30 June 2009

ENTREPRENEURS & CRITICS

Successful entrepreneurs need negative feedback. Some entrepreneurs are usually sensitive enough to hear critics. They need all critics to make their decision look better. They should know what to do and how to do it. They can use critics as their guidance to see what is good for their business and their future. The critics can also give some sights on how to survive in this economic crisis.
The economic crisis has almost stopped some business, but still they must believe that there are other opportunities in Indonesia, actually a lot more than people thought.

29 May 2009

BLUMCHEN COFFEE

Blumchen Coffee
Jl. RS. Fatmawati No. 1
South Jakarta
Tel: (021) 9195-9112
Fax: (021) 521-2478


After a beautiful day with some friends on Saturday afternoon, my best buddy Ree offered a meeting to coffee cupping at Blumchen Coffee. She just did not want to meet at a mall that she thinks it is where the kids gather hehehe. Alright then, so I went there.

Before this, Ree has told me that this café is owned by a Korean, the head barista is our former favorite barista at Bakoel Koffie (mas Anto) and how good the place is.

I was greeted by mas Anto himself when I arrived at Blumchen.

As I sat, I felt that the interior of Blumchen has a simple concept, a living room just like in our home.

As you open the front door, at the right side, the café shows a living room with a long sofa just like in our home. At the left side, there is a coffee bar, where the baristas make the coffee that is closely side by side with the coffee roaster machine. After passing the so called living room, there another so called dining room inside. The room is filled with many dining tables. The concept is just like an elite house. The difference is only at the small toys placed at the café. You can see bicycle under the coffee bar, a red motorbike, etc.

That night, I preferred to sit at the coffee bar so I can have chat with the baristas.

After some moment chatting with mas Anto, he then offered me to order some drinks.

As I asked about the favorite kind of drinks there, mas Anto said that Blumchen has three famous drinks: French Kiss Coffee Latte, Rolo Way Latte and Blumchen Spicy Coffee. Suddenly , not only, I asked him to give me one full glass of its three coffee drinks, but also give me the other two drinks as additional drinks in small glasses as tester. Guess what? Mas Anto said: “OK, we will make all three coffee drinks in full glass, but you must finish all of them here, ya.” Oh yeah, I thought he planned to kill me with the joy of caffeine hehehe.

Finally, the three glasses of coffee arrived right in front of me.

The first drink I tasted was French Kiss Coffee Latte. The drink is a mix of coffee, milk, caramel and whipped cream. The taste of caramel is so strong. Mas Anto said that the drink is good for ladies as it tastes sweet. Oh yeah, mas Anto, ladies are indeed sweet hehehehe.

The second drink I tasted was Rolo Way Latte. The drink is a mix of coffee, caramel, chocolate, and whipped cream. The taste of this drink is almost the same with French Kiss Coffee Latte, but bolder, as it does not have milk in it and it has chocolate. The color of the drink is darker than French Kiss Coffee Latte.

The last coffee I tasted which was my favorite one was Blumchen Spicy Coffee. The drink is a mix between espresso and cinnamon. The baristas usually will ask us if we want to add the drink with whipped cream, but I suggest not. The drink taste better without whipped cream, because the taste of coffee and cinnamon are the main sources of joy of the drink. It tastes soft. And when the flavor of the cinnamon hits your nose, that is it! I know it as the joy of coffee cupping.

The Blumchen Coffee has free wi-fi. So if you come alone, do not feel so lonely, please. You can grab some magazines provided in the café or take your laptop with you and browse some good websites here.

By the way, Blumchen Coffee sells coffee beans and Vietnamese coffee dripper. And in the future, they will sell mini coffee grinder.


26 May 2009

BLUMCHEN COFFEE



Blumchen Coffee
Jl. RS. Fatmawati No. 1
South Jakarta
Tel: (021) 9195-9112
Fax: (021) 521-2478

Pada suatu hari Sabtu yang indah, setelah bertemu dengan beberapa teman, tiba-tiba ada tawaran iseng yang sangat menggoda untuk ngopi-ngopi di Blumchen Coffee. Siapa lagi kalau bukan Ree yang tiba-tiba iseng ngajakin ngopi disana, karena dia menolak ketemuan di salah satu mall di Jakarta ini yang dia bilang tempat ABG ngumpul hehehe. Ya sudahlah, berangkatlah saya ke sana.

