28 December 2005

Kesabaran & Nilai Persahabatan

Tuhan baru saja memberkati saya dengan pengalaman lama tapi lebih diperdalam lagi, yaitu kesabaran. Kesabaran rupanya menjadi sahabat saya yang paling setia menemani saya dan saya juga sekarang membiasakan diri untuk dekat dan akrab dengan sifat tersebut, walau kawan-kawannya yang lain, seperti air mata dan sakit hati, suka ikut datang sebagai penggembira. Tetapi tetap saja kesabaran mendominasi jiwa saya karena saya percaya Tuhan tidak pernah tidur. Setiap kejadian pasti ada sebab, akibat dan ganjarannya. Dan saya terima semuanya dengan lapang dada. Toh, apapun yang terjadi dengan kita, tetap saja sang matahari selalu terbit di timur dan tenggelam di barat. So, apapun keadaan kita, hidup tetap terus berjalan. Itu yang saya kerjakan sekarang, yaitu meneruskan hidup saya.

Saya juga belajar bahwa beberapa kejadian mampu membuka mata saya dan menunjukkan kepada saya pengetahuan tentang siapa kawan dan siapa lawan, serta ternyata kawan bisa jadi lawan. Ternyata, beberapa persahabatan dalamnya hanya setipis kulit ari yang mampu terkoyak jika digaruk sedikit. Kalau yang menggaruk adalah saya, tentunya saya akan minta maaf, hal yang saya rasa jarang tidak saya lakukan. Tapi kalau yang menggaruk adalah orang lain, terkadang terjadi suatu ajang pembantaian tanpa ada kesempatan untuk membela diri. Yah begitulah hidup, jangan berharap semuanya sesuai rencana kita dan keinginan kita.

Salam,
Astrid


22 December 2005

Happy Mother’s Day

A piece of the wishes that I sent on Mother’s Day to my Beloved Mom:



Dear Beloved Mother,

Happy Mother’s Day.

I hope God always makes you happy, protects you, and keeps you away from all the bad things in life.

Thank you for the lesson of patience and good ethics of life.

Whatever that anybody said, whoever she / he is, you are my Mother and I care about you.


Love,
Astrid Amalia

Selamat Hari Ibu

Sepenggal ucapan Selamat Hari Ibu untuk Mamaku tercinta:



Dear Mama Tersayang,

Selamat Hari Ibu.

Semoga Tuhan selalu mambahagiakanmu, melindungimu dan menjauhkanmu dari hal-hal yang tidak baik.

Terima kasih atas pelajaran kesabaran dan budi pekerti yang kau ajarkan.

Apapun yang dikatakan yang lain, siapapun dia, Mama adalah Mamaku dan aku sayang padamu.


Love,
Astrid Amalia

29 July 2005

Kopi Bengkulu vs. Kopi Sidikalang

Pada suatu hari, saya kaget karena menerima email dari Shanty yang menawarkan apa saya mau mencoba kopi dari Bengkulu. Apa? Wah, saya tidak pernah mengatakan tidak untuk kopi. Tidak mungkin lah yaw! Akhirnya kami mengatur waktu untuk ketemuan di salah satu tempat saya suka bersembunyi yaitu sebuah kafe di bilangan Sudirman.

Ketika kami bertemu di tempat kejadian perkara yang telah ditentukan sebelumnya, Shanty yang rupanya sangat pemalu dan pendiam ini langsung menyerahkan sebungkus plastik kopi Bengkulu. Shanty meminta kopi ini dari seorang sahabatnya hanya untuk diberikan pada saya. Keluarga sahabatnya ini memiliki perkebunan kopi di Bengkulu. (Wah, betapa baiknya dirimu, Shanty. Trims ya). Shanty sendiri mengakui kalau dia tidak suka ngopi yang berasal dari biji kopi asli karena dia lebih memilih untuk ngopi dari kopi instant hanya untuk menghilangkan rasa kantuk yang melanda matanya.

Ketika ngobrol ngalor-ngidul, saya sempat menyebut bahwa kadang-kadang kualitas kopi bisa berubah menjadi tidak enak kalau kita terlalu lama menyimpan kopinya. Shanty langsung minta maaf karena tidak langsung memberikan kopinya begitu dia menerima kopinya. Saya sih bilangnya gak apa-apa. Yah, saya mah gak perduli soal kualitas kopi, terutama bila saya dikasi kopi yang belum pernah saya coba. Yang penting khan kondisinya masih bagus. Ya, kopi Bengkulu memang baru untuk mulut saya. Selain itu, walaupun Shanty sudah menyimpannya selama 2 minggu, saya pikir sih kondisi kopinya sendiri masih baik karena saya masih bisa mencium aroma kopinya bahkan sebelum kopi itu dibuka. Kopinya beraroma coklat. Hah, coklat? Saya juga kaget bahwa saya akan mencium bau coklat dari kopi ini. Sangat menarik!

