01 October 2012

Perjalananku di Sekolah Guru Yoga 2012



Aku sudah berlatih Yoga sejak tahun 2007. (http://astridamalia.blogspot.com/2008/12/yoga-nafas-dari-hidupku.html).
Setelah beberapa saat, banyak orang yang bertanya apakah aku tertarik untuk menjadi guru Yoga. Waktu itu, aku kok tidak yakin apakah aku memiliki keinginan untuk mengajar Yoga.

Pada tahun 2012, setelah aku menghadiri Bali Spirit Festival 2012, entah kenapa, aku mulai mencari tempat untuk melakukan Sekolah Guru Yoga. Ini mungkin karena ada panggilan dari dalam diriku untuk melakukan itu. Dan aku merasa sepertinya alam semesta telah menyiapkan segalanya bagiku untuk melakukan perjalanan yang akan mengubah cara pandangku terhadap kehidupan ini. Ini dimulai dari orang-orang yang aku kenal ketika aku menghadiri Bali Spirit Festival, yang pada suatu hari kelak ternyata menjadi orang-orang yang membantuku di dalam perjalananku ini. Ketika aku mencari Sekolah Guru Yoga, ada banyak sekolah yang menawarkan hal itu. Setelah membuat beberapa pilihan, ternyata hanya ada tiga sekolah di daftarku. Aku membuang pilihan yang pertama karena aku tidak mengenal gurunya. Aku juga membuang pilihan yang kedua karena harga sekolahnya terlalu mahal dan waktu sekolahnya kurang pas karena pada saat itu aku harus menghadiri pernikahan sahabat baikku. Satu-satunya yang tersisa di daftarku adalah Sekolah Guru Yoga oleh Cat Kabira. Tapi aku ragu apakah aku masih bisa mendaftar, karena sekolahnya itu sendiri akan dimulai dalam waktu tiga minggu. Agak terlambat nih, tapi kemudian aku berpikir mungkin masih bisa mencoba. Ketika aku menghubungi Cat Kabira melalui Facebook, hal yang mengejutkan adalah ternyata aku masih bisa mendaftar. Wah gila! Dan itu adalah awal dari perjalanan yang menarik dalam hidupku!

Sebelum terbang ke Bali dari Jakarta, aku sempat bingung mencari tempat tinggal di Ubud, tempat dimana sekolah guru yoga ini akan dilaksanakan. Tapi seorang teman yang aku temui ketika menghadiri Bali Spirit Festival menawarkan kepadaku untuk tinggal di tempatnya. Terima kasih ya, sahabatku tersayang. Jadilah aku terbang ke Bali seminggu sebelum sekolah dimulai untuk membiasakan diri tinggal di Ubud.

Pada saat upacara pembukaan Sekolah Guru Yoga, Cat Kabira sebagai guru utama di sekolah ini menyambut para siswa dan memperkenalkan guru-guru lain, seperti Kari Jacobsen dan Lindsey Wise. Jumlah siswanya adalah 22 orang, dan aku adalah satu-satunya orang Indonesia di sekolah ini. Paling tidak, Indonesia memiliki perwakilan di sana hahaha!

Sekolah ini diselenggarakan dari tanggal 13 Mei sampai dengan 18 Juni 2012. Lima minggu, dari Senin sampai Sabtu, dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Sangat intensif! Sekolah ini intensif karena harus memenuhi standar Sekolah Guru Yoga 200 Jam dari Aliansi Yoga di Amerika Serikat.




Kurikulum sekolahnya mungkin sama dengan sekolah guru yoga lainnya, seperti Filsafat Yoga, Pranayama (Pernafasan), Meditasi, Yoga Yin, Asana (Gerakan) Yoga, Yoga untuk Kehamilan, Yoga untuk Anak-anak, Yoga Nidra, dan lain-lain. Tapi dalam perspektifku sendiri, pengalaman dan perjalanan dalam sekolah inilah yang menakjubkan! Ini adalah pengalaman menakjubkan yang terjadi pada 22 siswa yoga yang datang dari seluruh penjuru dunia!






