrik).
Setelah kira-kira kurang (banget) dari 10 menit, espressomaker ini akan panas dan uap mulai mengepul-ngepul keluar dari corongnya yang menandakan air kopi telah naik ke bagian atas. Tunggu beberapa saat untuk memastikan air kopinya naik semua. Abis itu, ya diangkat dan langsung dituang ke gelas.
Hasilnya ternyata air kopi nya lebih pekat daripada air kopi tubruk. Dan ingat, ketika uap mengepul-ngepul keatas, baunya juga tercium lho. Harum sekali. Wuiiihh!!!
Yang mengagetkan saya adalah ketika espressomaker ini saya buka untuk dicuci, ternyata ampas kopi nya ini kering. Berarti airnya benar-benar naik keatas semuanya tanpa tersisa.
Hanya satu yang saya sesalkan, bahwa bubuk kopi yang saya pakai ternyata terlalu halus untuk espressomaker ini, sehingga sebagian bubuk kopi ada yang ikut naik bersama air kopinya. Ini membuat saya tidak bisa langsung menuang air kopinya ke gelas ketika air kopi telah masak, tapi harus ditunggu sebentar agar bubuk kopi yang ikut naik untuk turun dulu.
Ini berarti espressomaker ini harus dipadankan dengan bubuk kopi yang gilingannya agak kasar ya.
Hemmm, kayaknya mesti beli bubuk kopi baru nih.
Overall, saya puas banget dengan espressomaker ini.
Thanks banget untuk teman saya, Jo, yang ikut andil dalam memberi pencerahan bagi saya tentang kopi.
Theresia Maria Faustina Astrid Amalia — Catholic, Certified Yoga Teacher and CranioSacral Therapist, Author of Tetap Sehat dengan Yoga, Digital Marketing and Communications Coordinator, Researcher, Writer and Blogger. | Other Blogs: globalwidebusiness.blogspot.com and theresiamariafaustina.blogspot.com
27 April 2004
23 April 2004
Coffee Tasting: Kopi Bangka
Beberapa minggu yang lalu, saya dikasi Kopi Bangka oleh Devi yang sedang hamil besar. Si jabang bayi ini kelihatannya bakal melihat dunia beberapa minggu lagi. Saya agak surprise waktu melihat perut buncitnya Devi ini, abis besar banget dan kelihatan penuh sesak…seperti naik bus transjakarta pas jam pulang kantor. Wadaww!!! Tapi, si Devinya senang-senang aja tuh. Maklumlah, anak pertama sih.
Anyway, Devi ini tau banget lah kalo saya ini pecinta kopi. Jadilah dia titip kopi dari daerah asalnya dia, Bangka, untuk di cicipi. Devi bilang, kopi ini di olah di Bangka dengan cara tradisional yang biasa dipakai di kampumg-kampung dengan alat-alat yang sederhana, seperti disangrai diatas tungku tanah liat, dll. Sehingga dia wanti-wanti agar tidak kecewa bila rasanya kurang nendang.
Disini saya akan berbagi tentang cita rasa dari kopi ini, dan juga sambil membandingkan dengan kopi Pontianak yang saya cicipi beberapa waktu yang lalu.
Kopi ini dibungkus oleh kertas coklat yang waktu saya masih SD dulu dipakai untuk sampul buku. Di depan nya, ada stempel merk kopi ini, Kopi Bangka-Sumatra cap Mobil Sedan. Iya....cap mobil sedan....wong ada gambar mobil sedannya tuh. Sebelum kertas coklatnya dibuka, bau dari kopi ini sudah tercium, baunya agak berat di hidung ya. Waktu kertas coklatnya dibuka, di dalamnya ada lapisan plastik yang melindungi kopi agar tidak berceceran bila kertas coklatnya sobek dan mungkin juga untuk menjaga agar aroma kopi ini tidak menguap.
Kalo dilihat dari warna bubuk kopinya, warna kopi Bangka ini lebih gelap daripada kopi Pontianak. Warnamya seperti tanah yang paling subur yaitu humus.
Ketika saya mencium bau kopi Bangka sebelum diseduh, kopi ini bau nya kaya sekali. Ada bau buah-buahannya, ada bau kacang gosong dan ada sedikit bau segernya. Ketika membaui kopi bubuk ini, sepertinya kuping saya turut menari-nari karena adanya bau buah-buahan di bubuk kopi Bangka ini.
Sebelumnya, sekedar perhatian saja, kalo nyium kopi itu harus agak hati-hati, jangan terlampau dekat. Kenapa? Coba aja kalo nyium kopi terlaku dekat, apalagi sambil di-endus-endus, maka serbuk kopi akan sedikit berhamburan dan terbang kemana-mana. Alhasil, baju dan terutama hidung anda akan ada hitam-hitammya. Gak lucu khan.
Ketika saya menyeduh kopi Bangka ini, aroma yang saya cium hampir mirip dengan bau kopi sebelum diseduh. Namun bedanya, bau buah-buahan nya di kopi ini semakin menonjol ketika kopi sudah diseduh selama 3 menit. Tapi kalo nyium baunya lebih daleman dikit, kadang-kadang suka ada bau gosong diantara bau buah-buahannya itu.
Waktu saya meminum kopi Bangka ini, saya merasakan kopi Bangka ini cukup punya karakter di mulut saya. Cita rasa kopi ini mengalir lembut mulai dari dinding atas mulut saya dan lidah bagian atas, lalu turun ke tenggorokan atas, dan mengalir cepat ke tenggorokan dalam. Ketika kopi masih berada di antara dinding atas mulut dan lidah bagian atas, saya bisa merasakan ada rasa bergema di mulut bagian kiri dan kanan, dari satu level ke level lain yang lebih tinggi. Kata temen saya yang juga penggemar kopi, ini ibaratnya ada musik di mulut kita yang dimainkan oleh sebuah orkestra. Jreng...jreng...jreng.... Dari nada pelan naik ke nada cepat. Efek ini mungkin terjadi karena rasa dari kopi Bangka ini semakin lama semakin naik. Mula-mula rasa pahit, lalu naik ke rasa asam dan akhirnya turun lagi ke rasa yang lebih jernih.
Kalo soal keasaman dari kopi ini, asam di kopi ini tidak terlalu dominan sekali. Mungkin boleh dibilang asamnya itu dapat diasosiasikan sebagai rasa segar di kopi ini. Jadi bukan rasa asam yang biasa ditemui di kopi instant yang bisa bikin muka berkerut. Dari sini, saya memperkirakan bahwa kopi Bangka yang saya cicipi ini termasuk kopi robusta berkarakter ringan. Kalau kopi Pontianak yang saya coba beberapa waktu lalu kelihatannya datang dari jenis robusta berkarakter berat.
Rasa dari kopi Bangka ini pas ya di mulut saya. Kombinasi antara pahit yang wajar, diselingi sedikit asam. Bener-bener pas di mulut saya yang doyan kopi tubruk ini.
Kalau soal tingkat kekentalan dari kopi Bangka ini, saya agak kaget dengan apa yang saya lihat. Bubuk kopi nya sih boleh lebih hitam dari kopi Pontianak. Tapi waktu saya tuang ke gelas bening, saya benar-benar kaget dengan warna air kopinya, yaitu hitam jernih dan tidak terlalu pekat. Ini juga terbukti ketika saya campur kopi Bangka ini dengan susu, maka warnanya langsung menjadi coklat muda. Ini beda dengan kopi Pontianak, yang kalo saya campur dengan susu maka hasil akhirnya akan berwarna abu-abu gelap.
Ketika kopi Bangka ini telah masuk ke kerongkongan dalam, rasa akhir di dalam rongga mulutnya itu masih menempel disana agak lama, kira-kira 2 menit. Rasa akhirnya sedikit lebih ringan daripada rasa awal ketika kopi ini baru masuk ke mulut saya.
Secara umum, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa kopi Bangka ini cocok sekali diminum sebagai kopi tubruk. Aromanya yang pas dan kekentalan yang cukup membuat kopi ini agak tidak cocok untuk dicampur susu atau krim. Kalo mau dicampur susu atau krim sih boleh aja, tapi sayang banget deh. Karena hasil seduhan kopi ini tuh sempurna banget sebagai kopi tubruk. Pas di lidah, euy!
Sampai jumpa di pengicipan kopi selanjutnya.
Anyway, Devi ini tau banget lah kalo saya ini pecinta kopi. Jadilah dia titip kopi dari daerah asalnya dia, Bangka, untuk di cicipi. Devi bilang, kopi ini di olah di Bangka dengan cara tradisional yang biasa dipakai di kampumg-kampung dengan alat-alat yang sederhana, seperti disangrai diatas tungku tanah liat, dll. Sehingga dia wanti-wanti agar tidak kecewa bila rasanya kurang nendang.
Disini saya akan berbagi tentang cita rasa dari kopi ini, dan juga sambil membandingkan dengan kopi Pontianak yang saya cicipi beberapa waktu yang lalu.
Kopi ini dibungkus oleh kertas coklat yang waktu saya masih SD dulu dipakai untuk sampul buku. Di depan nya, ada stempel merk kopi ini, Kopi Bangka-Sumatra cap Mobil Sedan. Iya....cap mobil sedan....wong ada gambar mobil sedannya tuh. Sebelum kertas coklatnya dibuka, bau dari kopi ini sudah tercium, baunya agak berat di hidung ya. Waktu kertas coklatnya dibuka, di dalamnya ada lapisan plastik yang melindungi kopi agar tidak berceceran bila kertas coklatnya sobek dan mungkin juga untuk menjaga agar aroma kopi ini tidak menguap.
Kalo dilihat dari warna bubuk kopinya, warna kopi Bangka ini lebih gelap daripada kopi Pontianak. Warnamya seperti tanah yang paling subur yaitu humus.
Ketika saya mencium bau kopi Bangka sebelum diseduh, kopi ini bau nya kaya sekali. Ada bau buah-buahannya, ada bau kacang gosong dan ada sedikit bau segernya. Ketika membaui kopi bubuk ini, sepertinya kuping saya turut menari-nari karena adanya bau buah-buahan di bubuk kopi Bangka ini.
Sebelumnya, sekedar perhatian saja, kalo nyium kopi itu harus agak hati-hati, jangan terlampau dekat. Kenapa? Coba aja kalo nyium kopi terlaku dekat, apalagi sambil di-endus-endus, maka serbuk kopi akan sedikit berhamburan dan terbang kemana-mana. Alhasil, baju dan terutama hidung anda akan ada hitam-hitammya. Gak lucu khan.
Ketika saya menyeduh kopi Bangka ini, aroma yang saya cium hampir mirip dengan bau kopi sebelum diseduh. Namun bedanya, bau buah-buahan nya di kopi ini semakin menonjol ketika kopi sudah diseduh selama 3 menit. Tapi kalo nyium baunya lebih daleman dikit, kadang-kadang suka ada bau gosong diantara bau buah-buahannya itu.
Waktu saya meminum kopi Bangka ini, saya merasakan kopi Bangka ini cukup punya karakter di mulut saya. Cita rasa kopi ini mengalir lembut mulai dari dinding atas mulut saya dan lidah bagian atas, lalu turun ke tenggorokan atas, dan mengalir cepat ke tenggorokan dalam. Ketika kopi masih berada di antara dinding atas mulut dan lidah bagian atas, saya bisa merasakan ada rasa bergema di mulut bagian kiri dan kanan, dari satu level ke level lain yang lebih tinggi. Kata temen saya yang juga penggemar kopi, ini ibaratnya ada musik di mulut kita yang dimainkan oleh sebuah orkestra. Jreng...jreng...jreng.... Dari nada pelan naik ke nada cepat. Efek ini mungkin terjadi karena rasa dari kopi Bangka ini semakin lama semakin naik. Mula-mula rasa pahit, lalu naik ke rasa asam dan akhirnya turun lagi ke rasa yang lebih jernih.
