02 August 2004

COFFEE CUPPING - CASWELL

Caswell's
Jl. Kemang Utara 19 A
Jakarta
Tel: 021-719-0280

Acara coffee cupping dimulai dengan "Kuliah Pagi di Hari Sabtu"dengan mata pelajaran Pengetahuan Dasar Mengenai Kopi yang diterangkan oleh "Pak Dosen" Eris dari Kampus Caswell's Mom…hehehehehee….

Kopi pada umumnya terbagi 2 jenis, yaitu arabika dan robusta. Indonesia sendiri adalah penghasil kopi robusta sebanyak 80 % dan arabika 20 %. Selain itu, ada pula jenis Maragocef (ini nulisnya bener gak sih) alias kopi gajah, karena bentuknya yang lebih besar dari ukuran biji kopi biasa. Jenis yang lain adalah Liberica dari Liberia.

Perbedaan robusta dengan arabika adalah biji nya robusta berbentuk bulat dan bergaris tengah lurus, sedangkan biji arabika berbentuk lonjong dan bergaris tengah bergelombang. Pohon dari robusta sendiri tingginya mencapai 10 meter dan tumbuh di areal yang terletak kira-kira 80 meter diatas permukaan laut, sedangkan pohon dari arabika tingginya hanya mencapai kira-kira 6 meter dan tumbuh di areal yang berada 1200 meter diatas permukaan laut. Soal kafein, robusta memiliki 2,8 % sampai 4 % kandungan kafein, sedangkan arabika hanya mempunyai 1 % sampai 1,7 % kandungan kafein.

Dari sini bisa ditarik garis kenapa arabika sering disebut sebagai "wine" nya kopi. Harganya pun mahal, yaitu Rp. 60.000 / 120 gram, dibandingkan dengan robusta yang hanya berharga Rp. 15.000 /120 gram nya. Oleh karena itu, robusta paling banyak di pake sebagai bahan dasar untuk pembuatan kopi instant. Karena kalo untuk kopi instant yang dipake adalah arabika, berapa banyak tuh kopi arabika yang dipake demi mencapai kadar kafein yang di inginkan serta harganya yang pasti sangat mahal.

One of the best kopi di Jawa berasal dari Jember, yang namanya Java Jampit. Untuk yang lain, maaf….saya lupa tuh.

Soal roasting alias goreng-menggoreng biji kopi, yang tertinggal dikepala saya cuma French Roast dan Italian Roast. French Roast itu warnanya medium alias coklat, sedangkan Italian Roast itu dark to medium, dari hitam ke coklat. Yang ini perlu di explore lagi, takut salah. Abis gak nyimak sih…heheeheheeee…..

Soal aroma, ternyata kopi Indonesia lebih beraroma ke arah light chocolate, sedangkan kopi dari dataran di Amerika ber aroma nutlight dan kopi dari dataran Afrika beraroma lebih fruity, acid dan sweet.

Soal ngopi, ternyata espresso lebih aman daripada kopi tubruk. Soalnya, di dalam espresso hanya terkandung 90 miligram kafein, sedangkan kafein di kopi tubruk bisa mencapai 160 miligram. Ini karena cara pembuatan espresso yang uap air panasnya yang "sekedar" lewat doang diantara biji kopi, sedangkan kopi tubruk itu kan diaduk di dalam gelas dengan air panas dan diendapkan untuk waktu yang lama. Nah kafein di dalam kopi tubruk ini lah yang keluar terus selama bubuk kopinya mengendap di gelas ini. Serem deh ah…

Kafein ternyata baru bereaksi di dalam tubuh 75 menit setelah kita mengkonsumsi kopi dan akan bertahan ditubuh selama 8 jam. Auwww…..

Nah, setelah itu, mata pelajaran selanjutnya yang di ajarkan masih dengan dosen yang sama adalah mata pelajaran "Coffee Cupping".

Coffee Cupping itu ya sama aja artinya dengan Coffee Tasting, yaitu mengenali kopi lebih dalam dari warna, aroma, rasa, dll.