Sebelumnya, Ree sudah banyak bercerita tentang café ini. Mulai dari pemiliknya yang orang Korea, sang kepala baristanya yang merupakan mantan barista favorit kami di Bakoel Koffie, yaitu Mas Anto, dan betapa nikmatnya suasana di tempat ini.

Setelah sampai disana, saya langsung disambut oleh mas Anto sendiri. Ketika saya sudah mulai duduk, saya merasa bahwa interior Blumchen ini terasa sangat sederhana konsepnya, yaitu ingin menghadirkan suasana ruang tamu dan ruang keluarga seperti halnya rumah kita sendiri. Setelah memasuki pintu depan, disebelah kanan, kita akan di bawa ke suasana ruang tamu sebuah rumah, lengkap dengan sofa panjangnya. Kalau di sebelah kiri, ada bar kopi, dimana para barista meracik kopinya, yang menempel dengan mesin penggoreng kopi. Kalau kita masuk agak ke dalam sedikit, maka kita akan dibawa ke suasana ruang tengah yag dipadukan dengan beberapa meja makan. Konsepnya sangat rumahan yang elit deh. Bedanya ya cuma di pernik-pernik kecil yang ada di kafe ini. Ada sepeda-sepedaan di bawah bar kopi, ada motor berwarna merah, dan lain-lain.

Saya pun memilih untuk duduk di bar kopinya supaya bisa ngobrol lebih jauh dengan para baristanya. Setelah ngobrol ngalor-ngidul dengan mas Anto, beliau pun menawarkan saya untuk memesan kopi disana. Ketika saya sedang bertanya-tanya soal kopi di Blumchen ini, mas Anto bilang Blumchen mempunyai 3 minuman andalan, yaitu French Kiss Coffee Latte, Rolo Way Latte dan Blumchen “Spicy” Coffee. Tiba-tiba saya mengajukan permintaan yang tidak tahu diri sekali, yaitu meminta salah satu kopi andalan di tempat ini dalam porsi normal, ditambah dengan 2 tester lainnya. Tester yang saya maksud ini gelasnya kecil aja, supaya saya bisa icip-icip. Tapi ternyata mas Anto malah lebih gila lagi. Dia bilang: “Kita bikinin semuanya di gelas normal, tapi semuanya harus dihabiskan di sini ya.” Tawaran yang mematikan, bukan?

Akhirnya, sampai juga saat-saat dimana 3 gelas kopi andalan Blumchen datang di atas meja bar kopi tempat saya duduk.

Minuman pertama yang saya icip adalah French Kiss Coffee Latte. Minuman ini merupakan campuran dari kopi, susu, karamel dan whipped cream. Rasa karamelnya sangat kuat sekali. Kata mas Anto, minuman ini lebih cocok untuk cewek, karena rasanya yang manis. Iya deh, mas Anto, cewek memang manis ya hehehe.

Minuman kedua adalah Rolo Way Latte yang merupakan campuran kopi dengan karamel, coklat, dan whipped cream. Rasanya agak mirip dengan French Kiss Coffee Latte, tapi agak lebih berat, karena memang tidak pake susu dan ada coklatnya. Warnanya pun agak lebih gelap dari French Kiss Coffee Latte.

Minuman yang terakhir merupakan minuman favorit saya, yaitu Blumchen Spicy Coffee. Minuman ini adalah campuran dari espresso dan kayu manis. Sang Barista biasanya akan menanyakan apakah minuman ini mau ditambah dengan whipped cream, tapi saya anjurkan tidak. Minuman ini lebih enak bila diminum tanpa whipped cream, karena justru rasa kopi dan kayu manis inilah yang menjadi sumber kenikmatan minuman ini. Rasanya lembut dan bau kayu manisnya sangat nikmat ketika menerjang hidung kita. Wanginya mantep banget!

Sambil duduk ngopi di Blumchen Coffee ini, ada free wifi nya loh. Jadi kalo datang sendirian, gak usah merasa kesepian. Bisa baca-baca majalah yang ada di café ini atau ya bawa laptop dan browsing-browsing internet deh.

Oh ya, Blumchen ini juga menjual biji kopi, dan Vietnamese coffee dripper. Dan yang akan datang, mereka akan menjual penggiling kopi mini.




















