30 December 2013

KETIKA AKU MENEMUKAN TUHAN DI JALAN KATOLIK



Gereja Santa Theresia, Jakarta


Cerita ini adalah pengalaman pribadi dan perjalanan spiritual dan rohani penting didalam hidupku. Aku harap cerita ini dibaca dengan mata dan hati yang terbuka. Terima kasih banyak.

--------------------------------

Pada suatu hari di bulan Maret 2013, pada saat sebelum mengajar yoga di sebuah studio yoga, aku merasakan kekosongan jiwa yang begitu mendalam. Hati ini rasanya bergejolak terus mencari sesuatu yang tidak aku ketahui bentuknya. Pada waktu itu, aku mencoba menenangkan jiwa dengan doa yang pada waktu itu aku ucapkan sehari-hari dari agamaku yang dulu, namun tetap saja jiwa ini terasa hampa. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku untuk mengucapkan doa Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan di dalam hati. Doa-doa ini kupelajari pada saat aku bersekolah di sekolah Katolik. Ajaibnya, setelah selesai mengucapkan tiga doa tersebut, hati dan jiwa ini terasa nyaman, bahagia dan penuh. Tak ada lagi kekosongan batin yang meresahkan jiwa. Sepertinya ada sesuatu yang memenuhi jiwa ini yang membuat aku merasa tenang dan damai.

Dari kejadian ini, timbul keinginan dari diriku sendiri untuk pergi ke gereja dan mencoba beribadah di sana. Rencana ini harus kutunda karena pada akhir bulannya, aku harus ke Bali untuk menjadi sukarelawati di acara Bali Spirit Festival. Memasuki pertengahan bulan April, aku pun mulai pergi beribadah di gereja, tempat dimana aku menemukan kedamaian yang luar biasa. Bahkan perjalanan menuju ke gereja pun terasa penuh keajaiban dan kebaikan.


Gereja Kristus Raja, Jakarta


Pada saat mau berangkat ke gereja, semuanya terasa lancar, bahkan pada jam-jam mustahil dimana semua kendaraan keluar pada saat jam pulang kantor atau pada saat ketika cuaca tidak memungkinkan. Ada saat-saat dimana ada hujan datang, ada kemacetan di jalan raya, dan ada kesulitan mencari transportasi. Namun dengan selalu mengucapkan tiga doa yang kusebutkan diawal cerita ini, hujan berangsur-angsur berhenti, jalanan terasa lancar dan transportasi selalu ada di depan mata. Buatku, ini adalah keajaiban yang hendak ditunjukkan Tuhan padaku dan bukan kebetulan semata. Aku percaya bahwa tidak ada kata kebetulan didalam kamusnya Tuhan.

Pada saat memasuki lingkungan gereja, pada saat misa akan dimulai, akan terdengar bunyi lonceng kecil di gereja yang menandakan bahwa misa akan segera dimulai. Bunyi lonceng gereja ini begitu lembut dan pelan, dan hanya terdengar di dalam lingkungan gereja dan untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Dari sini saja, aku sudah bisa merasakan bahwa panggilan untuk beribadah yang lembut ini bisa jadi merupakan simbol bahwa Tuhan di agama Katolik ini begitu lembutnya memanggil para umat-Nya.