Sebelum sesi cupping dimulai, Mas Eris udah wanti-wanti untuk menyeruput kopinya dengan cepat, sehingga semua syaraf lidahnya bekerja. Ini karena syaraf lidah kita itu mengenali beberapa rasa ditempat tertentu, seperti lidah bagian ujung depan yang merasakan manis, bagian samping kiri kanan yang merasakan asam, bagian tengah depan yang merasakan asin serta bagian tengah belakang yang merasakan pahit. Jadi supaya semua rasa terdeteksi, maka kita harus terbiasa untuk menyeruput kopi dengan cepat dan berbunyi…..prrruuuutttt…….heheheheheeeee………

Di depan masing-masing peserta, ada 4 tatakan yang berisi 2 jenis kopi yang belum dan sudah digoreng, lalu ada satu gelas untuk membuang segala ampas kopi, 2 gelas yang berisi bubuk kopi yang akan kita pake untuk cupping dan satu gelas air putih untuk menetralisir rasa kopi di mulut. Ada juga 2 carik kertas, kertas pertama berisi tabel untuk mengukur kopi itu sendiri, mulai dari tabel aroma dan rasa, sampe tabel tingkat kerusakan kopi. Kertas kedua adalah form untuk cupping itu sendiri yang memuat Agtron number alias tingkat kegosongan, fragrance, aroma, acidity, flavor, body, aftertaste, dan cupper's points.

Kata mas Eris, proses dari agtron sampai aroma dapat dilakukan barengan, sedangkan proses selanjutnya harus dipisah antara kopi A dan B. Ini untuk menghindari kontaminasi rasa antara satu kopi dengan lainnya.

Satu hal, kami tidak diberitahu jenis kopi apa saja yang kami pakai untuk cupping ini. Katanya Mas Eris sih agar penilaian kita terhadap kopi nya netral.

Lain hal, semenjak saya duduk di meja dan selama mendengarkan perkuliahan tentang kopi ini, saya terus menerus ngunyahin biji kopi yang ada di depan saya, tentunya yang udah dimasak ya. Entah sampe berapa biji, mungkin lebih dari 15 butir kali. Abis enak sih...kriuk....kriuk.....

Awalnya, kami diminta untuk melihat tingkat kegosongan dari 2 kopi A dan B. Point untuk tergosong adalah 25. Penilaian saya untuk kopi A adalah 60 (gak terlalu gosong) dan kopi B adalah 50 (agak-agak sedikit gosong). Mas Eris buka rahasia bahwa proses roasting 2 kopi ini hampir sama yaitu medium.

Selanjutnya, soal fragrance, pointnya adalah 1 sampai 10. Penilaian saya untuk kopi A adalah 3, karena baunya yang soft dan kurang nendang. Sedangkan kopi B ber-point 7 karena bau nya yang kuat.

Sebelum lanjut ke aroma, 2 gelas yang berisi bubuk kopi itu pun diseduh dengan air panas. Lalu mulai deh kita ngaduk-ngaduk dan sibuk ngambilin biji kopi yang ngambang di permukaan gelas.

Soal aroma, pointnya tetep 1 sampai 10. Saya menilai kopi A dengan point 8 dan kopi B dengan point 4. Ini karena ternyata kopi A, setelah diseduh, baunya jadi enak dan kadang-kadang ada sedikit bau cabe menyeruak di sela-sela saya sniffing. Sedangkan kopi B, setelah diseduh, bau nya jadi agak kurang ya di hidung saya.

Nah, setelah proses mengenali aroma, kami hanya boleh meneruskan cupping antara kopi A dan B secara terpisah.

Menurut penilaian saya, kopi A acidity nya berpoint 3 karena rasanya yang soft. Enak sekali rasanya di mulut saya yang memang menyukai kopi tubruk tanpa gula. Untuk flavor, yaitu perpaduan antara aroma dan rasa, kopi A berpoint 7 (agak outstanding), karena baunya yang sangat spicy dan rasanya yang sangat smooth. Untuk body, saya menilai kopi A dengan angka 4 karena mulut saya merasakan "light' nya kopi ini. Setelah di teguk, aftertaste dari kopi A ini adalah 4, karena setelah hilang ke tenggorokan, saya tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Gak ada rasa yang tertinggal di mulut.

Sedangkan kopi B, urutan penilaian saya mulai dari acidity, flavor, body dan afttertaste adalah 7, 5, 9, dan 7. Ini karena kopi B kadar keasaman nya yang cukup terasa di mulut. Soal flavor, kopi B ternyata biasa aja ya aroma dan baunya ketika diminum. Tetapi bodynya kopi B saya akui cukup berat karena terasa sekali kekentalan kopi nya di mulut saya. Setelah diteguk habis, ternyata kopi B masih meninggalkan rasa beberapa menit di mulut saya. Ini mungkin karena karakter nya kopi B yang strong dan deep ya.