Kalo soal keasaman dari kopi ini, asam di kopi ini tidak terlalu dominan sekali. Mungkin boleh dibilang asamnya itu dapat diasosiasikan sebagai rasa segar di kopi ini. Jadi bukan rasa asam yang biasa ditemui di kopi instant yang bisa bikin muka berkerut. Dari sini, saya memperkirakan bahwa kopi Bangka yang saya cicipi ini termasuk kopi robusta berkarakter ringan. Kalau kopi Pontianak yang saya coba beberapa waktu lalu kelihatannya datang dari jenis robusta berkarakter berat.
Rasa dari kopi Bangka ini pas ya di mulut saya. Kombinasi antara pahit yang wajar, diselingi sedikit asam. Bener-bener pas di mulut saya yang doyan kopi tubruk ini.
Kalau soal tingkat kekentalan dari kopi Bangka ini, saya agak kaget dengan apa yang saya lihat. Bubuk kopi nya sih boleh lebih hitam dari kopi Pontianak. Tapi waktu saya tuang ke gelas bening, saya benar-benar kaget dengan warna air kopinya, yaitu hitam jernih dan tidak terlalu pekat. Ini juga terbukti ketika saya campur kopi Bangka ini dengan susu, maka warnanya langsung menjadi coklat muda. Ini beda dengan kopi Pontianak, yang kalo saya campur dengan susu maka hasil akhirnya akan berwarna abu-abu gelap.
Ketika kopi Bangka ini telah masuk ke kerongkongan dalam, rasa akhir di dalam rongga mulutnya itu masih menempel disana agak lama, kira-kira 2 menit. Rasa akhirnya sedikit lebih ringan daripada rasa awal ketika kopi ini baru masuk ke mulut saya.
Secara umum, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa kopi Bangka ini cocok sekali diminum sebagai kopi tubruk. Aromanya yang pas dan kekentalan yang cukup membuat kopi ini agak tidak cocok untuk dicampur susu atau krim. Kalo mau dicampur susu atau krim sih boleh aja, tapi sayang banget deh. Karena hasil seduhan kopi ini tuh sempurna banget sebagai kopi tubruk. Pas di lidah, euy!
Sampai jumpa di pengicipan kopi selanjutnya.
20 April 2004
Coffee Tasting: Kopi Pontianak
Pada hari Sabtu yang lalu, saya beruntung sekali dapat menghadiri suatu kelas Coffee Cupping di Caswell’s Mom, yaitu kelas untuk belajar mengenai kopi dan cara menikmatinya.
Cara menikmati kopi? Iya!! Menikmati kopi. Ternyata menikmati kopi tidak hanya terbatas dengan cara meminumnya saja, tetapi juga bisa dengan cara menyeruputnya, mencium aromanya sebelum dan sesudah diseduh, melihat kepekatannya, dll. Hampir mirip lah dengan cara wine tasting.
Tentu saja saya tidak bisa menjelaskan secara detail pelajaran Coffee Cupping ini seperti apa, karena terlalu detail sehingga akan membosankan.
Yang saya ingin jelaskan disini adalah praktek saya terhadap pelajaran Coffee Cupping itu di dalam kehidupan sehari-hari saya.
Kebetulan, saya mempunyai kopi yang belum saya hayati secara baik-baik. Kopi ini adalah kopi Pontianak, pemberian dari sahabat saya, Tiur. Tiur memberikan kopi ini ketika saya mengadakan Tur de Kopi beberapa waktu lalu.
Tiur bilang, kopi ini dia beli di Toko Obor yang terletak di Jl. Tanjung Pura, Pontianak. Tapi Tiur tidak tahu apakah ini kopi arabika atau robusta. Wah, sayang sekali ya.
Nah, saya ingin sekali berbagi tentang cita rasa kopi ini sekalian mempraktekkan ilmu yang saya dapat dalam kelas Coffee Cupping yang lalu.
Sebelumnya, review saya tentang kopi ini akan saya lakukan dalam Bahasa Indonesia, jadi jangan heran kalo bahasanya agak ajaib, dan penilaiannya bersifat subyektif.
---------------------------------------------
Kopi Pontianak
Kepekatan menyangrai: Agak pekat, karena warna dari kopi ini seperti tanah, yaitu coklat tua sekali.
Bau kopi sebelum diseduh: Kopi ini kok bau nya sangat lembut sekali, bahkan lebih lembut dari kopi smoothnya SB. Bahkan secara ekstrem, hidung saya merasakan bau tanah kalo menghirup bau kopi ini dekat-dekat. Karakter dari kopi ini juga seperti tanah, yaitu padat dan lembab.
Aroma setelah di seduh: Setelah diseduh pun, seperti halnya ketika belum di seduh, aroma kopi ini tidak terlalu kuat. Jangan-jangan, karakter kopi ini memang soft dan mellow ya.
Keasaman: Kopi ini rasanya agak datar, dimana lidah saya hanya mengecap rasa kopi saja yang agak pahit itu tanpa harus terganggu dengan keasaman yang biasanya menyertai kopi pada umumnya. Karakter seduhan kopi ini juga agak kering di mulut, tipis lah bahasa gaulnya, dan efek rasanya lebih terkonsentrasi di dinding mulut bagian atas.
Rasa: Datar – agak cemplang sedikit - dan pahit, tapi tidak terlalu pahit banget sih dan tidak berbobot berat sehingga tidak membuat wajah saya menyeringai kepahitan.
Tingkat kekentalan: Berat dan pekat, bahkan ketika di campur dengan susu pun masih kelihatan sekali kepekatan kopi ini.
Rasa akhir di dalam rongga mulut: Setelah ditelan melewati tenggorokan, rasa kopi ini hilang dengan cepat.
Pendapat umum: Aroma dari kopi ini biasa saja dan lembut. Tetapi kekentalannya cukup tebal. Sehingga kopi ini rasanya cocok utk peminum yg tidak mementingkan aroma tapi mementingkan ketebalan dan kekentalan kopi. Kopi ini cocok diminum bila di campur susu atau krim. Atau mungkin bagi para pengopi yang perfeksionis, kopi jenis ini dapat di campur dengan jenis kopi lain yang kalah di tingkat kekentalan tapi menang di aromanya, sehingga menciptakan hasil akhir kopi kental yang beraroma kuat.
Cara menikmati kopi? Iya!! Menikmati kopi. Ternyata menikmati kopi tidak hanya terbatas dengan cara meminumnya saja, tetapi juga bisa dengan cara menyeruputnya, mencium aromanya sebelum dan sesudah diseduh, melihat kepekatannya, dll. Hampir mirip lah dengan cara wine tasting.
Tentu saja saya tidak bisa menjelaskan secara detail pelajaran Coffee Cupping ini seperti apa, karena terlalu detail sehingga akan membosankan.
Yang saya ingin jelaskan disini adalah praktek saya terhadap pelajaran Coffee Cupping itu di dalam kehidupan sehari-hari saya.
Kebetulan, saya mempunyai kopi yang belum saya hayati secara baik-baik. Kopi ini adalah kopi Pontianak, pemberian dari sahabat saya, Tiur. Tiur memberikan kopi ini ketika saya mengadakan Tur de Kopi beberapa waktu lalu.
Tiur bilang, kopi ini dia beli di Toko Obor yang terletak di Jl. Tanjung Pura, Pontianak. Tapi Tiur tidak tahu apakah ini kopi arabika atau robusta. Wah, sayang sekali ya.
Nah, saya ingin sekali berbagi tentang cita rasa kopi ini sekalian mempraktekkan ilmu yang saya dapat dalam kelas Coffee Cupping yang lalu.
Sebelumnya, review saya tentang kopi ini akan saya lakukan dalam Bahasa Indonesia, jadi jangan heran kalo bahasanya agak ajaib, dan penilaiannya bersifat subyektif.
---------------------------------------------
Kopi Pontianak
Kepekatan menyangrai: Agak pekat, karena warna dari kopi ini seperti tanah, yaitu coklat tua sekali.
Bau kopi sebelum diseduh: Kopi ini kok bau nya sangat lembut sekali, bahkan lebih lembut dari kopi smoothnya SB. Bahkan secara ekstrem, hidung saya merasakan bau tanah kalo menghirup bau kopi ini dekat-dekat. Karakter dari kopi ini juga seperti tanah, yaitu padat dan lembab.
Aroma setelah di seduh: Setelah diseduh pun, seperti halnya ketika belum di seduh, aroma kopi ini tidak terlalu kuat. Jangan-jangan, karakter kopi ini memang soft dan mellow ya.
Keasaman: Kopi ini rasanya agak datar, dimana lidah saya hanya mengecap rasa kopi saja yang agak pahit itu tanpa harus terganggu dengan keasaman yang biasanya menyertai kopi pada umumnya. Karakter seduhan kopi ini juga agak kering di mulut, tipis lah bahasa gaulnya, dan efek rasanya lebih terkonsentrasi di dinding mulut bagian atas.
Rasa: Datar – agak cemplang sedikit - dan pahit, tapi tidak terlalu pahit banget sih dan tidak berbobot berat sehingga tidak membuat wajah saya menyeringai kepahitan.
Tingkat kekentalan: Berat dan pekat, bahkan ketika di campur dengan susu pun masih kelihatan sekali kepekatan kopi ini.
Rasa akhir di dalam rongga mulut: Setelah ditelan melewati tenggorokan, rasa kopi ini hilang dengan cepat.
Pendapat umum: Aroma dari kopi ini biasa saja dan lembut. Tetapi kekentalannya cukup tebal. Sehingga kopi ini rasanya cocok utk peminum yg tidak mementingkan aroma tapi mementingkan ketebalan dan kekentalan kopi. Kopi ini cocok diminum bila di campur susu atau krim. Atau mungkin bagi para pengopi yang perfeksionis, kopi jenis ini dapat di campur dengan jenis kopi lain yang kalah di tingkat kekentalan tapi menang di aromanya, sehingga menciptakan hasil akhir kopi kental yang beraroma kuat.
21 March 2004
TOUR DE KOPI - 20 Maret 2004
Akhirnya, pada hari Sabtu (20 Maret 2004), saya berhasil merealisasikan mimpi buruk saya….yaitu tour ngopi di seputaran Jakarta. Mimpi buruk ini mampu di realisasikan karena ajakan Imelda waktu acara ketemuan sama Peter Pramono di Resto Ikan Tude. Imelda ini ternyata diam-diam ternyata juga kopi mania
Cuman waktu mau melaksanakan tur ini, saya udah panik duluan. Duh, gak ngebayang deh gimana pusing nya kepala di hantam sama kopi seharian. Lho, padahal saya ini khan meng-klaim diri sendiri sebagai pecinta kopi...gak bisa hidup tuh tanpa kopi sehari saja...ceeeiiileeee....
Tapi apa boleh buat, janji harus ditepati, dan sekalian ngetes seberapa kuat ketahanan tubuh saya terhadap si kopi ini.
Saya dan Imelda janjian untuk ketemu di:
Kedai Kopi Phoenam – Coffee Shop & Restaurant
Jl. KH. Wahid Hasyim No. 88
Jakarta
Tel: 021-3192-4369
Waktu itu, kayaknya saya deh yang pertama kali datang.
