22 September 2014

Types of My Yoga and Therapy


If you ask me what kind of yoga style I teach, I will definitely get confused to answer it. It is because I get so many influences from all my yoga teachers that I meet during my personal practices, and they teach the styles of Hatha Yoga, Vinyasa Flow, Ashtanga, Iyengar, Anusara, Jivamukti, Forrest Yoga, Acro Yoga, Purna Yoga and many more. Some of them teach Yoga with Pilates, Yoga with Hammock, Yoga with TRX, and many more. And I graduated from Energetics Yoga.

After 2 years of teaching yoga and giving therapy, I realize that it is not important for me to define what kind of yoga style I teach. What is most important for me is to define what kind of Yoga Class I teach in the Yoga Studios and what kind of Yoga Practice and Craniosacral Therapy clients that I handle in my private sessions.
In brief, the type of Yoga classes that I teach in the Yoga Studios are:
• Yoga for All Levels (Beginners, Advanced, Regulars)
• Prenatal Yoga
• Postnatal Yoga
• Yoga for special conditions: modifications for those who have menstruation, injuries, and limited movements
The type of Yoga clients that I handle in my Private Yoga Sessions are:
• After an accident (broken shoulder, broken spine)
• Cancer (breast, lung)
• Scoliosis
• Asthma
• Blood pressure problem
• Vertigo
• Obesity
• Pregnant women  
• After the birth condition
• Senior people
• Balance problem
• Fertility
• After surgery condition
And the type of Therapy clients that I treat in my Private Craniosacral Therapy are:
• Ear problem
• Stress
• Trauma
• Sleep disorder
• Blockages in the body
• Problem at chakras
The list above is not limited, and it is always possible for me to add some brand new type of yoga class, yoga clients, and therapy clients in my yoga business. I believe that I grow up each and every day, and I always believe in the new possibilities that come in my life. The world is big enough for my exploration and I am so ready to experience what the world gives me at any time when I am still alive.  
So if you need my assistance to help you with the problems I have mentioned above, or if you want to give me a chance to learn something new and gain new experience from your problems that I have not mentioned above, of course, all based from the yoga and therapy knowledge that I have, please do not hesitate to contact me at:
• Facebook Page: www.facebook.com/YogaWithAstrid
• Twitter: www.twitter.com/AstridYogini
Namaste.

19 September 2014

Teh Rasa Pelangi di Momo Cha Cipete

Momo Cha Cipete
Jln. BDN Raya, No. 7A
Cipete,
Jakarta Selatan
Indonesia






Teh bagiku adalah salah satu minuman yang tidak terlalu aku favoritkan. Dengan sedikit alergi terhadap teh hijau bila meminumnya terlalu banyak dan rasa teh yang bagiku agak sedikit membosankan, maka aku berusaha untuk meminimalisir kegiatan meminum teh. Lebih baik ngopi cantik dong ya :-))

Pada suatu hari, ada undangan menarik untuk datang ke acara soft opening sebuah tempat yang menjual teh susu di bilangan Cipete. Suatu undangan yang menarik! Mari kita lihat apakah aku bisa berlama-lama duduk di tempat yang satu ini :-)

Pada saat memasuki Momo Cha, karena masih soft launching, jadi belum ada papan nama di tempat ini. Mudah-mudahah papan namanya sudah ada ketika acara grand launching dilaksanakan ya. Begitu membuka pintu, aku cukup takjub dengan atmosfir di tempat ini. Di dinding kiri dan kanan dari tempat ini, ada mural, yaitu gambar berkarakter lucu di dinding yang berwarna-warni. Keren dan kreatif abis! Dari dinding saja, aku bisa merasakan bahwa tempat ini ditujukan untuk anak-anak dan orang-orang yang bercitarasa kreatif.
Ada beberapa meja dan kursi di tempat ini, walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak. Berarti ada kesempatan bagi pengunjung untuk duduk di tempat ini ya. 