Di rumah, ketika saya membuka bungkus plastiknya, kopi ini ternyata berwarna coklat tua. Sewaktu saya mencium biji kopinya, bau coklat yang kuat menyeruak ke dalam hidung saya. Ketika diseduh dengan air panas, saya bisa mencium bau yang merupakan campuran dari aroma coklat dan aroma kopi robusta. Baunya berkarakter antara lembut dan dalam. Ketika diminum, kopi ini terasa lembut sekali, tapi anehnya aroma coklat yang tadi saya cium tidak terdapat di mulut saya sedikit pun. Mulut saya sih bilang kalo kopi Bengkulu ini adalah robusta asli dan punya rasa yang dalam tapi lembut. Aha! Inilah alasan kenapa saya begitu menyukai proses pengicipan kopi. Kadang-kadang kita tidak bisa menilai rasa kopi dari aromanya karena aroma kopi bisa berbeda dari rasa kopi itu sendiri.

Saya mencoba membandingkan kopi Bengkulu ini dengan kopi Sidikalang yang saya terima dari Tiur. (Thanx ya, Ito Tiur). Kopi Sidikalangnya cap Sarang Tawon dan diproduksi oleh pabrik Tunggal Jaya Prima di Medan ini. Rasa dari dua kopi ini hampir sama, tapi tetap saja karakter kopi Sidikalang ini sangat kuat sekali, baik di aroma dan rasa, dan tentu saja tanpa aroma coklat. Buat yang mau ngopi kopi yang mirip-mirip kopi Sidikalang tapi tidak bisa bertoleransi dengan karakternya yang kuat, mungkin kopi Bengkulu bisa dijadikan pilihan alternatif ngopi yang nikmat. Ini semua karena hampir semua aspek dari kopi Bengkulu hampir sama dengan kopi Sidikalang, hanya saja kopi Bengkulu datang dalam versi yang lebih lembut.

Yak, memang nikmat sekali ngopi kopi Bengkulu ini pada saat kita ingin menikmati kopi robusta yang lembut, mungkin di sore hari bersama teman-teman dengan topik pembicaraan yang ringan-ringan saja. Hmmm…….

Salam ngopi di siang hari ketika rasa ngantuk melanda dengan hebatnya.

Bengkulu Coffee vs. Sidikalang Coffee


One day, I was surprised that an email-pal, Shanty, asked me whether I wanted to taste coffee from Bengkulu or not. What? Well, I did not say no for coffee. Impossible! So we arranged sometime to meet each other in one of my favorite café in Sudirman area.
During our meeting, the shy Shanty handed over a big plastic bag of Bengkulu coffee. Shanty asked the coffee from her friend just for me. The family of her friend has a coffee plantation back in Bengkulu. (Wow, what a nice person you are, Shanty. Thanx). Shanty admitted that she does not like coffee bean that much as she prefers to drink instant coffee to kill her sleepy feeling.
When I explained that the quality of the coffee would go bad when we keep the coffee for the longer time, she was then sorry not to give the coffee right after she received the coffee from her friend. Then I said that was okay. Well, if it is a new kind coffee that I had never tasted, then I do not care as long as it is still in good condition. Yup, Bengkulu coffee is new to my mouth. Besides, although she had kept the coffee for two weeks, I think the condition of the coffee was still good as I still can smell its strong aroma even before I opened the plastic bag. It had a chocolate aroma. Chocolate? I was surprised too that I would experience a chocolate flavor from this coffee. Very interesting!
At home, as I opened the plastic bag, the color of the coffee was dark brown. As I smell the coffee bean, a strong chocolate flavor came to my nose. When I mixed the coffee with a hot water, I can smell a mix of chocolate aroma and Robusta coffee aroma. The smell is between smooth and deep. When I drunk the coffee, the taste was so smooth, but surprise that the chocolate aroma that I smell did not reflected in my mouth. My mouth said that the coffee is purely Robusta and had a deep taste but still smooth. Aha! This is why I like the process of coffee cupping. Sometimes you cannot judge the taste of a coffee from its aroma as the aroma might be different from the taste.
I compared the Bengkulu coffee with Sidikalang coffee that I received from Tiur. (Thanx, Tiur). The brand of the Sidikalang coffee is Sarang Tawon (Bees' Nest) and produced by Tunggal Jaya Prima in Medan. The taste of the two coffees was almost the same, but still the Sidikalang coffee is stronger in aroma, smell and taste, and of course without the chocolate aroma. For those who wanted a similar coffee like Sidikalang coffee but could not tolerate its strong character, I may suggest to try the Bengkulu coffee. Almost all aspects of Bengkulu coffee is the same like Sidikalang coffee, only it comes in a softer version.
Yep, nice to drink this Bengkulu coffee in a moment when you really want to enjoy smooth coffee, maybe in the afternoon with some friends and with a light topic to talk about. Hmmm….
Have a nice cup of coffee!!!