Akhirnya, pada penilaian akhir, saya kok lebih menyukai kopi A yang spicy dan smooth daripada kopi B yang strong dan deep.

Pada sesi terakhir, Mas Eris buka rahasia bahwa jenis kopi A adalah Java Jampit dan jenis kopi B adalah Mexico Organic.

Akhirnya, sesi coffee cupping ini pun berakhir, yang dilanjutkan dengan nge-sandwich di tempat yang sama. Sandwich nya enak-enak deh, dan ukurannya itu lho yang sangat tidak manusiawi bagi yang sedang diet....heheheheee......

Terima kasih saya terutama untuk "Pak Dosen" Eris (yang sangat telaten ngajarin kita-kita soal kopi) serta mbak Linda (ikutan jadi seksi repot) dari Caswell's, dan juga untuk para peserta yang datang ke acara ini, yaitu Diniarty Pandia, Siska Yuanita, Hetih, Sita Dewayani, Bulan Sastranegara (yang ternyata sejatinya adalah wanita tulen.....hehehehehe), Henry Santoso, Febi, Icil (Sure you can do...the healthy diet....heheehehee), Herlina Pertiwi, serta Tonny Widjaja (yang kakeknya punya pabrik kopi) dan sang istri tercinta, Fenti, yang juga sekalian ngeboyong baby nya yang katanya juga suka ngopi. Wah...mau ngalahin saya ya???

Salam,
Astrid


19 July 2004

Coto Konro Marannu + MKG + Sate Padang Mak Adjat + Tahu Pong

Temans,
 
Setelah menghadiri Ultah Pak HOK Tanzil yang menghebohkan itu (karena, selain makan Lontong Cap Gomeh dan minum jus Jeruk Nipisnya, saya juga memberi bonus ciuman dan pelukan mesra kepada the Birthday Boy. Mumpung…mumpung nih…), maka saya, Grace, Sisca dan Indra...seperti biasa…melaksanakan kebiasaan kami untuk lanjutsutra. Seperti nya banyak teman lain yang mau ikut. Tapi mereka selalu tanya: "Mau lanjut kemana?"
Untuk pertanyaan ini, kami tidak berani menjawab secara pasti. Ini semua karena peraturan dasar dari lanjutsutra nya adalah: Jadwal dan rute bisa berubah tanpa pemberitahuan sebelumnya!! Hehehehehe.....
Awalnya Susi Purnamawati mau ikutan lanjutsutra, tapi ternyata ada duty call...entah dari siapa.
 
Akhirnya, empat sekawan ini pun memutuskan untuk menyatroni Coto Konro Marannu di sebrangnya Mall Kelapa Gading. Disini kita makan Konro Bakar, Coto, Buras, Es Palubutung dan Es Pisang Hijau. Konro bakarnya enak banget lho. Gurih banget dan bumbunya meresap ke dalam. Steak ala Makassar nih. Tapi ukuran dagingnya tidak sebesar yang ada di Daeng Tata. Gak apa-apa deh, apalagi bagi yang diet seperti saya khan porsinya OK juga. Buras nya juga gurih, bentuknya kayak arem-arem tanpa daging. Es palubutung nya OK, tapi saya lebih menyukai Es Pisang Hijaunya. Pisangnya dibalut sama tepung berwarna hijau, persis kayak Nogosari tanpa daun.....hehehehehe.....trus dimakan dengan serutan es, susu, bubur sumsum, dll. Seger betoel.
 
Dari Coto Konro ini, kami meneruskan "arisan" kami ke Kelapa Gading Mall. Duh...basi bener ya! Sempet ada pemikiran untuk creambath dan potong rambut ala KD, tapi gak jadi. Emangnya Indra mau dikemanain???? Setelah jalan-jalan, kami menyempatkan mampir ke Cinnzeo, resto yang spesialisasinya di roti rasa kayumanis. Disini kami memesan espresso (my order, as usual), green tea ice dan caramel ice coffee (CMIIW dong). Semuanya enak. Kami sempat juga icip-icip sample dari roti-roti yang di jual di sini. Enak banget deh, rasanya gurih dan kayu manis sekali, ada yang creamy, ada juga yang crispy dan crunchy. Saya pun sempet ngambil beberapa kali kue sample nya ini, mumpung gratis. (Duh, Trid...!!).
Kayaknya next time bakalan kesini lagi untuk makan roti disini dengan cara yang "baik dan benar" alias beli beneran.....gak hanya icip-icip sample nya doang......
 