Gereja Santa Theresia, Jakarta


Pada saat duduk di dalam gereja dan mengikuti ibadahnya, aku begitu mengenal bahasa yang dipakai didalam ibadahnya. Kadang-kadang, aku mengikuti misa dalam bahasa Indonesia. Kadang-kadang juga, aku mengikui misa dalam bahasa Inggris. Aku begitu mengenal dua bahasa ini, sehingga ketika doa diucapkan, doa tersebut begitu merasuk ke jiwaku dan dapat kumengerti dan kucerna dengan mudah. Doa-doa di misa ini begitu sederhana, pendek dan menyenangkan, karena para pastor dan para umatnya juga menyanyikan sebagian dari doa yang diucapkan. Semua doa yag diucapkan dan dinyanyikan oleh para pastor dan para umat dan semua firman yang dibagikan oleh para pastor berisi tentang cinta kasih, kebaikan, pengampunan dan keagungan Tuhan. Kadang-kadang, para pastor juga berbagi cerita tentang sikap gereja mengenai topik-topik dan permasalahan yang sedang populer di masyarakat, namun pembahasannya melalui pendekatan cinta kasih dan kebaikan. Bahkan ada salah satu pastor yang selalu meminta para umatnya untuk memegang hati kami sendiri sebelum mendengarkan firman Tuhan yang akan ia bagi dan berdoa agar hati kami dapat terbuka untuk menerima firman dari Tuhan. Biasanya, mendengar firman Tuhan dari pastor yang satu ini akan membuat mataku menitikkan air mata karena sangat terharu dengan caranya menyentuh hati para umat. Sungguh semua ibadah yang ada di gereja ini membuat hatiku menjadi lebih damai dan bahagia.
Di dalam ibadahnya, laki-laki dan perempuan diletakkan sejajar dan dapat duduk bersama saling berdampingan. Aku pun sebagai perempuan dapat beribadah kapan saja aku mau, bahkan ketika aku mendapatkan halangan yang datang sebulan sekali itu. Tuhan di agama Katolik ini memang begitu baik hati sekali mau menerima semua umat-Nya bersama dan berdampingan tanpa harus dipisah, dan dalam keadaan dan kondisi tubuh dan kesehatan apa pun.
Berpakaian dalam ibadah agama Katolik ini pun tidak terlalu sulit dan tidak banyak persyaratan. Cukup mengenakan pakaian yang sopan dan pantas, maka kami dapat mengikuti ibadah dengan nyaman. Ini semua memang karena hanya hati yang terbuka yang dibutuhkan ketika mengikuti ibadah di gereja. Aku pun sebagai perempuan tidak perlu mengenakan kostum khusus di dalam gereja maupun di luar gereja sebagai bentuk ketaatanku pada agama Katolik ini. Buatku, terasa sekali bahwa agama Katolik ini sederhana dan tidak sulit. Agama Katolik ini pun mengajarkan bahwa keimanan tumbuh dari hati yang terbuka dan tulus, bukan dengan mengenakan kostum tertentu.


Gereja Santa Theresia, Jakarta


Setelah selesai misa, aku pun masih terus menerima kebaikan Tuhan di dalam lingkungan gereja ini.
Para pastor biasanya akan berada dibelakang gereja setelah selesai misa untuk beramah tamah dan menyalami para umatnya satu per satu, baik laki-laki dan perempuan, dan memberikan berkat kepada umatnya bila diperlukan. Buatku, bersalaman dengan para pastor ini adalah suatu berkat tersendiri. Bila bersalaman adalah tanda dari sebuah perdamaian, maka bersalaman dengan pastor adalah berkat perdamaian dari Tuhan sendiri yang diberikan melalui perantaraan para pastor ini. Terasa sejuk sekali di hati ini. Semoga Tuhan selalu memberkati para pastorku tercinta!
Pada suatu waktu, aku bertemu dengan seorang wanita dari Filipina yang membagikan satu-satunya kertas doanya kepadaku setelah misa selesai. Waktu aku menolak karena merasa tidak enak menerima kertas doa tersebut yang mungkin saja masih diperlukan oleh sang ibu tersebut, dia menyarankan aku untuk tidak perlu kuatir karena dia akan selalu mendapatkan kertas doa yang lain dari gereja. Sungguh suatu kebaikan untuk berbagi yang tulus! Kertas doa yang diberikan ibu tersebut berisi doa Koronka kepada Kerahiman Ilahi dalam bahasa Inggris yang diambil dari buku harian Santa Maria Faustina, yang akhirnya nanti menjadi nama Krismaku.
Di dalam dan di luar gereja pun kami bisa menemukan kertas doa yang tersebar di segala sudut di lingkungan gereja, baik dalam bentuk buku, selebaran, brosur dan foto kopian. Biasanya, para umat sendiri yang meletakkan kertas-kertas doa ini sebagai tanda rasa bersyukur bahwa doa-doa mereka dikabulkan oleh Tuhan.