Kedai Kopi Phoenam (KKP) ini rupanya memang suasananya sangat kedai sekali. Very simple...sebuah ruangan yang di kasi meja kaca dan kursi rotan. Sangat bersih deh. Ketika kita masuk, di sebelah kanan itu ada meja bar yang berfungsi sebagai receptionist merangkap kasir dan pas disebelah nya itu ternyata dapurnya. Wah...menarik nih.
Ketika saya tanyakan kepada waitress jenis minuman kopi apa saja yang menjadi andalan dan favorit di KKP ini, sang pelayan yang manis itu pun menjawab Kopi Susu Phoenam. Lalu saya pun memesan kopi susu ini sambil menunggu Imelda yang terkena macet. Karena dapurnya yg kelihatan jelas, karena ada di sebelah bangku saya, saya pun dapat melihat proses pembuatan kopi susu yg saya pesan. Kopi Toraja Makassar di seduh dengan air mendidih. Waktu di saring, letak saringan yg mirip kaos kaki itu – saking panjangnya – agak jauh dari gelas tempat menampung air hasil saringan. Proses seperti ini dilakukan bolak balik – bolak-balik disaring – mungkin sampe 4 atau 5 kali. Abis itu kopi yg telah disaring ini dicampur dengan susu kental manis nya Carnation dan hasil adukan kopi dan susu ini di tuang ke gelas lain dengan cara gelas yg berisi kopi dan susu ini diangkat tinggi-tinggi lalu dituang ke gelas lain...persis kayak bikin teh tarik...tapi sekali tuang saja, sehingga menghasilkan kopi susu dengan busa yg banyak dan meriah euyyy!!!!! Busanya persis busa sabun deterjen lho. (Ini berarti teori crema nya Adi si peminum kopi dan si tukang masak gak berlaku ya...)
Rasa dari kopi susu ini sangat enak. Kopinya masih terasa dan terasa sekali kalo manisnya minuman ini berasal dari susu kental manis nya. Busanya itu lho yg bikin kaget.....tebel amat kayak busa deterjen.
Sambil nungguin Imelda, waktu saya melihat sekeliling, ternyata para tamu yg datang ke sana adalah orang-orang – waktu itu laki-laki semua – yg memang mau santai dan duduk ngobrol dengan teman-temannya serta ngopi-ngopi sambil ngomongin soal bisnis. {Gak usah saya kasi tau khan jumlah nominal rupiah yg mereka bicarakan :)))))) }
Jauh lah dari model kedai kopi di mal atau plaza yg most of the guests yg datang kesana itu kemungkinan hanya untuk ’melihat dan dilihat’.
Ketika Imelda datang, dia pun mencoba minuman yg sama. Waktu liat di list menu, ternyata specialties lain dari KKP ini adalah roti bakar. Akhirnya kami memesan juga roti bakar di KKP ini. Kami makan dua roti bakar, tapi yang paling saya ingat adalah Roti Bakar Sardencis. Enak lho....
Secara garis besar, pembuatan roti bakar disini cukup sederhana. Bahan untuk isi, yaitu sarden, di panasin atau dimasak dulu, abis itu ditaruh di atas roti yang sudah dibakar, lalu ditutup roti lagi. Bentuk rotinya mirip roti bakar Eddy lah.
Kami pun sempat ngobrol-ngobrol dengan salah satu pemilik KKP ini, yaitu Pak Afu. (Awalnya sih pake alasan hanya mau menyampaikan titip salam dari Pak Henry Dharmawan yang mau buka cabang KKP ini di Kemayoran. Hehehehe....)
Kata Pak Afu, andalan dari KKP ini memang kopi dan roti bakar. Kopi yg dipakai KKP ini memang kopi Toraja dari Makassar, yg kata beliau belum ada yg ngalahin dalam soal rasa. Di KKP ini ternyata juga menjual – dalam kiloan atau gram - kopi bubuk Toraja (Arabika, Robusta dan special) dan juga teh. Teh dan kopi ini langsung dikirim dari pabrik yang dirahasiakan namanya di Makassar.
Ketika ditanya mengenai konsep dari KKP ini, Pak Afu ternyata lebih senang bila konsep KKP dikategorikan sebagai warung. Wah....humble sekali ya Pak Afu ini.
Ternyata, Pak Afu ini juga tidak segan-segan lho untuk turun tangan melayani para tamu, terutama teman-teman dekatnya. Saya lihat beliau beberapa kali ke dapur hanya untuk membuatkan kopi teman-temannya.
Oh ya, bagi yang udah pusing kena kopi, disini juga tersedia air putih yang free refil dan dibandrol cuma Rp 500 saja.
Overall, makanan dan minuman di KKP ini sangat terjangkau, karena semuanya dibandrol antara Rp 5,000 sampai Rp 12,000. Jadi, kalau memang kita mau minum kopi tapi bukan kopi ala kafe, jadi kopi ala warung tapi udah upgrade dikit, yah tempat ini memang a place to go lah. Tempatnya juga OK kok kalo buat ngobrol, walaupun tempat nya ini tidak semegah cafe-cafe tempat ngopi pada umumnya. Ah, udah lah, ngopi dimana aja OK khan....
KKP ini juga buka cabang di Plaza Mandiri yg di Jl. Gatot Subroto, dan 2 cabang lagi ada di Makassar, yaitu di Ruko Topas dan di Jl. Jampia.
Setelah puas makan dan minum di KKP, kami pun mampir sebentar ke Bakoel Koffie (BK) di Jl. Cikini Raya No. 25, sekedar untuk melihat bentuk dan suasana kedai ini. Tempat nya bagus dan cozy ya, karena di sini anda akan banyak menemukan sofa dan permainan semacam catur, dll. Jadi, kalo lagi bete, bisa kok nyantai sambil main halma di kedai ini. Tapi, coba lihat bangunannya deh....kuno banget, persis seperti bangunan jaman Belanda yang ada di daerah Kota. Wah, unik sekali ya...
Lalu setelah nengok-in BK di Cikini, kami pun bertandang ke BK yang terletak di:
Bakoel Koffie
Jl. Barito II / No. 11 A
Kebayoran Baru
Jakarta
Tel: 021-722-8353
www.bakoelkoffie.com
Sebetulnya, BK yang pengen saya tuju itu yg ada di Jl. Kemang Raya, yaitu BK yg terdiri dari 2 lantai, dan di lantai 2 nya itu kita bisa leyeh-leyeh karena banyak sofa nya. Tapi kok nyasar ke yg di Barito ya. Wah, udah agak pusing kena kopi kali ya. Hehehehehe….. Ternyata, BK yg ada di Barito ini merupakan kantor pusat dari seluruh BK yang ada di Jakarta. Wah, kalo gitu nyasarnya saya OK juga ya.
BK di Barito ini cuma satu lantai (sebetulnya 2 lantai, tapi lantai 2 itu dipakai untuk kantor) dan agak kecil, yah muat 6 atau 7 meja lah ditambah dengan bar kopinya. Di daerah belakang, BK ternyata menyimpan mesin untuk nge-roast biji kopinya. Kata barista disini, hanya beberapa kedai di Jakarta yang punya mesin seperti ini. Mesin nya gede banget. Kita bahkan sempet dikasi tau gimana cara nge roast pake alat ini. Wuih, exciting banget! Simple sih, tapi kalo gak pake feeling, tetep aja gosong jadinya.
BK juga menjual beberapa alat untuk bikin kopi, seperti coffee press, pembuat kopi ala Vietnam, etc. Harganya juga reasonable kok. Saya juga sempet dikasi tau cara bikin kopi Vietnam pake alat yang ada di BK ini. Sekali lagi, exciting banget, udah kayak barista beneran.
Untuk soal kopi, kami di kasi tau oleh barista di BK ini bahwa BK punya 3 macam biji kopi, yaitu Heritage 1969, Black Mist dan Brown Cow.
Heritage 1969 ini, ketika saya cium, aroma nya kuat sekali. Biji kopi ini adalah blend dari kopi yang diambil dari Sumatra Utara yg terkenal dengan aroma nya yang kuat dan kopi yang diambil dari Sumatra Selatan yang terkenal dengan rasanya yang bittersweet.
Brown Cow, ketika saya cium, aromanya agak-agak antara kuat dan mellow. Biji kopi ini adalah blend dari kopi yang diambil dari Sumatra Utara dan Jawa.
Sedangkan Black Mist, di hidung saya kok baunya lembut amat ya. Biji kopi ini adalah blend dari kopi yang diambil dari Sulawesi dan Jawa.
Setelah melihat-lihat papan tulis yg dijadikan sebagai menu, maka saya memilih kopi Turkish, sedangkan Imelda memilih Black Koffie.
Kopi Turkish yang saya pesan adalah kopi Black Mist yang direbus...ya...direbus sama air tentunya, lalu di saring. Ketika masih panas, aroma dari kopi ini tidak tercium dengan jelas. Tapi anehnya, kalo kita sabar menunggu sampai kopi ini dingin, maka aroma nya akan tercium, harum sekali.
Sedangkan Black Koffie-nya Imelda sangat heboh baunya. Kopi yang dipakai adalah Heritage, dan baunya itu lho....harum-harum mengepul di hidung. Wuah...asik banget.
Overall, 2 minuman ini di bandrol seharga Rp 25,000.
Kami juga sempat ngobrol-ngobrol sama yang punya BK ini, yaitu Mas Hendra Widjaja. (Seperti di KKP, awalnya pake alasan mau menyampaikan salam dari Adi si tukang masak yg merupakan reguler guest dari BK ini. Hehehehehe...alasan aja lo Trid!!!!)
Mas Hendra merupakan generasi ke 4 dari keluarga Tek Sun Ho, pendiri BK. BK sendiri didirikan tahun 1878. Duh, jaman dulu banget ya!
Banyak juga yang kami obrol kan. Termasuk tentang asal muasal nama Bakoel Koffie. Ini rupanya berakar dari bakul nya sang mbok-mbok penjual kopi (makanya simbol dari BK adalah mbok-mbok yang lagi manggul bakul) yang termasuk pemasok utama Toko Kopi Tek Sun Ho pada jaman itu yang masih beralamatkan di Jl. Hayam Wiruk di Jakarta. Lalu ejaannya – Bakoel Koffie – yang merupakan ejaan lawas banget yang menandakan bahwa pada jaman itu Belanda masih bercokol. Mmm...interesting ya.
Dari sini juga ternyata Mas Hendra belajar tentang perkopian. Ya itu, dari kecil sudah nemenin bapak ibu serta kakek nenek untuk mengolah kopi. Lama-lama khan pengetahuan dan kesensitifan terhadap kopi bisa makin advanced.
Mas Hendra menerangkan bahwa biji kopi yang dia pakai di BK adalah biji kopi pilihan yang diambil dari pabrik yang namanya di rahasiakan yang merupakan langganan BK ini. Si Mas Hendra ini, walaupun percaya dengan pabrik langganannya ini, ternyata tetap saja mengetes setiap kiriman biji kopi yang datang dengan indra penciuman dan pengecapnya yang sensitif terhadap kopi itu. Dia memang kelihatannya tidak mau main-main dalam urusan kwalitas dari kopi yang dipakai di kedainya. Dan untuk untuk menjaga kualitas dari kopi di BK, Mas Hendra bilang semua biji kopi yang di pakai di BK itu fresh. Dan kira-kira setelah 2 minggu or so, biji kopi yang tidak terpakai akan di singkirkan. Beliau juga keberatan bila kopinya di jual bebas di supermarket. Kata beliau: ”Nanti gak eksklusif lagi dong.”