Dari KGM, kami melanjutkan kalapsutra kami ke Sate Padang Mak Adjat di Gunung Sahari depan hotel Golden. Jauh aja yeeee....
Kiosnya ini pinggir jalan style deh. Sate padang nya dateng dalam kedaan panas berisi beberapa tusuk sate, potongan lontong dan saus nya yang meluap-luap. "Saus" nya berwarna kuning butek, rasanya gurih dan agak sedikit pedes. Wuihh.... Ini enak banget, saking enaknya....Grace dan Indra berebutan saling "ngoretin" sausnya dengan Krupuk Jangek nya. Akhirnya saya pun tergoda untuk melakukan hal yang sama terhadap saus sate padang yang masih tersisa di piring. Sedapnya.... Sepiring sate padang ini dibandrol seharga Rp. 12,500.
 
Dari Sate Padang, kami melanjutkan ke Tahu Pong di Hayam Wuruk, sebrangnya Carrefour. Seperti halnya sate padang Mak Adjat, kios tahu pong ini juga di pinggir jalan. Tahunya enak, crispy gitu, dengan gimbal alias bakwan udang serta saus kecap yang melengkapi kenikmatan bertahu pong ini. Rupanya, karena duduk kelamaan tanpa order lagi, maka Grace pun ngoretin kecap nya yang tersisa di piring kecil. Maka, untuk mengantisipasi musibah yang lebih memalukan lagi, maka kami pun segera angkat kaki dari kios tahu pong ini.
 
Alhasil, malam itu kami pulang dengan perut kenyang. Wah....mesti jauh-jauh dari timbangan nih. Dan yang perlu dipersalahkan adalah Grace. Kenapa? Karena semua tempat-tempat yang kami kunjungi malam itu semuanya berdasarkan atas usulan beliau. Hmmm, diam-diam rupanya usus perutnya Grace panjang bener yeee.... (Thanx ya, Grace.)
Sisca pun malam itu tampak lebih pendiam. Ada apa gerangankah? Tenang....tenang... Sisca ini tampak lebih pendiam bila sedang "menghayati" makanan yang ada di mulut...hehehehehe...
 
Pagi ini pun saya masih mengunyah mode on....makanin Kue Sus yg dibeli Sisca di Pasar Petojo. Nyam..nyam.... Tapi cuma sebungkus, karena sebungkus yang lain di "jajah" oleh Papa saya sebagai sarapannya. Yah, si Babe :((
[Thanx ya, Sis.]
 
Salam kenyang betoel,
Astrid

21 June 2004

INFO: Resto Ambai - Melawai


Temans,

Beberapa waktu lalu, saya diajak Tina, salah seorang warga kampung JS, untuk ngunyah-ngunyah di:

Resto Ambai
Jl. Melawai VIII / 4
Jakarta
Tel: 7279-8463

Cara makan kami itu makan tengah alias sepiring hidangan untuk
berdua. Eittsss....ini bukan untuk mesra-mesra-an. Ini supaya jenis makanan yang kami makan bisa bermacam-macam.

Dibawah ini adalah daftar makanan yang dipesan.

Maguro Tataki Salad (salad ikan tuna dan irisan bawang). Hidangan
ini enak lho. Rasanya seger-seger kecut. Seger nya dari tuna nya
yang dingin dan kecutnya dari saus nya. Irisan bawang gorengnya juga kriuk-kriuk sekali deh.

Saikoro Steak (steak daging yang dipotong kotak-kotak kecil).
Hidangan ini sebenernya enak, karena bumbu nya pas banget, gurih
lah. Tapi waktu itu, daging yang dihidangkan kok agak keras dan
sangat well done alias agak gosong ya. Hidangan steak ini dihidangkan bersama dengan 2 jenis jamur, parika merah, ubi rebus
dan sebonggol bawang putih masak. Bawang putihnya unik deh, karena bawang putih sebonggol ini dihidangkan utuh dengan bonggol dan kulitnya. Tapi sumpeh deh, bawang putihnya ternyata juga enak karena sudah dimasak dengan saus.

