03 December 2017

Ananda Sukarlan diantara Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger: Aspie is awesome!




Ketika berbicara tentang Ananda Sukarlan, pasti semua orang mengenalnya sebagai pemain piano dari Indonesia yang terkenal di seluruh dunia yang memainkan jenis musik klasik. Namun saya cukup beruntung mengenal Ananda Sukarlan dari sisi yang sangat lain sekali. 

Saya mengenal Ananda Sukarlan pertama kali dari sebuah perbincangan di Twitter tentang sesuatu hal. Setelah itu, saya beberapa kali bertemu dengan Ananda Sukarlan di berbagai acara resmi dan acara makan-makan di beberapa hotel di Jakarta. Saya akhirnya berkesempatan untuk dapat berbicara secara pribadi dengan Ananda Sukarlan ketika kami bertemu di sebuah acara yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Italia. Dalam pembicaraan saya dengan Ananda Sukarlan di acara yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Italia inilah tiba-tiba timbul ide untuk membuat beberapa video atau vlog lucu yang mungkin bisa saja menjadi viral, dan mungkin sebuah video atau vlog yang sedikit menyinggung soal kiprahnya di dunia musik klasik. Namun keputusan saya berubah setelah kami menyempatkan waktu untuk duduk berdua sambil mengopi dan berdiskusi di kantornya di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Pada saat berdiskusi inilah saya melihat Ananda Sukarlan bukan sebagai pianis terkenal, namun melihatnya sebagai sosok manusia yang senang bercerita, senang melucu dengan berbagai humor yang dimilikinya dan sangat cerdas dan berbakat sekali. Pada diskusi inilah Ananda banyak menceritakan tentang Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger yang dimilikinya. Akhirnya, saya menjadi lebih tertarik untuk mengangkat Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger ini sebagai topik untuk didiskusikan di dalam video perbincangan saya dengan Ananda Sukarlan.

Saya dan Ananda Sukarlan berharap bahwa topik yang kami angkat dan berbagai informasi yang kami bicarakan dapat membantu penderita Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger lainnya di Indonesia, karena masih belum ada komunitas yang menaungi Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger ini di Indonesia.




Jadi sebenarnya apa sih yang disebut sebagai Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger? Ketika saya mencoba mencari tahu tentang sindrom ini dari berbagai literatur ilmiah, maka bisa saya gambarkan secara sederhana bahwa Sindrom Asperger adalah salah satu bagian dari spektrum autisme. Orang-orang yang terkena Sindrom Asperger ini biasanya mengalami kesulitan dalam interaksi sosial, memiliki sebuah perilaku yang berulang, perkembangan motorik mungkin tertunda, dan memiliki gerak tubuh atau ekspresi tertentu. Dibalik segala hal tersebut yang mungkin dipandang oleh masyarakat sebagai kekurangan, orang-orang yang memiliki Sindrom Asperger ini ternyata memiliki kelebihan, yaitu biasanya mereka sangat cerdas, kosa katanya sangat baik sekali dan sangat berbakat dalam bidang tertentu. Bila diberikan latihan dan terapi, orang-orang yang memiliki Sindrom Asperger ini dapat mengatasi berbagai kekurangan mereka, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi besar kepada masyarakat, nusa dan bangsa.

Saat Ananda Sukarlan masih kecil, dia sudah merasa bahwa dirinya berbeda dari anak-anak lainnya, namun pada saat itu dia tidak tahu apa nama dari sesuatu hal yang berbeda di dalam dirinya tersebut. Pada tahun 1996 ketika Ananda Sukarlan berusia 28 tahun, setelah dia memberikan ceramah di Bulgaria, dia diajak untuk masuk menjadi anggota dari Mensa Club. Mensa Club ini adalah grup yang berisi sekelompok orang-orang jenius yang memiliki IQ diatas 160. Lalu Ananda Sukarlan dibawa ke tempat grup ini untuk melewati serangkaian ujian untuk menguji tingkat kejeniusannya. Walaupun pada akhirnya Ananda Sukarlan tidak lulus didalam uji kecerdasan yang diadakan oleh kelompok tersebut, mereka ternyata mendiagnosa bahwa ada kemungkinan Ananda Sukarlan memiliki Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger. Sindrom Tourette sendiri terlihat dari berbagai gerakan fisik di tubuh Ananda, salah satunya adalah mengedipkan mata berulang-ulang. Namun karena terbatasnya akses untuk mengetahui lebih banyak informasi tentang sindrom ini, maka Ananda Sukarlan membiarkannya berlalu begitu saja. Pada akhirnya, setelah era internet dimulai dimana berbagai informasi dapat diakses dengan mudah, maka Ananda Sukarlan mulai membaca tentang berbagai informasi tentang sindrom yang dideritanya. Ananda pada akhirnya mengetahui bahwa tipe Autisme yang dimilikinya termasuk tipe Autisme Fungsi Tinggi dimana dia masih dapat berprilaku sebagaimana layaknya orang normal lainnya. 

Ananda Sukarlan menjelaskan bahwa berbagai gejala yang dimilikinya menunjukkan bahwa dia memiliki Sindrom Asperger, yaitu terlambat memiliki kemampuan berbicara pada saat dia masih kecil, sulit bersosialisasi - terutama di lingkungan baru, minat hanya pada satu bidang saja, dan tidak bisa melakukan berbagai hal tertentu dikarenakan adanya kelainan fungsi pada otak. Ananda memberi contoh bahwa dia tidak bisa menyetir mobil, namun mahir dalam memainkan piano.