16 December 2008

YOGA – THE BREATH OF MY LIFE

This is my story about the long road I had to take to find yoga that has become the breath of my life.

I will not discuss about the philosophy and teaching method of yoga, as I am not the right person to discuss about those. I will let the experienced yoga teachers to explain these. I just want to share the story to the world why I love yoga.

It has been a year that I learned about yoga. When I joined my gym, Fitness First, two years ago, I only exercised at weigh-lifting and treadmill areas only, without joining any class provided in the club, including the Mind & Body yoga class. I laughed at the people who practiced yoga at the class by saying: "Why do I have to do that kind of useless stretching? To long and too slow for me. I am afraid to get sleepy. I’d rather do the weigh-lifting and running."

Even when looking at the people who practiced yoga through the glass-wall, I thought that they did not move anywhere.

Time went by, and I was still fat hehehe. I did numerous tight diets. Name it: detoxification with fruit, stop eating rice, etc. They only gave a yo-yo effect in my body.

One day, at the fasting month in October 2007, I felt that I wanted to exercise without spending my energy at the fasting month too much. So I started to thing about yoga as a very good alternative. I told myself that a little bit of stretching would not make me tired.

But I was wrong. Wait, why? Hehehe. Here comes my first experience in yoga class.

At that time, I joined the Dynamic Flow yoga class. The Dynamic Flow is a yoga class for trained yoginis or at least for those who practice regularly, as the movement at the class is very fast with some difficult yoga poses. From the beginning to the end of the class, my purpose to relax and easy at the class was totally failed. The yoga movement looked so slow and easy, but then I realized that they were difficult, hard and heavy. At this first class, I fell for so many times as I could not lift and hold my own body. After one hour joining this yoga class, my opinion about yoga had changed. The yoga movements are so challenging and hard, even harder than my usual exercise at the weight-lifting area.

After the class, the yoga guru said something that made me curious about yoga. While touching my shoulder, he said: “You did not use your energy."

What??? Why did he say this after all the flip-flops that I did in the class? Wait the minute, what is energy? That was really the questions that triggered me to join the yoga class for good.

So, at the fasting month, I did yoga once a day, while I still did my weight-lifting exercise. At the second and third months, I increased the yoga practice to two times a day. After three months, I felt that the yoga practice was not enough without having good knowledge about it. So I started to look for the yoga books to understand it very well. Some of the yoga books I read during my first yoga learning were: Healthy and Balance Living with Yoga (Pujiastuti Sindhu), 10 Minutes of Yoga (Donald Butler), Classical Yoga (Vimla Lalvani), and Understanding Everything about Yoga (Cynthia Worby).

I also practiced my yoga at home through the VCD I bought: VCD from the book of Pujiastuti Sindhu, Yoga for Strengths (Linda Arkin), Yoga Mind & Body (Ali MacGraw) and Yoga Exercise Workout (Jane Fonda).

Finally, yoga has become the most important thing in my life. I just feel that I can not live without yoga.

Yoga has become the breath of my life as yoga also gives me some positive effects in my body, such as: I go to sleep easier, I lost water retention sickness, I realize that I have so many weaknesses, I lost the fat around my body, my body finally has a real curve, I become stronger, I can easily control my emotion, I become more patient, easy to concentrate and focus, and many other things that I can not mention. Maybe I will write another note to discuss about it.

Today, my yoga schedule is almost like my eating schedule. Between two to four yoga classes a day, 6 days a week. What impress me is that morning yoga is just like a morning cup of coffee in my breakfast.

Some of the yoga teacher told me to slow down my yoga schedule, so my body can take a rest. And my answer is: “What can I do? When I found my passion in yoga…."

That is the entire long road that I took to know and fall in love with yoga.

I want to thank God who introduces me to yoga, a lifestyle that makes my body healthy, and repairs the way I think and the way I live my life. I believe that God has His own plan. I do not have to tell the world on how many things that happened before I met yoga, but I think if God wants it, then be it.

I also want to thank to all of my yoga gurus in Fitness First who taught me yoga, other yoga gurus that I meet outside of my safe-haven, and all of my yoga buddies who share the suffering when we are slaughtered by the yoga gurus. There is always broken air-conditioner in our yoga mat hahaha.