Setiap pagi, Cat Kabira memimpin kelas Asana Yoga Pagi. Dia mengajarkan kepada murid-muridnya untuk lebih berkonsentrasi pada perut sebagai pusat emosi. Biasanya, orang berpikir dengan otak dan hati mereka. Bagi Cat, tidaklah cukup untuk berpikir dengan otak dan hati. Cat mengatakan bahwa kita harus menyertakan perut kita dalam setiap aspek dari proses pengambilan keputusan. Apapun yang otak dan hati kita pikirkan, jika perut kita tidak merasa nyaman, maka kita tidak perlu melakukan apapun yang rencananya ingin kita lakukan. Aku benar-benar bisa merasakan metode pengambilan keputusan “dari perut” ini bekerja saat Upacara Berjalan diatas Api dilaksanakan.




Aku sudah meminta Cat dan Kari untuk menjelaskan tentang upacara ini sejak hari pertama aku datang ke sekolah ini. Dengan tersenyum, keduanya mengatakan bahwa aku tidak harus melakukannya jika merasa sangat takut untuk melakukan hal itu. Dan pada saat ketika Upacara Berjalan diatas Api ini berlangsung, apa yang terjadi kemudian adalah menakjubkan! Upacara ini dipimpin oleh Cat Kabira dan Dan Glynn. Upacara ini dibagi menjadi empat tahap. Kami memulai upacara dengan berdoa semoga upacaranya berjalan lancar, lalu membakar kayu dan batok kelapa, sambil menyanyikan beberapa lagu.

Pada tahap pertama, kami belajar untuk menenangkan perasaan geli kami ketika seseorang menggelitik kaki dengan sumpit. Pada tahap ini, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa ketika siswa lain menggerakkan sumpit di kakiku. Ya, aku memang tipe manusia yang mudah geli. Ya sudahlah, apa boleh buat ya hahaha.






Pada tahap kedua, kami belajar untuk mengalahkan ketakutan kami dengan membengkokkan besi baja yang biasa dipakai untuk bahan konstruksi bangunan yang ditempatkan di tenggorokan kami. Jadi, dua siswa menempatkan baja di tenggorokan mereka yang telah dilindungi oleh lipatan kertas dan berjalan menuju satu sama lain untuk membengkokkan baja sampai mereka bisa saling memeluk tubuh satu sama lain. Untuk hal yang satu ini, aku tidak takut sama sekali, namun tetap saja merasa sedikit sakit pada tenggorokan. Dan aku melakukannya dua kali!




Pada tahap ketiga, kami berjalan diatas pecahan botol. Pada tahap ini, rasa takut mulai hinggap ke pikiranku. Tapi karena siswa lainya bisa berjalan di atas kaca, kemudian aku bertekad untuk melupakan rasa takut dan mulai berjalan. Ketika aku berjalan di atas pecahan botol itu, secara mengejutkan aku merasa baik-baik saja! Rasanya seperti mendapakan pijatan refleksi di kaki saja. Dan aku melakukannya berkali-kali!




Pada tahap akhir, inilah waktu yang ditunggu-tunggu! Waktunya untuk berjalan di atas api! Pada tahap ini, aku merasa begitu takut dan sempat berencana untuk melarikan diri dari upacara ini. Pikiranku terus mengatakan bahwa api itu panas dan aku tidak boleh berjalan di atasnya. Kemudian aku bertanya pada siswa lain yang berani berjalan di atas api tentang bagaimana mereka bisa melakukannya. Mereka mengatakan kepadaku bahwa aku akan siap ketika aku sudah siap, dan hal lainnya adalah bahwa aku harus mendengarkan apa yang kurasakan di perutku. Jadi ini adalah pelajaran yang nyata bagiku untuk mendengarkan perutku. Akhirnya, aku menunggu sampai perutku siap dan mulai mengumpulkan keinginan untuk berjalan di atas api. Ketika akhirnya aku berjalan di atas api, aku merasa sepertinya aku telah menaklukkan rasa takut dalam diriku. Dan aku melakukannya berulang-ulang, mungkin sampai 10 kali bolak-balik. Sepertinya aku jadi kecanduan hahaha!




Pelajaran yang kudapat dari hal ini adalah jika aku bisa bersikap tenang dan rileks, aku bisa mengkonsentrasikan diri untuk mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tidak peduli bila pikiran dan hati mengatakan bahwa tidak mungkin bagiku untuk melakukannya, tetapi jika perutku tenang dan rileks, maka selalu ada kemungkinan bagiku untuk melakukannya!
Terima kasih, Dan dan Cat, yang telah membangun kekuatan dan kepercayaan diri di perutku!