Sambil beramah tamah dengan para pemilik dan para tamu lainnya, aku memperhatikan papan menu yang ada di belakang kasir. Loh kok ada berbagai macam rasa tercantum di papan ya? Jadi ini bukan teh biasa dong ya? Tanpa menunggu lama-lama, aku pun memesan salah satu minuman teh di tempat ini. Minuman pertama yang kupesan adalah teh Oolong dengan campuran plum dan cincau dengan tambahan sedikit gula dan es batu. Sebenarnya teh Oolong bukanlah campuran yang benar untuk plum, karena yang benar seharusnya memakai teh hijau. Namun karena aku agak sedikit alergi dengan teh hijau, maka aku meminta kebesaran hati sang peracik minuman untuk memakai teh Oolong :-))
Minuman tehku dibuat dengan cara dicampur dan dikocok. Pada saat datang, minuman tehku dikemas di dalam gelas plastik besar yang sudah disegel atasnya dengan tutup plastik. Cara minumannya adalah dengan menusukkan sedotan raksasa ke atas segel plastik tersebut. Bleeessss!!!!! Begitulah suara yang keluar begitu sedotannya menembus tutup plastik.

Sebelum aku meminum teh pesananku ini, aku tidak berharap terlalu banyak terhadap minuman yang satu ini. Seperti yang aku bilang, aku kurang begitu suka minuman teh. Pada saat meminum minuman teh yang aku pesan, aku takjub dengan rasanya. Enak sekali! Rasa plumnya pas banget! Asam-asam segar rasanya! Waduh, aku suka banget! Teh Oolong yang agak terasa pahit ini sedikit mengimbangi rasa asam yang segar dari plumnya. Suatu kombinasi yang unik. Cincau yang ada didalam minuman teh ini membuat kegiatan meminum ini menjadi seru, karena aku harus menyedot cincaunya sampai pipiku kempot. Cukup lumayan untuk latihan otot di wajah agar muka tetap kencang tanpa operasi plastik :-))

Di Momo Cha, ada berbagai minuman teh yang ditawarkan. Mulai dari teh saja, teh susu, teh dengan tambahan rasa macam-macam, teh dengan rasa buah, dan smoothies. Untuk tambahan dari minuman teh ini, pengunjung dapat menambahkan berbagai macam jelly, kacang merah, oreo, lidah buaya, agar-agar, dan lain-lain. Berbagai macam rasa buah-buahan pun ditawarkan untuk dicampurkan di minuman tehnya. Jadi teh disini rasanya sangat berwarna-warni, bagaikan pelangi di angkasa yang membuat awan nampak cantik setelah hujan yang deras. Seru, kan!

Tentunya para peracik minuman di Momo Cha akan memberikan saran tentang tambahan apa saja yang dapat dicampurkan pada minuman tehnya, kecuali bila pengunjungnya seperti aku yang mempunyai kegilaan untuk mencampur jenis teh dan tambahan lainnya sesuka hatiku. Biarlah, aku memang suka berpetualang di dalam hidupku, bahkan termasuk soal citarasa dari minuman pilihanku :-)

Mereka juga menawarkan berbagai macam cemilan dari ayam dan kentang dengan bumbu-bumbu dari keju, rumput laut, dan lain-lain. Ada Dim Sum dan Spaghetti juga. Wah, bisa makan dan ngemil cantik disini dong ya! Oh ya, gerai Momo Cha di Cipete ini buka sampai jam 9 malam ya.
Bagi pengunjung setia dari gerai Momo Chan ini, ternyata ada kupon yang dapat dikumpulkan untuk ditukarkan dengan berbagai penawaran menarik dengan mendaftarkan alamat email di kasir pada saat membayar minuman tehnya.

Sebelum meninggalkan gerai Momo Cha ini, aku memesan lagi satu minuman teh disini. Tentunya dengan campuran ala aku sendiri :-))
Minuman kedua yang aku pesan adalah teh biasa dengan campuran rasa buah markisa dan tambahan jelly kopi. Sebuah campuran yang membuat sang peracik minuman tersenyum-senyum geli. Iya, campurannya bertabrakan semua, namun tetep enak kok :-))

Aku pun meninggalkan Momo Cha Cipete ini dengan suatu pelajaran bahwa minuman teh itu seperti hidup. Hidup bisa saja terasa membosankan, namun dengan segala kreatifitas yang kita miliki, hidup bisa menjadi suatu perjalanan yang menarik, meriah, seru, dan mungkin sedikit gila :-))
Salam minum teh dengan citarasa pelangi di hatiku :-)




15 September 2014

Buku Yogaku Akan Segera Terbit!