Yaki Chamembert (keju chamembert diatas piring). Keju Chamembert ini dituang diatas irisan French bread. Kebayang khan gimana nikmat nya hidangan yang satu ini. Enak sekali! Asinnya si keju cukup nendang walau baunya juga sangat nendang sampai-sampai saya merasa makan keju ini disamping kambing. Roti nya juga cukup pas memanggangnya, kering sampai kedalem-dalemnya tapi tidak gosong.

Jaga Cheese (keju diatas kentang panggang). Wah....ini bener-bener makanan kesukaan saya. Simple but delicious. Lapisan kejunya tebel lho. Nyam...nyam.....

Namagaki Oyster (Tiram dari Tasmania). Ini adalah makanan yang
paling saya favoritkan. Tiramnya – kelihatannya mentah ya – yang
masih nempel di cangkangnya di siram dengan perasan jeruk lemon dan saus asin yang disediakan bersama dengan hidangan ini. Lalu abis itu di seruput dan dikunyah. Slurrrpppp....hmmm.....enak sekali.

Total kerusakan yang timbul adalah Rp. 300 ribu plus plus.

Memang harga makanan di resto ini terhitung mahal, service charge
nya aja hampir Rp. 25 ribu. Tapi kwalitas dari makanan nya OK punya tuh dan enak-enak semua deh. Ini terlihat dari para tamu yang datang ke resto ini yang hampir semuanya adalah orang Jepang.

Resto ini juga punya sudut Sushi Bar. Jadi, kalo kita pesen sushi di sudut ini, sang pelayan akan membuat sushinya di depan kita secara live (kayak nonton bola aje).

Saya dengar dari Tina, pemilik dari resto ini adalah orang Jepang
yang juga sekaligus merangkap sebagai chef nya. Namanya Oga. Ketika si Tina menunjuk yang mana yang namanya Oga, wah saya jadi pengen makan di resto ini lagi nih. Enak khan.....makan enak di resto sekalian cuci mata ngeliatin pemiliknya yang ehm....ehm....mirip pemainnya Meteor Garden.

Oh ya....minuman ocha alias teh disini gretong lho *bencong mode
on*....alias gratis bow....

Salam makan,
Astrid


KELUHAN: Resto Time Break - Plaza Semanggi

Temans,

Setelah nge-Li Yen bersama saudara-saudara sekalian se-JS, saya
bersama teman-teman mampir ke Resto Time Break di Plaza Semanggi
alias Plangi.

Pengennya sih duduk-duduk santai sambil ngobrol en ngegosip kayak
ibu-ibu arisan panci bolong. Tapi ternyata keinginan tersebut GATOT alias gagal total, akibat pelayanan dan mutu makanan dan minuman yang ada disini.

Sejak awal kami duduk di resto ini dan melihat menu yang ada, sang pelayan secara terus menerus - dan kelihatannya sih sedikit memaksa – menawarkan sebuah jenis minuman walaupun kami belum menanyakan apa-apa. Nama jenis minuman nya saya lupa….tapi kalo di lihat di menu itu termasuk cocktail dan harganya paling mahal lah di menu itu. Karena tidak ada tanggapan dari kami yang sebel dan saling lirak-lirik satu sama lain karena sebelnya, maka sang pelayan pun lagi-lagi menawarkan jenis minuman lain yang jenisnya dan harganya sama. Duhh…..nyebelin deh. Waktu itu, saya pengen banget nanya: "Mbak, kok maksa sih? Lagi kejar setoran ya?"

Yang kedua, kopi Vietnam yang dipesan salah satu dari kami itu cara penyajiannya salah dan air kopinya luber kesana-kemari. Ketika saya minta untuk di benarkan cara penyajian kopinya, minuman selanjutnya yang datang adalah kopi yang sudah di saring dan sudah ada di dalam gelas, tanpa saringan ala vietnamnya. Lho, ini kopi vietnam atau kopi tubruk, sih?

Yang ketiga, para pelayannya selalu membersihkan minuman kami yang belum habis betul alias tandas. Jadi, minumannya itu masih ada sedikit. Walau cuma tiinggal sedikit, kira-kira se shot lah....tapi khan belom habis. Kok sudah langsung diambil?