Once again, this is a personal note from me, a person who loves yoga just the way it is. For those who disagree on this note, please let me live my life with this yoga that I really love. For those who agree and happen to like yoga too, let’s walk hand in hand in the yoga path, the path of peace and love.

Namaste!

12 December 2008

YOGA - NAFAS DARI HIDUPKU

Catatan ini adalah sekelumit perjalanan panjang saya menuju yoga yang telah menjadi nafas di dalam hidup saya. Saya tidak akan membahas yoga terlalu dalam, baik dari segi pengajaran maupun filosofinya, karena saya memang bukan orang yang tepat untuk membahas hal-hal tersebut. Biarkanlah para guru yoga yang sudah mahir yang menjelaskannya. Saya hanya ingin berbagi cerita kepada seluruh dunia mengapa saya mencintai olahraga yang satu ini.

Sudah setahun ini, saya mulai mendalami yoga. Awalnya ketika saya bergabung di tempat olahraga saya di Fitness First dua tahun yang lalu, saya hanya melaksanakan olahraga saya di tempat alat-alat angkat berat dan mesin treadmill saja, tanpa mau melirik kelas yang tersedia di tempat ini, termasuk kelas yoga yang diberi nama "Mind & Body". Saya sih awalnya malah mencemooh soal olahraga yoga ini.

"Ngapain juga sih stretching gak jelas gitu? Kelamaan dan terlalu pelan. Entar ngantuk aja deh. Mendingan angkat beban dan lari aja deh. Kiamat kali kalo gue masuk kelas itu."

Itulah sekelumit pernyataan dari saya waktu dulu melihat orang latihan yoga di kelas "Mind & Body" ini. Apalagi kalau melihat gerakan-gerakan yoga di kelas itu dari dinding kaca. Kok keliatannya gerakannya begitu-begitu saja ya.

Waktu pun berlalu, seiring dengan tidak adanya pengurangan lemak di tubuh saya hahaha. Saya sempat diet ketat, mulai dari detox buah, tidak makan nasi, dan lain-lain. Itu semua hanya memberikan efek yo-yo di badan saya.

Sampai pada suatu hari, tepatnya pada saat bulan puasa di bulan Oktober 2007, saya merasa bahwa saya tetap mau berolahraga tapi yang tidak terlalu menghabiskan tenaga saya di bulan puasa tersebut. Saya pun mulai melirik yoga sebagai alternatif bagus. Sedikit stretching tidak akan membuat saya lemas, itulah pemikiran saya pada saat itu.

Tapi, ternyata saya salah. Loh salah kenapa? Hahaha. Ini dia pengalaman pertama saya di kelas yoga.

Pada saat itu, saya masuk ke kelas yoga yang bernama “Dynamic Flow”. Kelas yoga “Dynamic Flow” merupakan kelas yoga untuk para yoginis yang sudah terlatih atau paling tidak sudah sering ikut kelas yoga, karena berisi gerakan-gerakan yoga yang cukup sulit dengan perubahan gerakan yang cukup cepat. Dari awal sampai akhir kelas, tujuan saya untuk santai-santai berolahraga menjadi gagal total, karena akhirnya saya menyadari gerakan-gerakan yoga itu cukup sulit. Gerakannya memang kelihatannya lambat dan gampang, tapi ternyata gerakannya cukup berat dan rada susah. Di kelas pertama saya ini, sering kali saya jatuh terjerembab karena tidak bisa menahan beban badan saya sendiri. Setelah satu jam mengikuti kelas yoga pertama saya, pemikiran saya terhadap yoga ini mulai berubah. Ternyata yoga itu berat dan menantang juga gerakannya, bahkan lebih berat dari olahraga angkat berat yang biasa saya lakukan.

Ada satu peristiwa yang membuat saya semakin penasaran dengan yoga ini. Ketika kelas pertama saya berakhir, sang guru yoga pun memegang punggung saya dan berkata: "Ah, lo ga pake energi lo sih."

Hah??? Kok guru yoga yang satu ini bisa seenaknya berbicara seperti itu ya setelah saya jungkir balik plus terjerembab di kelas yoga ini? Loh, apa pula energi itu ya?

Itulah pertanyaaan kesekian yang memicu saya untuk pantang mundur di kelas yoga ini.