OK deh.
Saya juga agak impressed ya ketika Mas Hendra bilang bahwa beliau mau mempertahankan BK yang di Cikini karena struktur bagunannya yang masih konstruksi jaman dulu banget. Ketika memutuskan untuk buka BK di sini, beliau bilang bahwa interior maupun eksteriornya masih asli dari bangunan lama, hanya sedikit saja yang diganti, karena beliau ingin mempertahankan ciri asli dari bangunan ini.
Selain di Barito dan Cikini, BK juga buka cabang di Pondok Indah Mall.
Ketika asik ngobrol-ngobrol, tiba-tiba saya dapat telpon dari Tiur yang mau gabung. Akhirnya, setelah Mas Hendra pamit mau ke tempat lain (bete ya, Mas, ngobrol sama 2 orang yg cerewet nanya melulu....heheheheheee.....) dan Tiur sampai di BK, maka kami memutuskan untuk melanjutkan tur ke Tornado Coffee (TC), tempat yang pernah dikunjungi beberapa anggota JS ketika kopdar dengan Tante Lim Kim Soan.
--------> Dalam perjalanan dari BK ke TC, kepala saya kok sudah mumet ya. Wah, efek kopinya mulai muncul nih. Kepalanya sih gak nyut-nyutan banget, tapi kok sedikit cenat-cenut ya? (Lho...apa bedanya sih???)
Jangan-jangan saya kurang minum air putih dan belum makan ya.
Tornado Coffee
Jl. Bangka Raya No. A3
Jakarta
Tel: 021-7179-2662
www.tornadocoffee.com
TC ini terbagi dua, yaitu bagian luar dan dalam. Di bagian luar di teras depan, yaitu beberapa bangku dan meja, bersisian dengan tempat parkir mobil, adalah tempat ngopi bagi para perokok. (Mmm..kayaknya asap rokok bisa bergabung sama asap mobil nih. Hehehehheee.....) Sedangkan yang gak suka asap rokok bisa ngopi di dalam.
Ketika kami sampai di TC, kami langsung di sambut oleh Mas Herson, sang pemilik TC. Memang dari awal saya udah bilang sama beliau bahwa kami-kami ini mau datang, supaya bisa puas ngobrol.
Ketika di persilahkan untuk memesan minuman, saya langsung memesan Tornado Blend rasa Mocha yang merupakan salah satu Cold Specialtiesnya TC. Saya memang waktu itu perlu yang seger-seger, biar mumet 7 kelilingnya hilang. Minuman ini katanya sih house spesialnya TC yang terbuat dari espresso yang diatasnya dikasi whippied cream. Minuman ini seger dan yah....mumet nya sempet hilang sih. Apalagi dapet air putih segelas gede, gratis pula.
Minuman saya ini di bandrol seharga Rp 20,000.
Setelah minuman datang, saya mempersilahkan Imelda dan Tiur untuk meng-interogasi Mas Herson. Kalo saya, cukup sebagai pendengar saja. Walau juga nanya dikit-dikit, sebenarnya saya udah agak familiar dengan isi kuliah nya Mas Herson mengenai kopi. Khan udah pernah liat bareng JS. Oh ya, Mas Herson ini, atas petunjuk dari saya (kayak Pak Harto aja), pernah di wawancarai oleh Women Radio lho untuk topik talk show mereka tentang kopi.
Isi dari interogasi Imelda dan Tiur asik juga sih untuk diikuti. Mulai dari pemilihan nama Tornado. Kenapa? Ya karena Mas Herson ingin nama kedainya di ingat orang dan gak susah untuk di hapal. Lalu Mas Herson juga menerangkan proses pemilihan biji kopi untuk TC dan cara membuat kopi yang baik, termasuk cara bikin kopi waktu musim panas dan musim hujan. Tapi kok saya gak inget ya. Ya itu, mumet nya kambuh lagi tuh.
Pak Herson menerangkan konsep dari TC itu sendiri. Ternyata beliau ini ingin sekali memberikan konsep nyaman dan friendly bagi para tamu yang datang. Jadi konsep TC tidak hanya sebagai tempat beli kopi, tapi juga sebagai tempat untuk kongkow dengan teman, rapat dengan klien bisnis, bekerja bahkan untuk ngelamun. (Yang terakhir ini saya yang nambahin kok. Hehehehehe....). Bahkan beliau juga sempet menceritakan profil dari pelanggan yang sering datang ke TC. Mulai dari para tamu yang datang dengan celana pendek, sampai ada tamu spesial yang katanya kalo datang ke TC itu kayak ngantor aja – dari pagi sampai malam. Jadi orang-orang yg datang ke TC tuh ternyata lebih hapal dengan si tamu spesial ini yang ngantor di TC ini daripada dengan Mas Herson. (Duh, kasian amat, Mas....). Jadi, kata Mas Herson, kalo datang ke TC, di jamin deh gak bakalan diusir kalo duduk ber jam-jam walau cuma mesen segelas kopi.
Mas Herson juga menjelaskan bahwa skill yang dia punya mengenai perkopian itu didapat mulai dari rasa ingin tahunya yang besar mengenai kopi (karena memang beliau suka banget ngopi), lalu mulai belajar sendiri dari ngobrol-ngobrol maupun baca buku, sampai...kalo sekarang...ya itu, dari masukan para pelanggannya yang sering datang ke TC dan banyak ngobrol sama dia.
Di TC ini juga menjual berbagai macam alat pembuat kopi. Tapi waktu saya lihat harganya, wih....mahal rek. Tapi mungkin kualitasnya juga bagus. Well, gak tau deh. Wong gak beli kok.
Sssttt....ada bocoran dari Mas Herson yang bilang kalo TC mau buka cabang di Jl. Kemang Utara. Wah...selamat ya!!!!!
Akhirnya perbincangan yang hangat pun harus diakhiri karena Mas Herson sudah ada janji lain sore itu.
Setelah berembuk kiri-kanan sampe benjol, akhirnya saya dan Imelda sepakat saja ketika Tiur membajak kami ke resto Lang Viet- nya mbak Effie. Iya lah...makan dulu aja....masa' di hajar terus-terusan sama kopi.
Resto Lang Viet
Wijaya Grand Center
Blok F36 / B
Jakarta
Tel: 021-720-6871
Gak susah kok nyari resto Lang Viet (LV) ini. Bagi yang tau Supermarket Cosmo, nah LV ini nih satu kompleks lah sama Cosmo. Apalagi, saya khan numpang mobilnya Tiur. Hehehehhe...
Nah, waktu masuk ke LV, ternyata sudah ada temannya Tiur yang sudah menunggu kami. Duh, kok lupa namanya ya. Pokoknya cantik lah...hehehehee.
Saya juga sejak awal masuk ke LV ini udah ribut sana sini nanyain apakah ada tempat pijet di dalam LV ini. Ini bukan karena kepala saya yang mau pecah lho. Tapi aroma dari LV ini mengingatkan saya pada tempat pijat refleksi langganan saya. Ternyata setelah seladak-selidik kiri dan kanan, saya baru tahu kalo aroma segar nan meng-kalem-kan badan yang saya cium itu berasal dari daun mint yang menjadi salah bahan masakan di LV ini. (Duh Trid, kalo mau pijet mah ke sebelah nya aja...jangan di sini atuh!!)
Di LV ini kami memesan berbagai macam makanan. Tapi saya bener-bener lupa menu yang kita pesan apa saja, karena lupa alias tidak ingat. Ya itu, balik lagi ke masalah mumet nya kepala lantaran dihajar sama kopi seharian. Weleh...weleh...kok ngene yo!!
Jeleknya lagi, di LV ini saya kok malah pesen kopi lagi. Duh...kok gak kapok-kapok ya.
Tapi kok Kopi Viet nya LV ini encer ya?
Tapi beberapa makanan yang kami pesan di LV yang masih saya ingat adalah:
1. Salad Mangga Muda – wah....mangganya bener-bener muda, cocok sekali buat ngerujak atau buat para ibu-ibu hamil yang sedang ngidam. Tapi memang rupa dan rasanya kayak rujak serut tuh.
2. Lumpia – nah, yang ini ada 2 atau 3 macam lumpia dalam satu piring. Kalo gak salah, yang satu direbus dan yang lainnya di goreng. Enak kok. Tapi inget, beda lumpia, beda saosnya lho. Jadi, saosnya ya ada 2 atau 3 juga. Saya bener-bener lupa isi lumpia nya apa, wong kepala sudah mau pecah tuh. Tapi pokoknya, rasanya enak kok.
3. Dessert yang namanya Xu Xe – kalo gak salah ini kayak kue ketan yang di isi dengan parutan kepala yg dikasi gula merah yang di masak di dalam daun. Wuah...baunya harum lho, bau nya daun. Hmmm.... Kalo udah ber ehm ehm gini gak usah dikasi tau kayak apa khan rasanya. Saya sempet juga bercanda sama mbak Effie, kalo namanya kue ini Xu Xe, makannya juga Xu Xe deh alias suseh..... Hehehehhee... Abis ribet amat. Sayang banget sama daunnya yang cantik. Lho kok bisa gitu? Penasaran khan? Ya udah...pada ke sini aja.
Mbak Effie sang GM nya LV sempat menemui kami. Beliau sempat minta maaf soal kopi Viet nya yang salah bikin. Dia pun baru tahu cara bikinnya kopi ini dari seorang tamu bule yang duduk di sebelah meja kami. Tapi kami ngerti kok, khan LV ini baru buka. Jadi cincay lah. Asal next time better aja.
Mbak Effie juga sempat menunjukkan kepada kami beberapa isi perut dari LV. Mulai dari daun-daun segar yang mereka pakai dalam memasak, kulit lumpia yang bentuknya bagus kayak tiker, dll. Beliau juga menunjukkan dapur tempat memasak dan lantai 2 dan 3 dari LV ini. Lantai 1 dan 2 memang dipakai untuk resto, sedangkan lantai 3 dipakai sebagai gallery untuk tempat display barang-barang Vietnam yang akan di jual dan sebagai tempat baca. Barang-barang yang dijual itu macam-macam, mulai dari tas, sandal, serbet, taplak, dll yang semuanya diambil dari Vietnam. Sedangkan lantai 4 dipakai sebagai kantor.
Pelayan di LV ini terutama para ibu tukang masaknya sangat ramah sekali. Mereka akan sangat senang sekali bila kita melihat-lihat dapur mereka. Mereka dengan senang hati menerangkan bahan apa saja yang dipakai waktu memasak. Hmmm....jadi kepikiran untuk belajar masak sama mereka. Bahkan saya sempat beberapa kali bercanda dengan mereka. Kata mbak Effie, mereka-mereka ini adalah orang yang sudah ikut bekerja bertahun-tahun dengan pemilik LV ini.
Mbak Effie juga sempet-sempet nya nunjukkin salah satu keajaiban yang ada di resto ini. Yaitu meja bercorak naga. Wah...temen gue dong. Khan gue shio naga. Jadi waktu itu, lampu ruangan dimatiin, lalu lampu di meja di nyalain...kelihatan deh naganya. Meja yang mana? Nah, liat aja sendiri ya.
Saya berjanji, pasti akan ke LV lagi deh. Tentunya dengan kondisi yang lebih baik lagi, yaitu belum teracuni kopi dan teman-teman sebangsanya.