Pokoknya total experience di resto ini sangat mengecewakan.

Waktu saya bertukar pikiran dengan salah satu teman yang memang suka makan-makan, dia juga mengalami hal yang sama, bahkan dia bilang makanan di resto ini gak enak dan mahal-mahal. Totally not
recomended untuk di kunjungi lah.

Pikir-pikir....daripada bete di restoran yang kejar setoran seperti Resto Time Break ini, mendingan ke BreadTalk yang letaknya bersebrangan dengan resto ini. Biarpun ngantri, tapi roti nya BreadTalk enak kok.

Salam asem dengan penuh kekecewaan,
Astrid


11 June 2004

INFO: Ngunyah Biji Kopi & White Coffee

Temans,

Ngopi? Ah, itu biasa.
Ngunyah biji kopi? Nah itu dia....

Kebetulan beberapa waktu lalu saya di oleh-olehi snack biji kopi dari teman yg baru pulang dari Malaysia dan sekitarnya.

Judul dari snack biji kopi adalah Danson – Espresso Coffee
Chocolate. Iya, biji kopi ini - Roasted Espresso Coffee Bean -
ternyata bersalut coklat tebal.

Snack biji kopi ini dibeli di toko coklat yg nama dan alamatnya di:

Cocoa House
Circle Side Sdn Bhd
No. 39, Jl. Inai, Off Jalan Jambi
55000 Kuala Lumpur
Malaysia
Tel: 603-2141-7010

(Buat yang seneng coklat, kalo ke Malaysia perlu ke toko ini kali
yeeeee..... Denger-denger, toko ini juga jual bahan lainnya,
termasuk white coffee).

Rasanya snack biji kopi ini menarik sekali.....
Gigitan awal...kita merasakan coklat yang menutupi biji kopinya.
Rasanya ya coklat lah....
Ketika gigitan kita mulai agak dalam dan membelah snack biji kopi
ini yg berbentuk bulat, nah....mulai terasalah rasa pahitnya biji
kopi yang menyela diantara manisnya coklat.....
Dan ketika dikunyah betul-betul coklat dan biji kopinya....hmmm.....pas sekali perpaduannya....manis-manis
pahit....hehehehheeeee.

Bagi para pecinta kopi di Jakarta yg memang doyan ngunyah biji kopi, jangan kuatir!
Ternyata di Jakarta juga ada kok produk sejenis. Salah satu tempat ngopi di Jakarta juga menjual snack biji kopi. Tempat ngopi tersebut adalah:

Caswell's Mom
Jl. Kemang Utara 19
Jakarta

Tapi, tentu ada perbedaan dong.
Snack biji kopi nya Caswell's Mom itu biji kopinya lebih kecil dan salutan coklatnya juga lebih tipis. Ketika di tutup oleh lapisan coklat, biji kopi nya masih bersatu.
Kalo snack biji kopi nya Danson itu biji kopinya di pisah dulu baru dilapisi coklat lalu di satukan dan dibentuk seperti kelereng kecil.
Gak heran kalo snack biji kopi nya Danson ini terasa lebih agak
manis dibanding dengan produknya Caswell's Mom.

Tapi, hati-hati ya. Jangan mentang-mentang ini snack, lalu dimakan se enak nya aja. Biji kopi ya pasti ada kadar kafeinnya lah (nenek-nenek ompong juga tau khan!!!)
Untuk informasi saja, setelah saya mengunyah kira-kira 5 snack biji kopi ini, ternyata jantung saya agak berdebar-debar dan mata saya langsung 'siaga satu'. Ternyata, snack biji kopi ini pengaruh nya sama gila nya di badan kita dengan kalo kita minum seduhan kopi.

Sebagai tambahan, saya juga sempat icip-icip produk instant white
coffee dari toko yang sama. Karena dikasi sachet-an, tanpa bungkus aslinya, maka saya gak bisa terlalu dalam menceritakan produk ini.
Tapi saya kok senang sekali ya dengan citarasa dari kopi putih
instant ini. Rasanya mild, agak manis walau belum dikasi gula dan
agak creamy. Hmmm.....
Jangan-jangan ini hanya kopi instant biasa yang dicampur creamer ya.
Wah....BYKS (Benerin Ya Kalo Salah) pisan eeeuuuyyy....

Salam ngopi,
Astrid