Ananda Sukarlan pada waktu masih kecil ternyata tidak menatap mata orang lain ketika berbicara dengan mereka, namun dia dipaksa oleh kedua orang tuanya yang tidak mengerti tentang Sindrom Asperger ini untuk menatap mata orang sebagai tanda kesopanan. Latihan seperti inilah yang membuat Ananda dapat bersikap seperti layaknya orang normal lainnya ketika dia beranjak dewasa.

Ananda Sukarlan bercerita bahwa dia merasa beruntung waktu dia masih kecil melihat piano tua di rumahnya. Piano tersebut merupakan barang hibahan dari kerabatnya. Karena piano itulah maka dia menemukan minatnya dalam bidang musik, terutama bakat untuk memainkan piano. 

Ananda Sukarlan mengakui bahwa dia menemukan dunianya ketika memainkan piano dan menulis musik. Ini menandakan bahwa otaknya bekerja dengan baik ketika dia mengerjakan berbagai hal tentang musik. Baginya, musik sangat mampu menolongnya untuk mendeteksi emosi apa yang dirasakannya dan emosi apa yang sedang dihadapinya. 

Ananda Sukarlan memutuskan untuk hidup bersama dengan Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger ini dengan tenang dan damai. Dia merasa baik-baik saja dan sama sekali tidak terganggu sedikit pun, namun dia tetap perlu untuk mempersiapkan diri dan mengolah rasa groginya ketika akan datang ke berbagai acara resmi dan bertemu dengan orang-orang baru.

Ananda Sukarlan mengingatkan bahwa tidak semua orang yang memiliki Autisme dan berbagai sindrom turunannya akan tampak seperti para penderita Autisme pada umumnya. Sebagian dari mereka bisa jadi akan tampak seperti layaknya manusia normal lainnya. 

Menurut Ananda Sukarlan, orang-orang yang memiliki Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger bisa jadi adalah orang-orang yang paling keren di dunia, karena mereka biasanya ahli dan berbakat di satu bidang tertentu dan memiliki kemampuan yang sangat baik sekali untuk fokus pada satu bidang tertentu tersebut. Ananda Sukarlan memberi contoh beberapa penderita Sindrom Asperger yang ternyata adalah orang terkenal di dunia, seperti pesepakbola - Lionel Messi, pendiri Apple - Steve Jobs, komposer dunia terkenal - Mozart, pemain film Holywood terkenal - Anthonny Hopkins, dan lain-lain. Maka dari itu dia rajin mengkampanyekan motto dari gerakan untuk orang-orang yang memiliki Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger, yaitu “Aspie is awesome!”

Namun orang-orang yang memiliki Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger ini tetap perlu bantuan untuk ditunjukkan apa bakat dan keahlian mereka yang sebenarnya, karena sampai sekarang belum ada alat, mesin atau teknologi tertentu yang dapat mendeteksi kemampuan khusus apa yang dimiliki oleh para penderita Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger ini.

Sebagai orang yang memiliki Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger, tidak jarang Ananda Sukarlan menerima prilaku-prilaku yang tidak menyenangkan dan sering diejek oleh orang-orang di sekitarnya. Namun Ananda mampu bersikap cukup sabar untuk menghadapi orang-orang seperti ini. Ananda Sukarlan juga menyayangkan fakta bahwa ketika para penderita Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger tidak pernah merugikan orang lain dan lingkungan sekitarnya, kenapa para penderita ini harus menerima ejekan dari sekelilingnya. Nasihat yang dia berikan untuk para penderita Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger yang menerima ejekan dari orang-orang disekitarnya adalah bahwa masalah bukan datang dari pemilik Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger, namun masalah justru berada pada yang mengejek mereka. Karena mereka yang mengejek biasanya butuh tempat untuk menunjukkan keberadaan mereka di muka bumi ini. Jadi, tidak usah merisaukan ejekan-ejekan dari mereka ya!

Untuk para orang-orang normal yang berada disekitar orang-orang yang memiliki Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger, Ananda berpesan agar mereka memberikan pengertian yang lebih kepada para pemilik Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger ini, lebih memfokuskan kepada kelebihan yang mereka miliki dan siap membantu mereka pada bidang yang mereka memang tidak bisa lakukan.
Bagi para penderita Sindrom Tourette dan Sindrom Aspergernya sendiri, Ananda berpesan agar mereka selalu rajin mencari apa hal berguna yang mereka dapat lakukan untuk lingkungan sekitarnya, bersabar menerima sindrom yang mereka miliki dan memaafkan orang-orang lain yang mengejek mereka.

Anda dapat melihat video selengkapnya dari wawancara saya dengan Ananda Sukarlan di bawah ini:



Catatan: Kalau Anda melihat video diatas, Anda pasti juga dapat melihat bahwa saya juga suka mengedipkan mata berulang kali, dan cara berbicara saya yang kadang-kadang terbata-bata dan berulang-ulang. Dulu pada waktu saya kecil, saya juga terlambat memiliki kemampuan bicara dan cenderung gagap. Apakah saya juga termasuk penderita Sindrom Tourette dan Sindrom Asperger? Mungkin iya, mungkin tidak. Apa pun fakta sebenarnya, semua itu tidak menjadi masalah lagi bagi saya sekarang, karena saya masih dapat mengfungsikan diri sebagaimana layaknya orang normal lainnya. 

Saya mengucapkan rasa terima kasih yang dalam untuk Ananda Sukarlan yang sudah meluangkan waktunya untuk duduk bersama saya dan mendiskusikan tentang sisi unik dari dirinya. Setelah diskusi selesai, saya malah semakin kagum dengan sisi unik dari diri Ananda, yaitu humoris, senang ngobrol, cerdas dan berbakat sekali. Pada akhir kata, saya setuju dengan pendapat Ananda Sukarlan bahwa “Aspie is awesome!”