Paling tidak, saya belajar satu hal lah. Gila kopi sih OK-OK aja, asal tau diri. Kalo di suruh bikin tour ngopi lagi....wah....ayo aja sih, tapi paling tidak persiapan mental, jiwa dan perbekalannya mesti mateng dulu lah. Kalo enggak, wah....nanti kepala bisa pecah lagi!!!!
Alhasil, saya lemas dan tidak bisa tidur semalaman. Kasian deh gue!!!!
Tapi memang, kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa kandungan kopi yang dibikin di cafe-cafe bisa lebih tinggi kadar caffeine-nya dibanding dengan kandungan kopi yang di bikin di rumahan. Ini terbukti bahwa kalo di rumah atau kantor, saya harus minum 6 gelas kopi dulu, baru feel OK. Nah, begitu nyoba ngopi di kafe, baru 3 gelas aja udah mulai cenat-cenut.
BTW, lately, ketika saya belanja di StarMart yang ada di gedung kantor saya, saya sempat melihat kopi Warung Tinggi. Disana tercantum bahwa ini kopinya Tek Sun Ho sejak 1878. Hah??? BK dong?
Lalu ketika saya konfirmasikan ini kepada Mas Hendra, beliau mengamini bahwa kopi Warung Tinggi itu pemiliknya masih satu keluarga, masih generasi ke 3, Om nya lah kalo di hitung-hitung dalam urutan keluarga beliau. Dan memang kopi ini di produksi secara massal untuk di jual di pasar swalayan. Dan kalo soal rasa antara kopi Warung Tinggi dengan kopi di BK, Mas Hendra bilang: ”Silahkan di coba dan di bandingkan.”
Wah....mantaaaapppp jek!!!!!!
Salam ngopi,
Astrid
For any comment or question, please send email to: astrid-amalia@angelfire.com
Cuman waktu mau melaksanakan tur ini, saya udah panik duluan. Duh, gak ngebayang deh gimana pusing nya kepala di hantam sama kopi seharian. Lho, padahal saya ini khan meng-klaim diri sendiri sebagai pecinta kopi...gak bisa hidup tuh tanpa kopi sehari saja...ceeeiiileeee....
Tapi apa boleh buat, janji harus ditepati, dan sekalian ngetes seberapa kuat ketahanan tubuh saya terhadap si kopi ini.
Saya dan Imelda janjian untuk ketemu di:
Kedai Kopi Phoenam – Coffee Shop & Restaurant
Jl. KH. Wahid Hasyim No. 88
Jakarta
Tel: 021-3192-4369
Waktu itu, kayaknya saya deh yang pertama kali datang.
Kedai Kopi Phoenam (KKP) ini rupanya memang suasananya sangat kedai sekali. Very simple...sebuah ruangan yang di kasi meja kaca dan kursi rotan. Sangat bersih deh. Ketika kita masuk, di sebelah kanan itu ada meja bar yang berfungsi sebagai receptionist merangkap kasir dan pas disebelah nya itu ternyata dapurnya. Wah...menarik nih.
Ketika saya tanyakan kepada waitress jenis minuman kopi apa saja yang menjadi andalan dan favorit di KKP ini, sang pelayan yang manis itu pun menjawab Kopi Susu Phoenam. Lalu saya pun memesan kopi susu ini sambil menunggu Imelda yang terkena macet. Karena dapurnya yg kelihatan jelas, karena ada di sebelah bangku saya, saya pun dapat melihat proses pembuatan kopi susu yg saya pesan. Kopi Toraja Makassar di seduh dengan air mendidih. Waktu di saring, letak saringan yg mirip kaos kaki itu – saking panjangnya – agak jauh dari gelas tempat menampung air hasil saringan. Proses seperti ini dilakukan bolak balik – bolak-balik disaring – mungkin sampe 4 atau 5 kali. Abis itu kopi yg telah disaring ini dicampur dengan susu kental manis nya Carnation dan hasil adukan kopi dan susu ini di tuang ke gelas lain dengan cara gelas yg berisi kopi dan susu ini diangkat tinggi-tinggi lalu dituang ke gelas lain...persis kayak bikin teh tarik...tapi sekali tuang saja, sehingga menghasilkan kopi susu dengan busa yg banyak dan meriah euyyy!!!!! Busanya persis busa sabun deterjen lho. (Ini berarti teori crema nya Adi si peminum kopi dan si tukang masak gak berlaku ya...)
Rasa dari kopi susu ini sangat enak. Kopinya masih terasa dan terasa sekali kalo manisnya minuman ini berasal dari susu kental manis nya. Busanya itu lho yg bikin kaget.....tebel amat kayak busa deterjen.
Sambil nungguin Imelda, waktu saya melihat sekeliling, ternyata para tamu yg datang ke sana adalah orang-orang – waktu itu laki-laki semua – yg memang mau santai dan duduk ngobrol dengan teman-temannya serta ngopi-ngopi sambil ngomongin soal bisnis. {Gak usah saya kasi tau khan jumlah nominal rupiah yg mereka bicarakan :)))))) }
Jauh lah dari model kedai kopi di mal atau plaza yg most of the guests yg datang kesana itu kemungkinan hanya untuk ’melihat dan dilihat’.
Ketika Imelda datang, dia pun mencoba minuman yg sama. Waktu liat di list menu, ternyata specialties lain dari KKP ini adalah roti bakar. Akhirnya kami memesan juga roti bakar di KKP ini. Kami makan dua roti bakar, tapi yang paling saya ingat adalah Roti Bakar Sardencis. Enak lho....
Secara garis besar, pembuatan roti bakar disini cukup sederhana. Bahan untuk isi, yaitu sarden, di panasin atau dimasak dulu, abis itu ditaruh di atas roti yang sudah dibakar, lalu ditutup roti lagi. Bentuk rotinya mirip roti bakar Eddy lah.
Kami pun sempat ngobrol-ngobrol dengan salah satu pemilik KKP ini, yaitu Pak Afu. (Awalnya sih pake alasan hanya mau menyampaikan titip salam dari Pak Henry Dharmawan yang mau buka cabang KKP ini di Kemayoran. Hehehehe....)
Kata Pak Afu, andalan dari KKP ini memang kopi dan roti bakar. Kopi yg dipakai KKP ini memang kopi Toraja dari Makassar, yg kata beliau belum ada yg ngalahin dalam soal rasa. Di KKP ini ternyata juga menjual – dalam kiloan atau gram - kopi bubuk Toraja (Arabika, Robusta dan special) dan juga teh. Teh dan kopi ini langsung dikirim dari pabrik yang dirahasiakan namanya di Makassar.
Ketika ditanya mengenai konsep dari KKP ini, Pak Afu ternyata lebih senang bila konsep KKP dikategorikan sebagai warung. Wah....humble sekali ya Pak Afu ini.
Ternyata, Pak Afu ini juga tidak segan-segan lho untuk turun tangan melayani para tamu, terutama teman-teman dekatnya. Saya lihat beliau beberapa kali ke dapur hanya untuk membuatkan kopi teman-temannya.
Oh ya, bagi yang udah pusing kena kopi, disini juga tersedia air putih yang free refil dan dibandrol cuma Rp 500 saja.
Overall, makanan dan minuman di KKP ini sangat terjangkau, karena semuanya dibandrol antara Rp 5,000 sampai Rp 12,000. Jadi, kalau memang kita mau minum kopi tapi bukan kopi ala kafe, jadi kopi ala warung tapi udah upgrade dikit, yah tempat ini memang a place to go lah. Tempatnya juga OK kok kalo buat ngobrol, walaupun tempat nya ini tidak semegah cafe-cafe tempat ngopi pada umumnya. Ah, udah lah, ngopi dimana aja OK khan....
KKP ini juga buka cabang di Plaza Mandiri yg di Jl. Gatot Subroto, dan 2 cabang lagi ada di Makassar, yaitu di Ruko Topas dan di Jl. Jampia.
Setelah puas makan dan minum di KKP, kami pun mampir sebentar ke Bakoel Koffie (BK) di Jl. Cikini Raya No. 25, sekedar untuk melihat bentuk dan suasana kedai ini. Tempat nya bagus dan cozy ya, karena di sini anda akan banyak menemukan sofa dan permainan semacam catur, dll. Jadi, kalo lagi bete, bisa kok nyantai sambil main halma di kedai ini. Tapi, coba lihat bangunannya deh....kuno banget, persis seperti bangunan jaman Belanda yang ada di daerah Kota. Wah, unik sekali ya...
Lalu setelah nengok-in BK di Cikini, kami pun bertandang ke BK yang terletak di:
Bakoel Koffie
Jl. Barito II / No. 11 A
Kebayoran Baru
Jakarta
Tel: 021-722-8353
www.bakoelkoffie.com
Sebetulnya, BK yang pengen saya tuju itu yg ada di Jl. Kemang Raya, yaitu BK yg terdiri dari 2 lantai, dan di lantai 2 nya itu kita bisa leyeh-leyeh karena banyak sofa nya. Tapi kok nyasar ke yg di Barito ya. Wah, udah agak pusing kena kopi kali ya. Hehehehehe….. Ternyata, BK yg ada di Barito ini merupakan kantor pusat dari seluruh BK yang ada di Jakarta. Wah, kalo gitu nyasarnya saya OK juga ya.
BK di Barito ini cuma satu lantai (sebetulnya 2 lantai, tapi lantai 2 itu dipakai untuk kantor) dan agak kecil, yah muat 6 atau 7 meja lah ditambah dengan bar kopinya. Di daerah belakang, BK ternyata menyimpan mesin untuk nge-roast biji kopinya. Kata barista disini, hanya beberapa kedai di Jakarta yang punya mesin seperti ini. Mesin nya gede banget. Kita bahkan sempet dikasi tau gimana cara nge roast pake alat ini. Wuih, exciting banget! Simple sih, tapi kalo gak pake feeling, tetep aja gosong jadinya.
BK juga menjual beberapa alat untuk bikin kopi, seperti coffee press, pembuat kopi ala Vietnam, etc. Harganya juga reasonable kok. Saya juga sempet dikasi tau cara bikin kopi Vietnam pake alat yang ada di BK ini. Sekali lagi, exciting banget, udah kayak barista beneran.
Untuk soal kopi, kami di kasi tau oleh barista di BK ini bahwa BK punya 3 macam biji kopi, yaitu Heritage 1969, Black Mist dan Brown Cow.
Heritage 1969 ini, ketika saya cium, aroma nya kuat sekali. Biji kopi ini adalah blend dari kopi yang diambil dari Sumatra Utara yg terkenal dengan aroma nya yang kuat dan kopi yang diambil dari Sumatra Selatan yang terkenal dengan rasanya yang bittersweet.
Brown Cow, ketika saya cium, aromanya agak-agak antara kuat dan mellow. Biji kopi ini adalah blend dari kopi yang diambil dari Sumatra Utara dan Jawa.
Sedangkan Black Mist, di hidung saya kok baunya lembut amat ya. Biji kopi ini adalah blend dari kopi yang diambil dari Sulawesi dan Jawa.
Setelah melihat-lihat papan tulis yg dijadikan sebagai menu, maka saya memilih kopi Turkish, sedangkan Imelda memilih Black Koffie.
Kopi Turkish yang saya pesan adalah kopi Black Mist yang direbus...ya...direbus sama air tentunya, lalu di saring. Ketika masih panas, aroma dari kopi ini tidak tercium dengan jelas. Tapi anehnya, kalo kita sabar menunggu sampai kopi ini dingin, maka aroma nya akan tercium, harum sekali.