Menuju Altar untuk memulai Proses Pembaptisan di Gereja Santa Theresia


Di dalam diriku sendiri, aku menemukan kesembuhan setelah sering mengikuti ibadah misa di gereja dan berdoa dengan cara yang sesuai dengan ajaran agama Katolik ini. Ada banyak luka batin yang berada di dalam tubuhku dan ada sesuatu yang menempel di dalam tubuhku. Dulu, dua hal yang mengganggu ini tidak mau sembuh dan hilang dari tubuhku. Setelah sering ke gereja dan berdoa dengan cara yang sesuai dengan ajaran agama Katolik, luka batin itu pelan-pelan sembuh dan sesuatu yang menempel di tubuhku pun pelan-pelan lepas dan menghilang. Kini hidupku menjadi terasa lebih ringan dan bahagia, dan aku pun merasa lebih tentram dan damai. Aku percaya bahwa Tuhan memang mau menyembuhkan aku dengan cara-Nya yang sangat istimewa ini.
Dari kegiatan di gereja, aku juga belajar tentang indahnya berbagi. Semakin sering kami berbagi, maka kami pun akan mendapatkan balasan yang setimpal, bahkan mungkin lebih baik dan meluap, yang pada akhirnya kami harus bagikan kembali. Sebuah siklus yang mengagumkan! Di gereja, kami dilatih untuk berbagi mulai dari beramal dengan memasukkan uang ke kotak kolekte, kotak pemeliharaan gereja, kotak kebersihan, dan aktif dalam berbagai kegiatan lain diluar misa. Hal-hal ini begitu membekas di pikiranku, sehingga sekarang aku senang sekali berbagi apa pun kepada orang lain.


Proses Pembaptisan di Gereja Santa Theresia, Jakarta


Akhirnya, aku memutuskan untuk menjalani proses Katekumenat, yaitu pembelajaran bagi para calon baptis (Katekumen). Bersama dengan para katekumen yang lain, kami belajar bahwa agama Katolik adalah warta gembira bagi yang mencarinya dan bahwa Tuhan itu adalah cinta kasih yang hidup di hati dan perbuatan kami. Aku sendiri pun akhirnya mengambil kesimpulan sendiri bahwa Tuhan itu harus dicari oleh penganutnya sendiri dan agama harus dipelajari oleh orang yang mau menganutnya. Pada saat menjalani proses Katekumenat ini, aku mendapatkan sekali lagi keajaiban dari Tuhan, yaitu proses pembaptisanku dipercepat menjadi awal bulan Desember 2013 dari jadwal yang seharusnya, yaitu Maret 2014. Suatu keajaiban yang luar biasa istimewa bagiku! Dari kejadian ini, aku benar-benar merasakan cinta kasih Tuhan yang luar biasa. Dia tidak mau membiarkan aku terlalu lama menunggu di depan halaman rumah-Nya untuk betul-betul masuk ke rumah-Nya. Bahkan didalam bayanganku, Tuhan tidak saja membuka pintu rumah-Nya lebar-lebar, namun Dia juga memegang tanganku dan menariknya agar aku dapat segera masuk ke dalam rumah-Nya dan memeluk-Nya dengan erat.
Kerinduanku terhadap Tuhan benar-benar terjawab ketika aku masuk ke jalan-Nya yang bernama agama Katolik ini dan menemukan-Nya di jalan ini. Tidak hanya menemukan Tuhan, namun Tuhan pun datang sendiri kepadaku dan menemui aku secara istimewa melalui segala berkat, kemudahan, kebaikan, kesembuhan dan keajaiban yang Dia tunjukkan dan berikan kepadaku. Aku percaya bahwa Dia telah menyelamatkan aku dari jalan yang kurang tepat bagi diriku.
Tuhanku yang sekarang ini begitu baik. Aku mencintai-Nya. Terima kasih, Tuhanku yang baik.


Proses Pembaptisan di Gereja Santa Theresia, Jakarta


Jadi, dulu namaku adalah Astrid Amalia. Sekarang, namaku adalah Theresia Maria Faustina Astrid Amalia. Theresia adalah nama baptisku yang kuambil dari Santa Theresia Kanak-kanak Yesus, si Bunga Kecil dan Jalan Kecil yang juga merupakan Pelindung Misi dan Doktor Gereja. Maria Faustina adalah nama Krismaku yang kuambil dari Santa Maria Faustina yang menulis buku harian tentang Kerahiman Ilahi.