"Buku tidak dapat dibunuh oleh api. Orang-orang mati, tapi buku tidak pernah mati. Tidak ada orang dan tidak ada kekuatan yang dapat menghapuskan memori ... Dalam perang ini, kita tahu, buku adalah senjata. Dan itu adalah bagian dari dedikasi Anda selalu membuatkan mereka senjata untuk kebebasan manusia. " - Franklin D. Roosevelt, 1882-1945, negarawan Demokrat Amerika, Presiden ke-32 AS 1933-1945, dan suami dari Eleanor Roosevelt.

Jika Anda bertanya-tanya mengapa aku mengutip Franklin Roosevelt, itu karena aku akan menulis buku yogaku sendiri. Buku ini akan menjadi warisanku kepada dunia. Bukuku akan hidup lebih lama dari tubuhku. Bukuku juga akan menjadi bentuk dedikasiku untuk latihan yoga, sebuah bagian dari hidupku.

Setelah menulis blog ini begitu lama, akhirnya ada beberapa orang yang mengenali mimpiku yang lain. Tahun lalu, sebuah penerbit menghubungiku dan bertanya apakah aku ingin menulis sebuah buku. Sebuah kejutan bagiku! Iya, aku mengambil tantangannya! Tapi kemudian aku bertanya apakah aku memiliki kemampuan untuk menulis buku. Dan penerbit memintaku untuk mencobanya. Mengapa tidak?

Itu satu tahun yang lalu.

Aku butuh berhari-hari dan bermalam-malam untuk membaca, memahami, mengumpulkan dan menulis ulang semua informasi dan sumber-sumber berdasarkan pengetahuan yang kumiliki.

Sekarang, aku hampir sampai pada proses akhir dari perjalanan menulis buku yogaku. Aku sekarang sedang berada dalam proses pengambilan gambar, membaca kembali informasi dan mengedit kembali.

Dan buku yogaku ini ditulis dalam bahasa Indonesia. 

Iya, buku yogaku akan segera terbit! Dan aku pun jadi bersemangat! 

Alam semesta yang baik, tolong temani aku disepanjang proses menulis bukuku.
Buat semuanya, tolong doakan aku.

Terima kasih banyak.

Namaste.

My Yoga Book is Coming Soon!

“Books can not be killed by fire. People die, but books never die. No man and no force can abolish memory … In this war, we know, books are weapons. And it is a part of your dedication always to make them weapons for man’s freedom.” – Franklin D. Roosevelt, 1882-1945, American Democratic statesman, 32nd President of the US 1933-45, and husband of Eleanor Roosevelt.

If you are wondering why I quote Franklin Roosevelt, it is because i am going to write my own yoga book. This book will be my legacy to the world. My book will live longer than my body. My book will also be the form of my dedication to the yoga practice, a part of my life.

After writing this blog for so long, finally some people recognise my other dream. Last year, a publisher contacted me and asked if I wanted to write a book. A big surprise for me! Well, I took the challenge! But then I asked if I had the capacity to write a book. And the publisher asked me to try it. Why not? 

That was one year ago.

I need days and night to read, understand, collect and rewrite all information and the sources based on my knowledge. 

Right now, I am almost at the end of my yoga book writing journey. I am on the process of taking pictures, re-reading the information and re-editing it.

Oh, by the way, my yoga book is written in Indonesian language. 

Yes, my yoga book is coming soon! And I am so excited too! 

Dear Universe, please accompany me in the process of writing this book all the time.
Dear everyone, please pray for me.

Thank you very much. 

Namaste. 

12 September 2014

Living in the Real World

Someday, the people who read too much spiritual wisdoms will realize that their feet touched the ground on earth, not in the words of the spiritual wisdoms.

Namaste.