Sedangkan Black Koffie-nya Imelda sangat heboh baunya. Kopi yang dipakai adalah Heritage, dan baunya itu lho....harum-harum mengepul di hidung. Wuah...asik banget.
Overall, 2 minuman ini di bandrol seharga Rp 25,000.
Kami juga sempat ngobrol-ngobrol sama yang punya BK ini, yaitu Mas Hendra Widjaja. (Seperti di KKP, awalnya pake alasan mau menyampaikan salam dari Adi si tukang masak yg merupakan reguler guest dari BK ini. Hehehehehe...alasan aja lo Trid!!!!)
Mas Hendra merupakan generasi ke 4 dari keluarga Tek Sun Ho, pendiri BK. BK sendiri didirikan tahun 1878. Duh, jaman dulu banget ya!
Banyak juga yang kami obrol kan. Termasuk tentang asal muasal nama Bakoel Koffie. Ini rupanya berakar dari bakul nya sang mbok-mbok penjual kopi (makanya simbol dari BK adalah mbok-mbok yang lagi manggul bakul) yang termasuk pemasok utama Toko Kopi Tek Sun Ho pada jaman itu yang masih beralamatkan di Jl. Hayam Wiruk di Jakarta. Lalu ejaannya – Bakoel Koffie – yang merupakan ejaan lawas banget yang menandakan bahwa pada jaman itu Belanda masih bercokol. Mmm...interesting ya.
Dari sini juga ternyata Mas Hendra belajar tentang perkopian. Ya itu, dari kecil sudah nemenin bapak ibu serta kakek nenek untuk mengolah kopi. Lama-lama khan pengetahuan dan kesensitifan terhadap kopi bisa makin advanced.
Mas Hendra menerangkan bahwa biji kopi yang dia pakai di BK adalah biji kopi pilihan yang diambil dari pabrik yang namanya di rahasiakan yang merupakan langganan BK ini. Si Mas Hendra ini, walaupun percaya dengan pabrik langganannya ini, ternyata tetap saja mengetes setiap kiriman biji kopi yang datang dengan indra penciuman dan pengecapnya yang sensitif terhadap kopi itu. Dia memang kelihatannya tidak mau main-main dalam urusan kwalitas dari kopi yang dipakai di kedainya. Dan untuk untuk menjaga kualitas dari kopi di BK, Mas Hendra bilang semua biji kopi yang di pakai di BK itu fresh. Dan kira-kira setelah 2 minggu or so, biji kopi yang tidak terpakai akan di singkirkan. Beliau juga keberatan bila kopinya di jual bebas di supermarket. Kata beliau: ”Nanti gak eksklusif lagi dong.”
OK deh.
Saya juga agak impressed ya ketika Mas Hendra bilang bahwa beliau mau mempertahankan BK yang di Cikini karena struktur bagunannya yang masih konstruksi jaman dulu banget. Ketika memutuskan untuk buka BK di sini, beliau bilang bahwa interior maupun eksteriornya masih asli dari bangunan lama, hanya sedikit saja yang diganti, karena beliau ingin mempertahankan ciri asli dari bangunan ini.
Selain di Barito dan Cikini, BK juga buka cabang di Pondok Indah Mall.
Ketika asik ngobrol-ngobrol, tiba-tiba saya dapat telpon dari Tiur yang mau gabung. Akhirnya, setelah Mas Hendra pamit mau ke tempat lain (bete ya, Mas, ngobrol sama 2 orang yg cerewet nanya melulu....heheheheheee.....) dan Tiur sampai di BK, maka kami memutuskan untuk melanjutkan tur ke Tornado Coffee (TC), tempat yang pernah dikunjungi beberapa anggota JS ketika kopdar dengan Tante Lim Kim Soan.
--------> Dalam perjalanan dari BK ke TC, kepala saya kok sudah mumet ya. Wah, efek kopinya mulai muncul nih. Kepalanya sih gak nyut-nyutan banget, tapi kok sedikit cenat-cenut ya? (Lho...apa bedanya sih???)
Jangan-jangan saya kurang minum air putih dan belum makan ya.
Tornado Coffee
Jl. Bangka Raya No. A3
Jakarta
Tel: 021-7179-2662
www.tornadocoffee.com
TC ini terbagi dua, yaitu bagian luar dan dalam. Di bagian luar di teras depan, yaitu beberapa bangku dan meja, bersisian dengan tempat parkir mobil, adalah tempat ngopi bagi para perokok. (Mmm..kayaknya asap rokok bisa bergabung sama asap mobil nih. Hehehehheee.....) Sedangkan yang gak suka asap rokok bisa ngopi di dalam.
Ketika kami sampai di TC, kami langsung di sambut oleh Mas Herson, sang pemilik TC. Memang dari awal saya udah bilang sama beliau bahwa kami-kami ini mau datang, supaya bisa puas ngobrol.
Ketika di persilahkan untuk memesan minuman, saya langsung memesan Tornado Blend rasa Mocha yang merupakan salah satu Cold Specialtiesnya TC. Saya memang waktu itu perlu yang seger-seger, biar mumet 7 kelilingnya hilang. Minuman ini katanya sih house spesialnya TC yang terbuat dari espresso yang diatasnya dikasi whippied cream. Minuman ini seger dan yah....mumet nya sempet hilang sih. Apalagi dapet air putih segelas gede, gratis pula.
Minuman saya ini di bandrol seharga Rp 20,000.
Setelah minuman datang, saya mempersilahkan Imelda dan Tiur untuk meng-interogasi Mas Herson. Kalo saya, cukup sebagai pendengar saja. Walau juga nanya dikit-dikit, sebenarnya saya udah agak familiar dengan isi kuliah nya Mas Herson mengenai kopi. Khan udah pernah liat bareng JS. Oh ya, Mas Herson ini, atas petunjuk dari saya (kayak Pak Harto aja), pernah di wawancarai oleh Women Radio lho untuk topik talk show mereka tentang kopi.
Isi dari interogasi Imelda dan Tiur asik juga sih untuk diikuti. Mulai dari pemilihan nama Tornado. Kenapa? Ya karena Mas Herson ingin nama kedainya di ingat orang dan gak susah untuk di hapal. Lalu Mas Herson juga menerangkan proses pemilihan biji kopi untuk TC dan cara membuat kopi yang baik, termasuk cara bikin kopi waktu musim panas dan musim hujan. Tapi kok saya gak inget ya. Ya itu, mumet nya kambuh lagi tuh.
Pak Herson menerangkan konsep dari TC itu sendiri. Ternyata beliau ini ingin sekali memberikan konsep nyaman dan friendly bagi para tamu yang datang. Jadi konsep TC tidak hanya sebagai tempat beli kopi, tapi juga sebagai tempat untuk kongkow dengan teman, rapat dengan klien bisnis, bekerja bahkan untuk ngelamun. (Yang terakhir ini saya yang nambahin kok. Hehehehehe....). Bahkan beliau juga sempet menceritakan profil dari pelanggan yang sering datang ke TC. Mulai dari para tamu yang datang dengan celana pendek, sampai ada tamu spesial yang katanya kalo datang ke TC itu kayak ngantor aja – dari pagi sampai malam. Jadi orang-orang yg datang ke TC tuh ternyata lebih hapal dengan si tamu spesial ini yang ngantor di TC ini daripada dengan Mas Herson. (Duh, kasian amat, Mas....). Jadi, kata Mas Herson, kalo datang ke TC, di jamin deh gak bakalan diusir kalo duduk ber jam-jam walau cuma mesen segelas kopi.
Mas Herson juga menjelaskan bahwa skill yang dia punya mengenai perkopian itu didapat mulai dari rasa ingin tahunya yang besar mengenai kopi (karena memang beliau suka banget ngopi), lalu mulai belajar sendiri dari ngobrol-ngobrol maupun baca buku, sampai...kalo sekarang...ya itu, dari masukan para pelanggannya yang sering datang ke TC dan banyak ngobrol sama dia.
Di TC ini juga menjual berbagai macam alat pembuat kopi. Tapi waktu saya lihat harganya, wih....mahal rek. Tapi mungkin kualitasnya juga bagus. Well, gak tau deh. Wong gak beli kok.
Sssttt....ada bocoran dari Mas Herson yang bilang kalo TC mau buka cabang di Jl. Kemang Utara. Wah...selamat ya!!!!!
Akhirnya perbincangan yang hangat pun harus diakhiri karena Mas Herson sudah ada janji lain sore itu.
Setelah berembuk kiri-kanan sampe benjol, akhirnya saya dan Imelda sepakat saja ketika Tiur membajak kami ke resto Lang Viet- nya mbak Effie. Iya lah...makan dulu aja....masa' di hajar terus-terusan sama kopi.
Resto Lang Viet
Wijaya Grand Center
Blok F36 / B
Jakarta
Tel: 021-720-6871
Gak susah kok nyari resto Lang Viet (LV) ini. Bagi yang tau Supermarket Cosmo, nah LV ini nih satu kompleks lah sama Cosmo. Apalagi, saya khan numpang mobilnya Tiur. Hehehehhe...
Nah, waktu masuk ke LV, ternyata sudah ada temannya Tiur yang sudah menunggu kami. Duh, kok lupa namanya ya. Pokoknya cantik lah...hehehehee.
Saya juga sejak awal masuk ke LV ini udah ribut sana sini nanyain apakah ada tempat pijet di dalam LV ini. Ini bukan karena kepala saya yang mau pecah lho. Tapi aroma dari LV ini mengingatkan saya pada tempat pijat refleksi langganan saya. Ternyata setelah seladak-selidik kiri dan kanan, saya baru tahu kalo aroma segar nan meng-kalem-kan badan yang saya cium itu berasal dari daun mint yang menjadi salah bahan masakan di LV ini. (Duh Trid, kalo mau pijet mah ke sebelah nya aja...jangan di sini atuh!!)
Di LV ini kami memesan berbagai macam makanan. Tapi saya bener-bener lupa menu yang kita pesan apa saja, karena lupa alias tidak ingat. Ya itu, balik lagi ke masalah mumet nya kepala lantaran dihajar sama kopi seharian. Weleh...weleh...kok ngene yo!!
Jeleknya lagi, di LV ini saya kok malah pesen kopi lagi. Duh...kok gak kapok-kapok ya.
Tapi kok Kopi Viet nya LV ini encer ya?
Tapi beberapa makanan yang kami pesan di LV yang masih saya ingat adalah:
1. Salad Mangga Muda – wah....mangganya bener-bener muda, cocok sekali buat ngerujak atau buat para ibu-ibu hamil yang sedang ngidam. Tapi memang rupa dan rasanya kayak rujak serut tuh.
2. Lumpia – nah, yang ini ada 2 atau 3 macam lumpia dalam satu piring. Kalo gak salah, yang satu direbus dan yang lainnya di goreng. Enak kok. Tapi inget, beda lumpia, beda saosnya lho. Jadi, saosnya ya ada 2 atau 3 juga. Saya bener-bener lupa isi lumpia nya apa, wong kepala sudah mau pecah tuh. Tapi pokoknya, rasanya enak kok.
3. Dessert yang namanya Xu Xe – kalo gak salah ini kayak kue ketan yang di isi dengan parutan kepala yg dikasi gula merah yang di masak di dalam daun. Wuah...baunya harum lho, bau nya daun. Hmmm.... Kalo udah ber ehm ehm gini gak usah dikasi tau kayak apa khan rasanya. Saya sempet juga bercanda sama mbak Effie, kalo namanya kue ini Xu Xe, makannya juga Xu Xe deh alias suseh..... Hehehehhee... Abis ribet amat. Sayang banget sama daunnya yang cantik. Lho kok bisa gitu? Penasaran khan? Ya udah...pada ke sini aja.