Wajah bahagiaku setelah menerima Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma 


Setelah benar-benar memeluk agama Katolik secara resmi, aku benar-benar merasakan berkat Tuhan yang luar biasa indahnya. Aku sebagai manusia biasa boleh saja berusaha sekuat tenaga dengan kekuatanku sendiri, namun bila ditambah dengan doa langsung kepada Tuhan atau pun melalui perantaraan Yesus Kristus, Bunda Maria, Yosef, para Roh Kudus, para Malaikat dan para Santo dan Santa, maka hasilnya akan jauh lebih baik dan lebih dahsyat yang membuat aku kebanjiran berkat yang pada akhirnya harus dibagi kepada sesama. Sekali lagi, ini adalah sebuah siklus yang mengagumkan yang Tuhan tunjukkan padaku.



Bersama Mama dan Rekanku setelah Proses Pembaptisan di Gereja Santa Theresia

Selama menjalani proses spiritual dan rohani ini, diluar dari semua dukungan yang datang dari para sahabat-sahabatku dan sebagian kecil dari keluargaku yang mengerti aku, aku pun sempat mengalami perjalanan yang berliku yang datang dari luar diriku. Tentunya tidak ada jalan yang selalu mulus.  
Pada saat mengetahui bahwa aku sudah sering beribadah ke gereja, salah satu kerabat terdekat dari keluargaku mengatakan bahwa bila aku pindah agama, maka aku akan menambah dosa orang tuaku dan mengirimkan mereka ke neraka. Jawabanku saat itu adalah bahwa bila ada yang harus terkirim ke neraka, orang tersebut adalah aku, karena keputusan untuk pindah agama itu datang dari diriku sendiri. Orang tuaku malah akan masuk surga karena telah memberikan dasar pendidikan beragama yang lebih dari cukup, yaitu pendidikan agama yang dulu aku anut di rumah dan pendidikan agama Katolik di sekolah.
Setelah dibaptis, salah satu temanku mengatakan bahwa agama Katolik itu banyak kekurangannya, dan dia juga mengatakan sebuah kata yang menyiratkan bahwa aku adalah penganut agama Katolik kemarin sore sehingga tidak pantas berkomentar untuk menanggapi semakin tingginya serangan dari agama lain terhadap agama Katolik. Di dalam hati, aku hanya berucap bahwa biarlah agama Katolikku ini penuh dengan kekurangan sehingga kami umat-Nya semakin rendah hati dalam menjalankan ibadah kami, dan biarlah aku dicap sebagai penganut agama Katolik kemarin sore selamanya sehingga aku dapat terus belajar tentang indahnya mencintai Tuhanku dan sesama makhluk hidup lainnya dengan cara yang diajarkan oleh agama Katolik.


Bersama Romo Hani Rudi Hartoko setelah Proses Pembaptisan di Gereja Santa Theresia

Perjalanan spiritual dan rohaniku belum selesai. Aku percaya bahwa masih akan ada perjalanan spiritual dan rohani lain yang diberikan Tuhan yang tentunya akan tetap menarik dan berharga. Aku berterima kasih sekali bahwa Tuhanku yang sekarang ini mau menyediakan waktu-Nya yang berharga untuk mengetuk hatiku dan memanggilku dengan cara-Nya yang istimewa sekali melalui agama Katolik yang aku anut sekarang, dan pada akhirnya Dia pun tinggal di dalam diriku. Semoga Tuhan dan berkat-Nya ini selalu menetap didalam diriku selamanya.


Bersama para sahabat setelah Proses Pembaptisan di Gereja Santa Theresia


Sekali lagi, Tuhanku yang sekarang ini begitu baik. Aku mencintai-Nya. Terima kasih, Tuhanku yang baik.

Dei Gratia. Berkah Dalem. Semoga aku dan semua makhluk hidup di alam semesta ini selalu diberkati oleh kemuliaan dan keagungan Tuhanku yang baik hati sekarang dan selama-lamanya. Amin.