Cat Kabira juga mengajarkan kepada kami untuk menghargai alam, terutama pada saat Bulan Baru dan Bulan Purnama. Untuk itulah mengapa sekolah guru yoga ini juga mengadakan Upacara Bulan Baru dan Upacara Bulan Purnama. Berdasarkan hasil penelitian, 80% dari tubuh manusia terdiri dari air. Dan kita tahu efeknya Bulan terhadap air di laut. Berdasarkan fakta ini, ada kepercayaan untuk menghormati Bulan Baru dan Bulan Purnama dan bagaimana peristiwa ini dapat mempengaruhi tubuh dan perasaan kita. Pada Upacara Bulan Baru, kami membakar lilin dan menetapkan niatan kami dengan menulis dan membuat tanda pada lilin untuk setiap niat yang kita inginkan. Pada Upacara Bulan Purnama, kami pergi ke sebuah villa di Gianyar yang memiliki air terjun yang terletak di bawah villa tersebut. Kami berjalan ke mata air dan air terjun disana dan mencuci tubuh kami dengan air dari mata air dan air terjun tersebut.




Kami belajar tentang Anatomi dengan James Newman. Ini adalah mata pelajaran paling sulit karena aku tidak mengenal betul nama-nama bagian tubuh manusia, tapi mata pelajaran ini adalah yang paling berguna karena aku belajar banyak tentang beberapa cedera yang mungkin terjadi pada tubuh manusia. Jika aku bisa mendeteksi cedera dan kelemahan di tubuh seseorang, maka aku bisa menyarankan gerakan yoga yang tepat untuk mereka dan memberikan pilihan yang tepat untuk mereka. Bagian yang menakjubkan adalah bahwa James menemukan beberapa kelemahan dalam tubuhku dan menyarankan beberapa penyesuaian untuk gerakan yogaku untuk memperbaiki kelemahan itu. Dan ternyata berhasil! Di masa lalu, aku belajar dengan cara yang salah tentang “headstand” dan James memberitahuku tentang trik yang tepat untuk melakukannya. Dan coba tebak apa yang terjadi? Ya, akhirnya aku bisa melakukan gerakan headstand yang sempurna untuk pertama kalinya. Ah senang rasanya!
Terima kasih, James, yang telah memperbaiki gerakan yogaku dan mengajarkan untuk makin berlatih intensif untuk memperbaiki kelemahanku.




Kami belajar tentang Yoga Acro dengan Bex Tyrer dan Carlos Romero. Yoga Acro adalah melakukan gerakan yoga dengan pasangan atau dengan beberapa orang. Aku telah menulis tentang Yoga Acro pada ceritaku sebelumnya di: Pengalamanku Berlatih Yoga di Bali Spirit Festival 2011 - 2012.
Di kelas ini, aku menantang ketakutanku sendiri untuk menjadi seseorang yang menjadi penopang. Dengan kaki yang kecil, aku tidak cukup percaya diri untuk mengangkat seseorang dengan kakiku. Tapi setelah beberapa kelas Yoga Acro, akhirnya aku bisa mengangkat seseorang, bahkan untuk beberapa menit! Aku bisa merasakan sekali bahwa panduan dari Bex dan Carlos dan dukungan dari siswa lain benar-benar membangun percaya diri di dalam diriku. Memang Yoga Acro adalah tentang kemitraan dan bekerja sama dengan masyarakat. Aku suka banget dengan filosofinya!
Terima kasih, Bex dan Carlos, yang telah mengajarkan rasa kebersamaan dan motivasi untuk menyebarkan cinta dan kasih sayang kepada orang lain.




Kami belajar tentang Yoga Yin dan Yoga Nidra dengan Kari Jacobsen. Yoga Yin menargetkan lapisan jaringan ikat di dalam tubuh melalui garis pasif yang dimiliki oleh tubuh. Bagiku, Yoga Yin adalah seperti mendapatkan pengobatan akupunktur dalam tubuh tanpa jarum.
Yoga Nidra adalah eksplorasi bergerak melalui tingkat kesadaran yang berbeda. Bagiku, Yoga Nidra adalah seperti bepergian tanpa bergerak.
Menurut pendapatku sendiri, Yoga Yin dan Yoga Nidra memiliki kemampuan untuk memperlambat lalu lintas sibuk di tubuh dan memberikan rasa damai dalam tubuh kita. Setelah berlatih Yoga Nidra dan Yoga Yin, aku pun tertidur lelap hahaha!
Terima kasih, Kari, yang telah mengajarkan kelembutan di gerakan yoga yang ini. Semakin lembut kita melakukan gerakan yoganya, maka semakin kuatlah tubuh kita!