Mbak Effie sang GM nya LV sempat menemui kami. Beliau sempat minta maaf soal kopi Viet nya yang salah bikin. Dia pun baru tahu cara bikinnya kopi ini dari seorang tamu bule yang duduk di sebelah meja kami. Tapi kami ngerti kok, khan LV ini baru buka. Jadi cincay lah. Asal next time better aja.
Mbak Effie juga sempat menunjukkan kepada kami beberapa isi perut dari LV. Mulai dari daun-daun segar yang mereka pakai dalam memasak, kulit lumpia yang bentuknya bagus kayak tiker, dll. Beliau juga menunjukkan dapur tempat memasak dan lantai 2 dan 3 dari LV ini. Lantai 1 dan 2 memang dipakai untuk resto, sedangkan lantai 3 dipakai sebagai gallery untuk tempat display barang-barang Vietnam yang akan di jual dan sebagai tempat baca. Barang-barang yang dijual itu macam-macam, mulai dari tas, sandal, serbet, taplak, dll yang semuanya diambil dari Vietnam. Sedangkan lantai 4 dipakai sebagai kantor.
Pelayan di LV ini terutama para ibu tukang masaknya sangat ramah sekali. Mereka akan sangat senang sekali bila kita melihat-lihat dapur mereka. Mereka dengan senang hati menerangkan bahan apa saja yang dipakai waktu memasak. Hmmm....jadi kepikiran untuk belajar masak sama mereka. Bahkan saya sempat beberapa kali bercanda dengan mereka. Kata mbak Effie, mereka-mereka ini adalah orang yang sudah ikut bekerja bertahun-tahun dengan pemilik LV ini.
Mbak Effie juga sempet-sempet nya nunjukkin salah satu keajaiban yang ada di resto ini. Yaitu meja bercorak naga. Wah...temen gue dong. Khan gue shio naga. Jadi waktu itu, lampu ruangan dimatiin, lalu lampu di meja di nyalain...kelihatan deh naganya. Meja yang mana? Nah, liat aja sendiri ya.
Saya berjanji, pasti akan ke LV lagi deh. Tentunya dengan kondisi yang lebih baik lagi, yaitu belum teracuni kopi dan teman-teman sebangsanya.
Paling tidak, saya belajar satu hal lah. Gila kopi sih OK-OK aja, asal tau diri. Kalo di suruh bikin tour ngopi lagi....wah....ayo aja sih, tapi paling tidak persiapan mental, jiwa dan perbekalannya mesti mateng dulu lah. Kalo enggak, wah....nanti kepala bisa pecah lagi!!!!
Alhasil, saya lemas dan tidak bisa tidur semalaman. Kasian deh gue!!!!
Tapi memang, kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa kandungan kopi yang dibikin di cafe-cafe bisa lebih tinggi kadar caffeine-nya dibanding dengan kandungan kopi yang di bikin di rumahan. Ini terbukti bahwa kalo di rumah atau kantor, saya harus minum 6 gelas kopi dulu, baru feel OK. Nah, begitu nyoba ngopi di kafe, baru 3 gelas aja udah mulai cenat-cenut.
BTW, lately, ketika saya belanja di StarMart yang ada di gedung kantor saya, saya sempat melihat kopi Warung Tinggi. Disana tercantum bahwa ini kopinya Tek Sun Ho sejak 1878. Hah??? BK dong?
Lalu ketika saya konfirmasikan ini kepada Mas Hendra, beliau mengamini bahwa kopi Warung Tinggi itu pemiliknya masih satu keluarga, masih generasi ke 3, Om nya lah kalo di hitung-hitung dalam urutan keluarga beliau. Dan memang kopi ini di produksi secara massal untuk di jual di pasar swalayan. Dan kalo soal rasa antara kopi Warung Tinggi dengan kopi di BK, Mas Hendra bilang: ”Silahkan di coba dan di bandingkan.”
Wah....mantaaaapppp jek!!!!!!
Salam ngopi,
Astrid
For any comment or question, please send email to: astrid-amalia@angelfire.com
18 March 2004
RESTO CILANTRO - WISMA BNI'46
Cilantro!! Saya akhirnya berkesempatan juga nih makan-makan di Cilantro yang berlokasi di:
Wisma BNI 46, lantai 46
Jl. Jend Sudirman Kav. 1
Jakarta
Tel: 021-251-2822
Web: www.cilantro.co.id
Dulu, lantai 46 ini di ’duduki’ oleh Jakarta American Club (JAC), yang gak tau kenapa tiba-tiba tutup dan diganti oleh Resto Cilantro ini. Ketika saya tanyakan ke receptionist, ternyata JAC sudah pindah ke lantai 4 gedung yang sama.
Ketika saya masuk ke lantai 46 menuju Resto Cilantronya, saya rasa interiornya gak ada yang berubah dari jaman masih di miliki oleh JAC sampai berubah menjadi Resto Cilantro. Interiornya masih elite dan minimalis, bahkan detilnya hampir sama.
Saya pikir, sangat beruntunglah sang pemilik Cilantro ini yang kesannya beliau ini tinggal masuk aja dan ngebawa makanan nya ke tempat yang memang udah ready-to-go. (Maaf...ini pendapat pribadi lho).
Ketika datang ke meja yang telah di pesan oleh Bayu, yang baru hadir ternyata Rusmin. Pada saat itu, Rusmin sudah memesan 3 hidangan yg aduhai karena saking kelaparannya, yaitu: Deep Fried Prawn with Mango and Banana, Double Boiled Fish Soup with Apple, dan Honeydew Juice.
Deep Fried Prawn with Mango and Banana, yaitu udang goreng yang dalemnya ada mangga dan pisang. Makanan ini sangat crispy dan enak, kriuk-kriuk di mulut, apalagi kalo di cocol sama saos cabe disebelahnya.
Double Boiled Fish Soup with Apple nya gak usah di pertanyakan lagi, enak juga kok.
Honeydew Juice, yaitu melon yg di blender ditambah pacar cina. Jus yg satu ini kok rasanya datar ya.
Saya pun memesan salah satu jus andalan resto ini, yaitu Black and Beauty Juice.
Black and Beauty Juice ini isinya orange, blubbery, anggur, vanilla yoghurt, dan blackberry. Juice ini rasanya asem, manis dan seger. Beneran segernya.
Rusmin sendiri akhirnya memesan minuman lagi setelah kecewa dengan Honeydew. Dia tergoda untuk beli jus setelah mencoba jus yg saya pesan. Dia akhirnya memesan Cherry Pop Juice, yang isinya, cherry, vanilla yogurt, jeruk nipis, dan Coca Cola. Rasa Cherry Pop ini kayaknya di dominasi oleh Coca Cola nya.
Sambil nungguin yang lain dateng, saya pun mencoba snack yang ada di meja, yaitu kripik (entah singkong atau ubi ya) yang rasanya enak banget kalo di cocol sama sambel goreng yg ada disebelahnya. Sambel goreng nya ini, selain tidak begitu pedas, ternyata mengandung tauco yg membuat sambel ini semakin nikmat.
Setelah beberapa menit, mulai deh teman-teman datang satu persatu: Bayu (sang kepala suku), Arasi (anaknya yg punya Resto Tsuru), Uding (yang sempat pamerin O2 II nya ke Mystery Guest), Wasis (yang gak jadi makan karena harus ketemu klien VIP), Marchel (yang bete karena gak jadi bawa partner), Pak Bondan (sang Mystery Guest), dan Rani (yg lagi giat ngelatih yg ’didalem’ utk doyan sushi juga).
Kami berlima (Bayu, saya, Pak Bondan, Uding dan Rusmin) sepakat untuk memesan paket Silver Cilantro. Paket Silver Cilantro yang kami pesan datangnya satu demi satu.
Mulai dari Appetizernya, kami memilih Sashimi, yang terdiri dari salmon, tuna dan cumi. Cukup OK kok, dan kelihatannya segar ya dilihat dari tekstur dan warna yg belum ’rusak’, apalagi wasabinya. Saya sempat ’kesetrum’ 5 kali lho.
Setelah itu, datanglah Shark Fin Soup, yaitu sup ikan hiu yg dimasak dengan kepiting. Rasanya sih lumayan lah. Tapi, waktu itu, saya kok bawaannya mau nambahin garam dan merica aja tuh, mungkin sup ini kurang nendang di mulut saya. Tapi sayang, kok saya gak liat ada merica dan garam di meja bunder tempat kami makan ya.
Kemudian datang lah Gindara Teriyaki yang dimasak dengan saus wine. Wah, yang ini rasanya top deh. Bener-bener the best di mulut saya. Surprise banget buat saya bahwa Gindaranya kok agak crispy ketika di kunyah dan sausnya pun gurih sekali. Apa ini karena ada wine nya ya? Tapi yg penting, hidangan ini sangat saya rekomen deh.
Lalu main course terakhir adalah Scallop Vegetable dan Nasi Goreng Thai. Scallop nya sih OK ya…apalagi ada brokoli nya …wuih…sehat dan ijo royo royo lho….
Khusus untuk nasi gorengnya, saya tidak makan karena sedang membatasi makan nasi. Tapi menurut waiter, nasi ini dibuat dengan campuran babi, seafood – termasuk udang, sayur dan daging sapi.
Sebagai penutup dari Paket Silver Cilantro ini, kami di suguhi jajajan pasar (market cookies - menurut kamusnya Pak Bondan), yang terdiri dari berbagai macam kue-kue tradisional. Menurut pelayannya, jajanan pasar ini lebih mengarah ke jajanan pasarnya Thai.
Selama kami melahap paket Silver Cilantro ini, kami ditemani oleh 2 jenis teh, yaitu Black Darjeeling Tea dan Green Tea Sencha. Saya kok lebih senang dengan Darjeeling nya ya, soalnya baunya teh ini harum sekali deh. Saya sampai sering banget megang-megang cangkirnya hanya untuk mencium bau teh nya. Teh nya ini free refil.
Sedangkan Arasi, yang menolak untuk bergabung dengan The Silver People dengan alasan sudah kenyang, akhirnya memesan Sauted Diced Chicken with Dry Chilli. Hidangan ini enak sekali. Ayam nya dimasak dengan cabe kering yang dicampur dengan irisan bawang. Another reccomended food!!!
Marchel dan Rani, yang pada telat dateng, memesan makanan ’standar’ mereka, yaitu:
- Sake. Hidangan ini terdiri dari dua jenis yaitu hidangan salmon saja (sashimi) atau hidangan salmon yg ditaruh diatas nasi (sushi).
- Rainbow Roll. Hidangan sushi ini terdiri dari salmon dan tuna yang digulung dengan nasi.
- Chu Toro. Hidangan sushi ini terdiri dari tuna yang ditaruh diatas nasi.
Marchel juga memesan 2 minuman, yaitu Espresso dan Durian (Durian Berlian). Marchel bilang, espresso nya termasuk bagus, dinilai dari crema nya yang tebal, dan kadar ’acidity’ nya yang minim. Dimulut saya, espresso ini juga OK sih, tapi kok kurang kentel dikit ya. Terlalu cair ya untuk saya. Sedangkan minuman duriannya biasa saja. Taste duriannya tidak terlalu menonjol dan menusuk, yah bolehlah untuk yg mau makan durian tapi tidak terlalu suka dengan baunya yg menusuk itu.