Jadilah, selama bulan puasa itu, saya setiap hari mempunyai jadwal yoga sekali dalam sehari, sambil tetap diselingi dengan angkat beban. Mulai masuk bulan ke dua dan ke tiga, frekuensi saya beryoga mulai meningkat menjadi 2 kelas yoga perhari. Setelah 3 bulan beryoga, saya kok merasa tidak cukup hanya berlatih yoga saja tanpa memiliki pengetahuan tentang olahraga yang satu ini. Mulailah saya mencari buku-buku yoga supaya saya tambah mengerti tentang yoga ini. Beberapa buku yoga yang saya baca diawal perkenalan saya dengan yoga adalah: Hidup Sehat dan Seimbang dengan Yoga (Pujiastuti Sindhu), Seri 10 Menit Yoga (Donald Butler), Yoga Klasik (Vimla Lalvani), dan Memahami Segalanya tentang Yoga (Cynthia Worby).

Belum lagi sejumlah VCD yang saya beli untuk menemani latihan yoga saya di rumah, yaitu: VCD bonus dari bukunya mbak Pujiastuti Sindhu, Yoga for Strengths (Linda Arkin), Yoga Mind & Body (Ali MacGraw), dan Yoga Exercise Workout (Jane Fonda).

Yoga pun akhirnya telah menjadi sesuatu yang paling penting didalam kehidupan saya. Saya kok merasa kalau saya tak bisa hidup tanpa yoga. Yoga telah menjadi nafas di dalam kehidupan saya. Ini semua karena saya merasa ada efek-efek positif yang timbul di badan saya setelah saya rajin beryoga. Beberapa efek-efek positif itu adalah: tidur saya menjadi lebih lelap dan berkualitas, penyakit "water retention" saya mulai hilang, saya mulai menyadari bahwa saya punya banyak kelemahan, lemak dibadan saya perlahan-lahan mulai hilang dan badan saya pun punya bentuk yang lumayan, tubuh saya perlahan-lahan menjadi kuat, saya jadi mudah mengontrol emosi saya yang dulunya meledak-ledak, saya menjadi lebih sabar, konsentrasi saya bertambah, dan lain-lain yang masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan. Mungkin nanti saya jelaskan di kesempatan yang berikutnya.

Ketika tulisan ini dibuat, jadwal saya beryoga sudah seperti jadwal makan saya, yaitu 2 sampai 4 kelas perhari, baik pagi maupun sore, 6 hari seminggu. Yang paling mengesankan adalah yoga di pagi hari adalah ibarat secangkir kopi di kala makan pagi.

Ada beberapa guru yoga saya yang sedikit memperingatkan saya untuk tidak terlalu memforsir jadwal latihan saya dan menyarankan untuk memberi istirahat pada badan saya. Jawaban saya pun hanya seperti ini: "Abis gimana ya, udah cinta sih…"

Begitulah sekelumit proses perjalanan saya dalam mengenal dan akhirnya jatuh cinta kepada yoga.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang sudah mempertemukan saya dengan yoga, sebuah olahraga yang tidak hanya menyehatkan tubuh saya, tetapi juga membetulkan cara berpikir dan cara hidup saya. Saya percaya bahwa Tuhan memang punya rencana-Nya sendiri. Tidak perlu saya ceritakan berapa banyak kejadian yang terjadi sebelum saya menemukan yoga ini, tapi dari sini saya pun berpikir bila Tuhan memang punya mau, pasti segalanya terjadi.

Saya juga mau mengucapkan terima kasih pada semua guru-guru yoga saya di Fitness First yang selama ini mengajarkan yoga kepada saya, semua guru-guru yoga yang saya temui di dunia luar dan teman-teman sesama pecinta yoga yang selama ini berbagi penderitaan bila dibanting di kelas yoga. Selalu ada "AC bocor" di matras kita ya hahaha.

Sekali lagi, catatan ini hanyalah sebuah catatan pribadi dari saya yang begitu mencintai yoga apa adanya. Bila ada yang tidak setuju dengan catatan ini, tolong biarkanlah saya hidup dengan yoga yang saya cintai ini. Bila ada yang setuju dan juga menyukai yoga, mari kita sama-sama bergandengan tangan berjalan di jalan yoga yang penuh cinta dan kedamaian.

Namaste!