Kami belajar tentang Yoga untuk Anak-anak dan Yoga untuk Kehamilan dengan Lindsey Wise. Yoga untuk Anak-anak adalah tentang memperkenalkan gerakan yoga kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan. Kami menggunakan lagu, kartu dan permainan di dalam Yoga untuk Anak-anak ini.
Yoga untuk Kehamilan dipersiapkan khusus untuk ibu hamil yang masih ingin berlatih yoga.
Terima kasih, Lindsey, yang telah mengajarkan pelajaran yang indah.




Sekolah ini juga mengajarkan kepada kita tentang bagaimana caranya mengajar kelas yoga. Iya tentu sajalah hahaha! Pengalaman pertamaku untuk mengajar kelas yoga di dalam sekolah ini adalah sebuah bencana! Waktu itu, aku tidak bisa mengatakan apa-apa karena tenggorokanku seperti terkunci dan aku tidak bisa bersuara sedikit pun! Aku tidak tahu harus berkata apa sampai Cat Kabira memintaku untuk mengatakan "Utkatasana". Aduh Tuhan, mati deh hahaha! Pengalaman ini membuat aku belajar bahwa mengajar kelas yoga adalah bagian yang paling sulit untuk dilakukan. Yang dibutuhkan adalah karisma untuk membuat orang lain mau melakukan apa yang kita katakan, sebuah memori yang kuat untuk mengingat semua urutan gerakan yoganya, kesediaan untuk berbagi pengetahuan tanpa henti dan suara yang keras agar orang lain bisa mendengar suara kita.
Pengalaman kedua mengajar kelas Yoga Yin ternyata sedikit lebih baik dari yang pertama. Aku tidak bisa lupa betapa konyolnya aku waktu itu! Aku membawa buku catatan agar tidak lupa dengan apa yang harus diajarkan dan memasang timer di ponsel hanya agar aku bisa tepat waktu. Konyol sih, tapi berguna sekali lah hahaha!




Pengalaman ketiga mengajar kelas Yoga untuk Anak-anak ternyata sangat menyenangkan sekali! Jadi beberapa anak-anak dari panti asuhan diundang ke kelas kami. Sebagai guru yoga, kita perlu memperkenalkan mereka tentang yoga. Anak-anak ini begitu manis dan lucu, sampai-sampai aku senang sekali menggoda mereka dengan berkejar-kejaran dengan mereka. Sangat menakjubkan untuk mengetahui bahwa anak-anak ini mengikuti permainanku. Ternyata mereka juga begitu senang menggodaku juga! Hore! Anak-anak ini sangat antusias untuk mengikuti gerakan Yoga untuk Anak-anak. Saat-saat yang paling mengharukan adalah ketika mereka menyanyikan tiga lagu untuk berterima kasih kepada kami untuk mengajarkan yoga pada mereka. Anak-anak ini memilihku sebagai orang pertama yang mendengarkan lagu-lagu mereka. Aduh terharu banget! Aku baru sadar bahwa ternyata aku bisa meninggalkan kesan yang mendalam di dalam pikiran mereka. Buat adik-adik kecilku tersayang, aku sayang kalian juga ya!
Dan pengalaman mengajar terbaikku adalah pada Tugas Akhir untuk mengajar kelas yoga. Pada tugas akhir ini, karena aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama di kelas mengajar sebelumnya, aku berlatih dengan kerasnya. Aku bahkan meminta teman-teman yang lain untuk memperbaiki bagianku, suaraku dan panjangnya waktuku. Ada beberapa saran dari teman-teman yang membuat aku menjadi lebih baik. Bahkan setelah berlatih dengan sangat keras pun, aku masih khawatir jika tidak bisa mengajar dengan baik. Satu hari sebelum tugas akhir tersebut datang, aku melepaskan kekhawatiran dengan pikiran bahwa aku telah berlatih dengan baik. Jadi di Hari-H, apa yang terjadi adalah hal yang menakjubkan! Akhirnya, aku bisa mengajar dengan lancar, tenang dan rileks, Suaraku pun terdengar lebih baik, bahkan terdengar lebih keras! Sangat keras! Waktu itu, aku masih gugup, tapi aku menutupi perasaan gugup dengan beberapa lelucon yang membuat siswa lain tertawa. Dan ketika Cat Kabira, Kari Jacobsen dan Lindsey Wise memberikan tanggapan mereka tentang kelas yang kuajarkan, aku merasa seperti menjadi orang baru. Ya, aku masih menerima beberapa kritikan tentang kelas yang kuajarkan, tentu saja aku tidak sempurna, tetapi mereka mengatakan bahwa aku membuat kemajuan besar dan sangat hebat. Aku sangat tersentuh oleh pujian dari para guru. Aku berharap mereka tahu bahwa aku melakukan yang terbaik bukan hanya untukku, tapi untuk mereka juga. Aku merasa sangat terhormat untuk belajar yoga dari mereka!
Aku juga menerima beberapa kata pujian dari siswa lain yang menggambarkan kepribadianku di kelas. Mereka berkata bahwa aku itu: unik, memotivasi, lucu, senang bermain, bersuara besar dan jernih, mampu menyesuaikan diri, kreatif, fokus, memiliki energi yang besar, kuat, perpaduan antara tegas dan lembut, mendominasi, ringan, penuh kasih, dan memiliki cara untuk membuat gerakan yang susah menjadi mudah. Aku cukup senang mereka bisa menikmati kelasku dan bahwa kepribadianku bisa membuat mereka tertawa dan tersenyum. Jadi ternyata, jiwaku itu adalah menyenangkan dan menggembirakan. Ah senangnya!