Uding pun akhirnya tergoda untuk memesan Caipiroschi. Tapi kata Uding, lebih enakan Caipiroschi di Jamz. Dari penampilan nya, saya lihat bahwa Caipirosschi nya Cilantro lebih muda dan ’sepi’ dari pada Caipiroschi nya Jamz. (Akhirnya Uding pulang tanpa konde dan blangkon).
Overall, kami cukup puas makan di Cilantro. Dari segi harga pun tak mengecewakan. Kami ber delapan ini ternyata telah mengorder 23 jenis makanan dan minuman in total dan semua nya dibandrol seharga Rp 1,6 juta.
Oh ya, andalan lain dari Resto Cilantro ini adalah wine dan cerutunya. Waktu itu, kami tidak memesan keduanya. Baik Rusmin maupun Marchel berpendapat bahwa harga wine di resto ini sangat mahal untuk kualitas wine yang ada disana. Ruangan tempat menyimpan wine sendiri, yang terletak di belakang saya, kok lampunya terlalu terang ya (kata Rusmin). Tapi buat saya, pemandangan yang mengganggu di ruang tempat menyimpan wine ini adalah kardus-kardus tempat botol wine yang dibiarkan berserakan di bagian bawah. Duhh.....jadi kelihatan tidak rapi deh.
Ketika mau pulang, saya sempat memperhatikan jendela yang mengelilingi resto ini. Dari balik jendela, saya bisa melihat indahnya Jakarta di waktu malam yang bertaburan sinar lampu. Wow, asik juga ya. Sebenernya juga sih, saya sudah merayu Pak Bondan untuk menyanyikan lagi lagu kesayangan beliau (the Autumn Leaves) di lounge yang terletak di atas resto ini dengan imbalan pijetan saya yang bisa bikin orang merem melek. Tapi entah kenapa, Pak Bondan kelihatannya sedang tidak in the mood sekali. Sayang sekali ya..... (Pak Bondan, salah satu fans berat nya ada yang kecewa nih...hehehehehee).
Salam,
Astrid
For any comment or question, please send email to: astrid-amalia@angelfire.com
Wisma BNI 46, lantai 46
Jl. Jend Sudirman Kav. 1
Jakarta
Tel: 021-251-2822
Web: www.cilantro.co.id
Dulu, lantai 46 ini di ’duduki’ oleh Jakarta American Club (JAC), yang gak tau kenapa tiba-tiba tutup dan diganti oleh Resto Cilantro ini. Ketika saya tanyakan ke receptionist, ternyata JAC sudah pindah ke lantai 4 gedung yang sama.
Ketika saya masuk ke lantai 46 menuju Resto Cilantronya, saya rasa interiornya gak ada yang berubah dari jaman masih di miliki oleh JAC sampai berubah menjadi Resto Cilantro. Interiornya masih elite dan minimalis, bahkan detilnya hampir sama.
Saya pikir, sangat beruntunglah sang pemilik Cilantro ini yang kesannya beliau ini tinggal masuk aja dan ngebawa makanan nya ke tempat yang memang udah ready-to-go. (Maaf...ini pendapat pribadi lho).
Ketika datang ke meja yang telah di pesan oleh Bayu, yang baru hadir ternyata Rusmin. Pada saat itu, Rusmin sudah memesan 3 hidangan yg aduhai karena saking kelaparannya, yaitu: Deep Fried Prawn with Mango and Banana, Double Boiled Fish Soup with Apple, dan Honeydew Juice.
Deep Fried Prawn with Mango and Banana, yaitu udang goreng yang dalemnya ada mangga dan pisang. Makanan ini sangat crispy dan enak, kriuk-kriuk di mulut, apalagi kalo di cocol sama saos cabe disebelahnya.
Double Boiled Fish Soup with Apple nya gak usah di pertanyakan lagi, enak juga kok.
Honeydew Juice, yaitu melon yg di blender ditambah pacar cina. Jus yg satu ini kok rasanya datar ya.
Saya pun memesan salah satu jus andalan resto ini, yaitu Black and Beauty Juice.
Black and Beauty Juice ini isinya orange, blubbery, anggur, vanilla yoghurt, dan blackberry. Juice ini rasanya asem, manis dan seger. Beneran segernya.
Rusmin sendiri akhirnya memesan minuman lagi setelah kecewa dengan Honeydew. Dia tergoda untuk beli jus setelah mencoba jus yg saya pesan. Dia akhirnya memesan Cherry Pop Juice, yang isinya, cherry, vanilla yogurt, jeruk nipis, dan Coca Cola. Rasa Cherry Pop ini kayaknya di dominasi oleh Coca Cola nya.
Sambil nungguin yang lain dateng, saya pun mencoba snack yang ada di meja, yaitu kripik (entah singkong atau ubi ya) yang rasanya enak banget kalo di cocol sama sambel goreng yg ada disebelahnya. Sambel goreng nya ini, selain tidak begitu pedas, ternyata mengandung tauco yg membuat sambel ini semakin nikmat.
Setelah beberapa menit, mulai deh teman-teman datang satu persatu: Bayu (sang kepala suku), Arasi (anaknya yg punya Resto Tsuru), Uding (yang sempat pamerin O2 II nya ke Mystery Guest), Wasis (yang gak jadi makan karena harus ketemu klien VIP), Marchel (yang bete karena gak jadi bawa partner), Pak Bondan (sang Mystery Guest), dan Rani (yg lagi giat ngelatih yg ’didalem’ utk doyan sushi juga).
Kami berlima (Bayu, saya, Pak Bondan, Uding dan Rusmin) sepakat untuk memesan paket Silver Cilantro. Paket Silver Cilantro yang kami pesan datangnya satu demi satu.
Mulai dari Appetizernya, kami memilih Sashimi, yang terdiri dari salmon, tuna dan cumi. Cukup OK kok, dan kelihatannya segar ya dilihat dari tekstur dan warna yg belum ’rusak’, apalagi wasabinya. Saya sempat ’kesetrum’ 5 kali lho.
Setelah itu, datanglah Shark Fin Soup, yaitu sup ikan hiu yg dimasak dengan kepiting. Rasanya sih lumayan lah. Tapi, waktu itu, saya kok bawaannya mau nambahin garam dan merica aja tuh, mungkin sup ini kurang nendang di mulut saya. Tapi sayang, kok saya gak liat ada merica dan garam di meja bunder tempat kami makan ya.
Kemudian datang lah Gindara Teriyaki yang dimasak dengan saus wine. Wah, yang ini rasanya top deh. Bener-bener the best di mulut saya. Surprise banget buat saya bahwa Gindaranya kok agak crispy ketika di kunyah dan sausnya pun gurih sekali. Apa ini karena ada wine nya ya? Tapi yg penting, hidangan ini sangat saya rekomen deh.
Lalu main course terakhir adalah Scallop Vegetable dan Nasi Goreng Thai. Scallop nya sih OK ya…apalagi ada brokoli nya …wuih…sehat dan ijo royo royo lho….
Khusus untuk nasi gorengnya, saya tidak makan karena sedang membatasi makan nasi. Tapi menurut waiter, nasi ini dibuat dengan campuran babi, seafood – termasuk udang, sayur dan daging sapi.
Sebagai penutup dari Paket Silver Cilantro ini, kami di suguhi jajajan pasar (market cookies - menurut kamusnya Pak Bondan), yang terdiri dari berbagai macam kue-kue tradisional. Menurut pelayannya, jajanan pasar ini lebih mengarah ke jajanan pasarnya Thai.
Selama kami melahap paket Silver Cilantro ini, kami ditemani oleh 2 jenis teh, yaitu Black Darjeeling Tea dan Green Tea Sencha. Saya kok lebih senang dengan Darjeeling nya ya, soalnya baunya teh ini harum sekali deh. Saya sampai sering banget megang-megang cangkirnya hanya untuk mencium bau teh nya. Teh nya ini free refil.
Sedangkan Arasi, yang menolak untuk bergabung dengan The Silver People dengan alasan sudah kenyang, akhirnya memesan Sauted Diced Chicken with Dry Chilli. Hidangan ini enak sekali. Ayam nya dimasak dengan cabe kering yang dicampur dengan irisan bawang. Another reccomended food!!!
Marchel dan Rani, yang pada telat dateng, memesan makanan ’standar’ mereka, yaitu:
- Sake. Hidangan ini terdiri dari dua jenis yaitu hidangan salmon saja (sashimi) atau hidangan salmon yg ditaruh diatas nasi (sushi).
- Rainbow Roll. Hidangan sushi ini terdiri dari salmon dan tuna yang digulung dengan nasi.
- Chu Toro. Hidangan sushi ini terdiri dari tuna yang ditaruh diatas nasi.
Marchel juga memesan 2 minuman, yaitu Espresso dan Durian (Durian Berlian). Marchel bilang, espresso nya termasuk bagus, dinilai dari crema nya yang tebal, dan kadar ’acidity’ nya yang minim. Dimulut saya, espresso ini juga OK sih, tapi kok kurang kentel dikit ya. Terlalu cair ya untuk saya. Sedangkan minuman duriannya biasa saja. Taste duriannya tidak terlalu menonjol dan menusuk, yah bolehlah untuk yg mau makan durian tapi tidak terlalu suka dengan baunya yg menusuk itu.
Uding pun akhirnya tergoda untuk memesan Caipiroschi. Tapi kata Uding, lebih enakan Caipiroschi di Jamz. Dari penampilan nya, saya lihat bahwa Caipirosschi nya Cilantro lebih muda dan ’sepi’ dari pada Caipiroschi nya Jamz. (Akhirnya Uding pulang tanpa konde dan blangkon).
Overall, kami cukup puas makan di Cilantro. Dari segi harga pun tak mengecewakan. Kami ber delapan ini ternyata telah mengorder 23 jenis makanan dan minuman in total dan semua nya dibandrol seharga Rp 1,6 juta.
Oh ya, andalan lain dari Resto Cilantro ini adalah wine dan cerutunya. Waktu itu, kami tidak memesan keduanya. Baik Rusmin maupun Marchel berpendapat bahwa harga wine di resto ini sangat mahal untuk kualitas wine yang ada disana. Ruangan tempat menyimpan wine sendiri, yang terletak di belakang saya, kok lampunya terlalu terang ya (kata Rusmin). Tapi buat saya, pemandangan yang mengganggu di ruang tempat menyimpan wine ini adalah kardus-kardus tempat botol wine yang dibiarkan berserakan di bagian bawah. Duhh.....jadi kelihatan tidak rapi deh.
Ketika mau pulang, saya sempat memperhatikan jendela yang mengelilingi resto ini. Dari balik jendela, saya bisa melihat indahnya Jakarta di waktu malam yang bertaburan sinar lampu. Wow, asik juga ya. Sebenernya juga sih, saya sudah merayu Pak Bondan untuk menyanyikan lagi lagu kesayangan beliau (the Autumn Leaves) di lounge yang terletak di atas resto ini dengan imbalan pijetan saya yang bisa bikin orang merem melek. Tapi entah kenapa, Pak Bondan kelihatannya sedang tidak in the mood sekali. Sayang sekali ya..... (Pak Bondan, salah satu fans berat nya ada yang kecewa nih...hehehehehee).
Salam,
Astrid
For any comment or question, please send email to: astrid-amalia@angelfire.com
Subscribe to:
Comments (Atom)