Kami juga belajar tentang Terapi CranioSacral dengan James Newman dan Cat Kabira. Terapi CranioSacral adalah bentuk penyembuhan yang lembut dan mendalam yang membantu kemampuan alami tubuh untuk memperbaiki diri. Tidak ada penyaluran atau penempatan energi, karena Terapi CranioSacral bekerja dengan energi yang sudah ada. Jadi, sebagai Terapis, tugasku adalah memfasilitasi penerima terapi untuk menyembuhkan diri sendiri. Pada awalnya, aku tidak mengerti tentang terapi ini dan tidak tahu apa yang harus dilakukan di kelas ini. Tapi ketika aku terus berlatih untuk meningkatkan kepekaan tangan dan hati untuk mendengarkan, aku mulai mengerti tentang terapi ini. Itu benar-benar pengalaman yang baik untuk "mendengar energi" dari si penerima terapi.
Terima kasih, James dan Cat, yang telah meningkatkan kemampuan dan karunia dalam diriku melalui Terapi CranioSacral ini.

Ada juga mata pelajaran lainnya dalam sekolah ini, seperti Kirtan Yoga oleh Jo dan Edo, "Singin Bowl" oleh Awahoshi Kavan, “Chaneling” oleh Jana Johnson dan Filsafat Yoga oleh Emil Wendel. Terima kasih, Edo, Jo, Awahoshi, Jana dan Emil, yang telah membagi pengetahuan kalian yang berharga.






Berita terbaru: Sedih rasanya mengetahui bahwa salah satu guruku, Jo, telah meninggalkan kami pada bulan Oktober 2015 karena penyakit kanker perut yang dideritanya. Semoga Jo dapat beristirahat dengan tenang saat ini. Amin. 

Dan .... Setelah lima minggu penuh melakukan sekolah ini, waktunya bagi kami untuk lulus dari sekolah ini. Dan aku tahu bahwa sertifikat bukanlah hal yang terpenting. Yang paling penting adalah bahwa semua siswa dilahirkan kembali dengan jiwa yang baru dan pengetahuan yang baru!










Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Cat Kabira sebagai guru utama di sekolah ini dan kepada para guru lainnya (Kari Jacobsen, Lindsey Wise, James Newman, Bex Tyrer, Carlos Romero, Dan Glynn, Jana, Emil Wendel, dll) untuk pelajaran yang telah diberikan. Para guru ini adalah bintang rock dalam sebuah band rock terbesar di duniaku! Iya, guru-guru ini telah mengguncang duniaku! Terima kasih banyak untuk semuanya. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku mencintai kalian semua.

Namaste!